Selasa , 24 October 2017, 12:08 WIB

Indonesia, Alternatif Baru Qatar

Red: Elba Damhuri
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani (kiri) tertawa disela-sela menyaksikan penandatanganan kerja sama kedua negara di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/10).

Dalam bidang ekonomi, Qatar tampak sangat berharap banyak agar Indonesia memainkan peranan lebih aktifnya dalam mengurangi efek negatif ekonomi. Di antara upaya yang bisa dilakukan adalah Indonesia dapat meningkatkan pasokan ekspor bahan-bahan makanan ke Qatar.

Seperti diketahui, 80 persen pasokan makanan Qatar berasal dari negara-negara tetangga Arab, dan hanya satu persen yang diproduksi di dalam negeri. Dengan adanya embargo, pasokan bahan makanan dari negara-negara Arab akan mengalami kendala dengan ditutupnya perbatasan darat oleh Arab Saudi. Terkait hal ini, selang beberapa hari setelah pemberlakuan embargo, Turki dan Iran menyatakan kesiapannya mengisi ‘kekosongan’ tersebut.

Namun, dalam menyikapi respons Turki dan Iran, lagi-lagi Qatar menghadapi dilema. Qatar tengah berupaya membangun citra dan mengambil hati pemimpin Arab lainnya dengan meminimalisi hubungan dengan Iran.

Sementara dengan Turki, Qatar tidak berharap terlalu banyak pascamemburuknya hubungan Turki dengan Amerika Serikat beberapa hari lalu dan keterlibatan terus menerus Turki dalam konflik Suriah serta permasalahan referendum Kurdistan Irak.

Terkait dengan hal ini, menurut Dr Majid Rafizadeh, Presiden International American Council dan anggota Dewan Pengurus Harvard International Review, Pemerintah Qatar perlu mencari alternatif partner ekonomi dan perdagangan selain dengan Turki dan Iran, demi mengambil simpati Amerika, Eropa, dan negara-negara Arab lainnya.

Di tengah pencarian alternatif ekonomi pascapemberlakuan embargo, sebagai blessing in disguise, potensi investasi dan pariwisata antara Indonesia dan Qatar juga perlu dipertimbangkan untuk lebih dikembangkan.

Qatar sebagai negara eksportir gas alam terbesar di dunia dengan cadangan gas alam ketiga terbesar di dunia setelah Rusia dan Iran, di mana sekitar 14 persen teritorinya mengandung gas alam, dan bersama minyak, gas alam mampu menyumbang sekitat 60 persen dari GDP Qatar.

Pada 2012, Forbes menyatakan, penduduk Qatar merupakan penduduk terkaya di dunia dengan pendapatan per kapita lebih dari 88 ribu dolar AS pada 2010. Tentu indikator-indikator tersebut dapat lebih dimanfaatkan Indonesia untuk menarik investasi dari Qatar pada saat Qatar mengalami kendala berinvestasi di negara-negara Arab.

Potensi pariwisata Indonesia pun lebih bisa dipromosikan bagi warga Qatar, di mana berdasarkan pengamatan penulis, warga Arab, khususnya warga Qatar, lebih menyukai paket pariwisata yang melibatkan hijaunya alam, pegunungan, bebukitan, sesuai dengan kebalikan dari kondisi iklim dan geografis negara Qatar.

Meskipun jumlah penduduk Qatar tidak lebih dari dua juta orang, tidak boleh menjadi penghalang Pemerintah Indonesia dalam menggenjot pariwisata dan menarik turis dari Qatar.