Rabu , 25 October 2017, 07:58 WIB

DKI dan Ranjau Politik Buat Anies-Sandi

Red: Muhammad Subarkah
Anis-Sandi Tinjau MRT. Gubernur DKI Jakarta dan Wakil DKI Jakarta Anies Baswedan - Sandiaga Uno saat meninjau proyek Mass Rapid Transit (MRT) di Stasiun MRT Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (20/10).

Langkah sulit "move on" bagi serdadu Ahok ini bertumpu pada sejumlah alasan akut: pertama, besarnya modal saat pilgub. Kabarnya biaya mahar dan operasional politik menembus angka triliyunan.

Kedua, terancamnya proyek reklamasi yang bernilai 500 T. Anies-Sandi dalam sejumlah pernyataannya tegas akan menghentikan proyek raksasa yang beraroma asing dan aseng itu.

Ketiga, isu agama yang mewarnai kampanye dianggap telah menjadi penyebab kekalahan Ahok. Keempat, sinergi kekuasaan terkait persiapan pilpres 2019. Pilgub DKI diasumsikan menjadi intro dari pilpres 2019, terutama terkait basis massa, kekuatan issue dan sumber-sumber pembiayaan kandidat. Reklamasi dan belakangan diaggap telah berevolusi menjadi Meikarta bisa menjadi sumber capital yang potensial untuk berkompetisi di pilpres 2019.

Keempat alasan tersebut bisa dipahami sebagai hambatan serius bagi para pengusung dan pendukung Ahok untuk bisa berdamai dengan kekalahan.

Sejumlah peristiwa yang dipahami masyarakat sebagai peristiwa-peristiwa ganjil di atas seperti sinyal adanya ranjau yang sengaja ditebar oleh lawan politik untuk menjebak setiap langkah dan kebijakan Anies-Sandi dalam memimpin Ibu Kota kedepan. Di satu sisi ini berpotensi akan mengganggu kinerja Anies-Sandi. Tetapi di sisi lain ini justru memberi kredit point bagi Anies Sandi.

Dengan kasus demi kasus di atas, Anies  -Sandi akan punya peluang merawat konstituennya dan bahkan dapat menampung limpahan simpati baru dari masyarakat, tidak saja Jakarta, tapi seluruh negeri ini. Point ini merupakan potensi besar untuk dikapitalisasi menjadi tiket maju ke pilpres 2019. Semakin banyak perlawanan yang off side dari kubu lawan justru akan melambungkan nama Anies-Sandi.

Berbeda dari pertandingan olahraga seperti tinju dan sepakbola yang memiliki teori menyerang merupakan pertahanan terbaik, namun dalam dunia politik, merangkul lebih efisien dari pada memukul. Siapa yang banyak memukul ia akan menjadi pecundangnya.

Sebaliknya, kemampuan berkomunikasi politik dengan cara merangkul terbukti membuat banyak orang menjadi pemenang. Dalam filosofi jawa, cara efektif menundukkan orang dengan cara dipangku. Filsafat jawa sangat mempengaruhi karakter masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Tidak hanya berlaku untuk Anies, tapi semua masyarakat Indonesia jika dirangkul mereka akan memiliki rasa hormat dan segan. Tapi jika sering dipukul, seseorang akan memaksa keberaniannya untuk melakukan perlawanan.

Merangkul Anies secara politis jauh lebih efektif dari pada memusuhinya yang justru akan membuat namanya lebih besar dari yang diperkirakan. Anies adalah salah satu dari banyak bibit unggul yang dimiliki bangsa ini. Bibit ini akan tumbuh subur jika terus diberikan pupuk.

Memusuhi Anies ibarat menaruh kotoran yang akan berfungsi menjadi pupuk yang menyuburkan bibit unggul itu untuk segera tumbuh dan membesar. Alih-alih terkena ranjau, Anies justru akan menjadi calon pemimpin bangsa yang dibesarkan oleh lawan politiknya.

Anies berpotensi mengikuti jejak para pendahulunya yaitu SBY yang dibesarkan oleh kemarahan Megawati dan Jokowi yang diorbit oleh kekesalan Bibit Waluyo saat masih menjadi walikota Solo.

*Tony Rosyid, pakar filsafat dan Direktur Utama Graha Insan Cita.

TAG

Berita Terkait