Kamis , 26 October 2017, 03:31 WIB

Beban Utang Luar Negeri Indonesia

Red: Elba Damhuri
Utang/ilustrasi


Pada titik ini, tidaklah berlebihan jika Indonesia benar-benar sedang berdiri di tubir jurang yang sedikit salah langkah saja akan menyebabkan kita tidak lagi berpeluang keluar dari situasi krisis dalam tempo cepat dan dengan selamat.

Menkeu Sri Mulyani menyatakan, beban utang yang harus dibayar anak-cucu kita sebetulnya masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lainnya, seperti Amerika Serikat dan Jepang. Di Amerika Serikat, setiap kepala menanggung utang 62 ribu dolar AS. Sedangkan, di Jepang, tercatat sebesar 85 ribu dolar AS per kepala. Sementara itu, di Indonesia, beban utang yang harus ditanggung per kepala rakyat Indonesia hanya 997 dolar AS, jauh lebih kecil daripada Amerika Serikat dan Jepang.

Meski secara absolut beban utang luar negeri yang menjadi tanggungan Indonesia masih lebih kecil daripada Amerika Serikat dan Jepang, tetapi persoalannya kemudian, apakah kondisi perekonomian Indonesia ke depan masih bisa diandalkan dan solid untuk tetap mampu mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi dan menjamin kelangsungan produktivitas komoditas yang mampu menghasilkan devisa?

Pertanyaan ini penting dikemukakan, sebab sebagai negara yang pernah terjerembap dalam situasi krisis yang berkepanjangan, kita telah banyak belajar bahwa fondasi ekonomi Indonesia sesungguhnya masih sangat rapuh.

Berbeda dengan fundamentalisme perekonomian Jepang yang kokoh, di Indonesia fondasi ekonomi yang menjadi penyangga keberlanjutan ekonomi nasional lemah karena tidak didukung profesionalisme para pelaku ekonomi yang tangguh bersaing di pasar global.

Sisa-sisa warisan budaya-politik dari masa lalu yang cenderung mencetak pengusaha yang lebih banyak hanya menjadi jago kandang, menyebabkan peluang Indonesia untuk dapat tetap //survive// di masa depan menjadi kecil.

Sementara itu, jumlah utang yang terus bertambah, alih-alih dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan kegiatan produktif, dalam kenyataannya sebagian besar utang baru dari luar negeri lebih banyak dimanfaatkan untuk membayar atau mencicil utang masa lalu. Tidak menutup kemungkinan APBN kita ke depan terancam jebol ketika beban tanggungan utang luar negeri tak segera ditemukan jalan keluar yang signifikan.

Berbagai upaya yang sifatnya tambal sulam, menggali lubang baru untuk menutup lubang yang lama, niscaya akan membuka risiko Indonesia terjerumus dalam pusaran dan belitan utang luar negeri yang tak berkesudahan.

Akibat utang luar negeri yang tak segera tertangani, selain pemerintah terus harus berburu untuk memperoleh utang baru, cepat atau lambat anggaran negara akan benar-benar terancam dan bukan tidak mungkin kebutuhan anggaran rutin tidak dapat terbayar tepat waktu. Pada titik ini, kredibilitas pemerintah benar-benar dipertaruhkan untuk segera mencari exit strategy yang efektif dan signifikan.