Ahad , 29 October 2017, 10:22 WIB

Mengubah Minda

Red: Elba Damhuri
Haedar Nashir
Haedar Nashir

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Haedar Nashir

Apa yang terjadi manakala sehari-hari pikiran orang Indonesia dijejali isu-isu keras yang menegangkan urat syaraf? Sebutlah kosakata "radikal, ekstremis, teroris, intoleran", dan beragam diksi negatif lain yang menyesakkan rongga dada.

Lebih-lebih bila produksi ujaran-ujaran seram itu setiap hari keluar dari lisan ulama dan tokoh agama dengan nada ingar-bingar. Para pejabat negeri di sejumlah tempat pun tidak kalah fasih mendaur ulang kalimat yang sama menegangkan.

Awas anti-Pancasila, antikebinekaan, anti-NKRI, dan segala anti lainnya yang mengingatkan kita pada pola pikir rezim Orde Baru di masa lalu. Indonesia seperti benar-benar di tubir jurang, nyaris seakan tidak ada kekuatan dari dalam yang dapat menjadi penyangga tegaknya Indonesia.

Sementara, pada saat yang sama, sebagian warga bangsa mulai muncul tindakan main hakim sendiri terhadap mereka yang berbeda paham dan golongan, hatta kepada sesama seagama. Menolak berdirinya masjid di lingkungan sesama umat Islam, malah ada yang tega membakar.

Mengusir warga seiman hanya karena beda paham dan difatwa sesat, padahal retorika ke ruang publik menyuarakan agama damai, moderat, dan rahmatan lil-'alamin. Lantas, di mana pengaruh dari ujaran kewaspadaan yang mengharu-biru itu kepada umat?

Nuansa sosial yang serbaparadoks itu perlu menjadi renungan yang jernih bagi penyebar dakwah, elite negeri, dan tokoh wibawa di mana pun berada. Semakin kencang beragam alarm dan peringatan tentang hal negatif di negeri ini, keadaan di masyarakat justru tak berbading lurus.

Lain di pikiran elite dan para pemimpin, beda pula yang bertumbuh di warga masyarakat. Pola pikir ekstrem ternyata tak mampu mengeliminasi ekstremitas. Deradikalisme tak mampu membendung radikalisme. Di sini mungkin cara pikir kita perlu diubah atau diperbarui.

Produksilah diksi kegembiraan dan kisah sukses anak-anak bangsa di seantero Tanah Air. Dalam bahasa Melayu, mengubah minda atau state of mind. Terlalu berlebihan memproduksi hal negatif, malah kenegatifan itu yang terjadi di masyarakat.

Boleh jadi bukan sekadar materi isu yang perlu dikaji ulang, tetapi intensitas dan takarannya yang perlu dievaluasi agar tak berlebihan, yang mengabaikan kita pada nalar sehat yang wajar dan proporsional.