Selasa , 24 Oktober 2017, 05:00 WIB

Panglima TNI dan Islam Indonesia

Red: Elba Damhuri
Grafis: Mardiah
Aksi dan kontroversial Panglima TNI
Aksi dan kontroversial Panglima TNI

Sebaliknya, secara sistematis, justru terkadang terlibat dalam upaya pengaburan sejarah peran politik Islam dan memusuhi Islam. Gatot tentu menyadari, impact dari Pilkada Jakarta beberapa waktu lalu, di tengah masyarakat masih terjadi polarisasi yang tajam.

Menyampaikan fakta sejarah terkait peran politik umat Islam dipastikan akan mendapat cibiran dan bahkan celaan dari mereka yang selama ini berpikir ahistoris, secara sistematis berusaha mendistorsi peran politik umat Islam dan Islamofobia. Namun dengan berani dan mungkin juga didorong niatan untuk menyampaikan kebenaran, Gatot tak peduli dengan cibiran dan celaan atas sikapnya, termasuk tuduhan tengah bermanuver politik menjelang Pilpres 2019.

Simpati dan antusiasme umat Islam terhadap Gatot perlu didudukkan secara proporsional dalam konteks Islam Indonesia. Dan Islam Indonesia sejak dulu sampai sekarang nyaris tak mengalami perubahan watak. Islam Indonesia adalah Islam yang ramah dan sangat toleran.

Islam yang dalam pilihan politiknya sangat moderat. Jauh dari watak yang sering digambarkan kalangan Islamofobia sebagai Muslim intoleran, antikebhinnekaan, dan mau menghadirkan negara Islam.

Selagi tidak ada upaya sistematis dan demonstratif yang dipahami umat Islam sebagai upaya membenci dan melecehkan Islam, maka Islam Indonesia adalah gambaran umat Islam yang misalnya dari sisi pilihan politiknya sangat moderat dan cair.

Sekadar bukti, sejak Pemilu 1999, partai pemenang pemilu selalu berasal dari partai nasionalis, baik nasionalis sekular seperti PDI-P, maupun nasionalis religius seperti Partai Golkar dan Partai Demokrat. Banyak juga anggota legislatif yang non-Muslim justru terpilih di daerah basis Muslim. Begitu pun dalam pemilihan presiden, umat Islam bisa akrab, bersahabat, dan memilih sosok Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, termasuk Prabowo Subianto.

Dalam pendekatan Clifford Geertz, keempatnya rasanya sulit dikategorikan sebagai santri. Fakta ini menegaskan, umat Islam Indonesia sangat moderat dan cair. Selain memilih partai Islam, umat Islam pun tidak alergi memilih partai di luar partai Islam. Begitu pun dalam hal pilihan calon presiden.

Memahami Islam Indonesia pada ranah politik itu sederhana. Selagi tidak menyinggung dan melecehkan akidah umat Islam, maka Islam Indonesia bisa bersahabat dengan siapapun. Namun kalau akidah umat Islam sudah diganggu, maka siapapun akan dilawannya.

Kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pilkada Jakarta 2017 menjadi bukti nyata. Ahok dan terlebih pendukungnya dinilai telah melecehkan akidah umat Islam. Dan ketika umat Islam sudah tersinggung dan dilecehkan, maka seberapa banyak kekuatan modal ekonomi tak akan sanggup menaklukan dan mengalahkan umat Islam.