Selasa , 24 Oktober 2017, 05:00 WIB

Panglima TNI dan Islam Indonesia

Red: Elba Damhuri
Grafis: Mardiah
Aksi dan kontroversial Panglima TNI
Aksi dan kontroversial Panglima TNI

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ma’mun Murod Al-Barbasy, Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Beberapa waktu lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi pembicara pengajian rutin bulanan Muhammadiyah, bersama Salim Said dan Hajriyanto Y Thohari. Hadir Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir dan mantan ketua umum Din Syamsuddin.

Jamaah memadati seluruh bagian Aula KH Ahmad Dahlan. Karena banyaknya jamaah, sampai-sampai digelar nonton bareng (nobar) di Masjid At-Taqwa, kantor Muhammadiyah. Di beberapa daerah, pimpinan daerah dan pimpinan cabang juga menggelar nobar.

Antusiasme jamaah ini karena mereka ingin melihat langsung ceramah Gatot terkait relasi Islam dan militer dalam konteks politik kebangsaan. Dalam pandangan warga Muhammadiyah dan diyakini juga kebanyakan umat Islam lainnya, Gatot mempunyai langgam kememimpinan berbeda dan bahkan kontras dengan mantan-mantan panglima TNI sebelumnya, terlebih sejak pasca-Orde Baru.

Ini terlihat dalam mendudukkan relasi Islam, militer, dan negara, yang terbaca dari pernyataannya dalam beberapa bulan terakhir. Pernyataan Panglima dianggap proporsional meski kalangan Islamofobia menilainya sebagai bentuk ‘keberpihakan’ kepada umat Islam.

Terdapat beberapa sikap Gatot yang dinilai “berpihak” pada Islam. Pertama, sikapnya jelang Pilkada Jakarta, termasuk pernyataan-pernyataannya seputar Aksi Damai 411 maupun 212 yang orang menganggapnya pro Islam.

Kedua, perintah kepada jajaran TNI untuk menggelar nobar Film G30S/PKI. Perintah ini mendapat dukungan umat Islam, terlihat dari antusiasmenya dalam menggelar nobar Film G30S/PKI di banyak daerah.

Perintah ini bahkan berhasil “memaksa” Presiden Joko Widodo ikut nobar di Markas Korem Suryakencana, Bogor. Ketiga, seakan ingin mempertegas sikapnya, dalam peringatan HUT TNI ke-72, Gatot menghadirkan KH Sholeh Qosim, veteran dan anggota Laskar Hizbullah.

Dengan hadirnya KH Sholeh, seakan Gatot ingin mengatakan, KH Sholeh adalah sedikit saksi sejarah yang masih hidup yang bisa menjelaskan relasi kedekatan umat Islam dengan negara, khususnya militer pada periode awal kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya saat menyampaikan ceramahnya di Muhammadiyah, dalam berbagai kesempatan, Gatot banyak menguraikan sumbangsih umat Islam dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Termasuk menyampaikan soal sumbangsih umat Islam dalam pembentukan Angkatan Perang Indonesia. Gatot mengungkapkan, sumbangsih umat Islam luar biasa melalui laskar seperti Hizbullah dan Sabilillah, merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Ulama di Jawa Timur membuat Resolusi Jihad yang berhasil membakar semangat arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945 dan daerah lainnya. Jenderal Sudirman juga berasal dari santri, kader Pandu Hizbul Wathan dan guru sekolah Muhammadiyah. Dalam berbagai kesempatan, fakta-fakta sejarah ini secara lantang disampaikan oleh Gatot.

Sikap dan pernyataan-pernyataan Gatot sebenarnya tak ada yang istimewa, biasa-biasa saja. Gatot hanya menyampaikan ulang fakta sejarah terkait relasi dan sumbangsih umat Islam, terutama dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Juga terkait pembentukan tentara nasional. Fakta sejarah inilah yang selama ini ditutup-tutupi secara rapat kalangan Islamofobia yang benci, takut, dan alergi terhadap Islam, yang tersebar di mana-mana, termasuk di kalangan militer. Sikap Gatot istimewa karena “berani” menyampaikan fakta sejarah apa adanya.

Sejak Alamsyah Ratu Prawiranegara yang kerap menegaskan, Pancasila adalah pengorbanan dan hadiah terbesar umat Islam untuk Indonesia, rasanya baru kali ini ada “jenderal penuh” yang mempunyai keberanian “kampanye” menyatakan hal serupa. Selain Alamsyah dan Gatot, sejak Orde Baru sampai saat ini tak ada satu pun pejabat militer yang menyandang jabatan strategis “berani” menyampaikan fakta sejarah terkait peran politik umat Islam. Kebanyakan jenderal tidak atau setidaknya kurang peduli pada Islam.