Sunday, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 February 2018

Sunday, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 February 2018

Perppu Ormas: Terbukanya Kotak Pandora Hatta dan Ki Bagus

Kamis 26 October 2017 10:17 WIB

Red: Muhammad Subarkah

 Pasukan Asmaul Husna dan massa Aksi Tolak Perppu Ormas shalat zuhur berjamaah dipimpin   seorang imam daro peserta aksi massa,Ustadz Rokhmat S Labib ketua ex HTI selaku Imam shalat Zuhur di Gerbang Komplek Parlemen Senayan, Selasa (24/10).

Pasukan Asmaul Husna dan massa Aksi Tolak Perppu Ormas shalat zuhur berjamaah dipimpin seorang imam daro peserta aksi massa,Ustadz Rokhmat S Labib ketua ex HTI selaku Imam shalat Zuhur di Gerbang Komplek Parlemen Senayan, Selasa (24/10).

Foto: Republika/Singgih Wiryono

Oleh; Muhammad Subarkah*

Ada perasaan teriris melihat perdebatan yang terjadi saat sidang paripurna DPR yang membahas pengesahan Perppu Ormas. Di sana terlihat jelas betapa bangsa ini belum beranjak jauh. Elite politiknya terjebak dalam ‘dejavu’: memamah biak isu lama.

Ironi ini memerihkan dan membuat iritasi bangsa yang mengaku menjadi untaian jamrud di katulistiwa. Perdebatan di awal kemerdekaan tentang isu dasar negara, bentuk negara, posisi hak asasi manusia, yang dahulu bisa diakhiri dengan elegan kini tak ada lagi. Semua harus diakhiri voting, dan beda sekali dengan di masa lalu, ketika Sukarno bisa menjadi jembatan untuk mengakhiri jurang pendapat yang ada.

Maka, saya kembali teringat pada kata pujangga Jerman  Friedrich von Schiller yang kerap kali dikutip Bung Hatta ketika mengkritik merosotnya sikap kenegarawanan dan demokratis para pemimpin dan tokoh masyarkat Indonesia:Suatu zaman besar telah dilahirkan oleh abad. Tetapi, zaman besar itu hanyalah melahirkan manusia kerdil.

Nah, apa yang dikatakan mendiang Bung Hatta di arena sidang paripurna itu terlihat. Tak muncul sosok politisi kelas  negarawan. Tak ada perdebatan bermutu, tak ada pencerahan, tak ada kalimat yang bernas mencerahkan. Yang muncul hanyalah nafsu menguasai karena silau terhadap kekuasaan yang dianggapnya di atas segalanya.

Jargon H Agus Salim memimpin adalah berkorban dan menderita kini tinggal kenangan serta menghilang di dalam benak politisi penerusnya. Lenyap tak berbebas bagai asap tertiup angin.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES