Senin , 23 October 2017, 07:39 WIB

Adu Kuat Jokowi dan Megawati

Red: Muhammad Subarkah
Antara/Haryo Setyaki
Jokowi dan Megawati
Jokowi dan Megawati

Oleh: DR Tony Rosyid*

Jokowi itu petugas partai. Begitulah kira-kira kesimpulan normatif di partai berlambang banteng itu. Publik seolah ikut mengaminkan berita-berita media terkait dengan keputusan itu. Namun, apakah faktanya demikian?

Mencermati hubungan politik keduanya, teori dramaturgi Ervin Goffman tampaknya cocok untuk dijadikan sebagai alat analisis. Goffman menggambarkan kehidupan sosial sebagai sebuah drama kehidupan. Ada panggung depan (front stage) yang mempertontonkan hubungan formal, ada panggung belakang (back stage) yang menggambarkan situasi sesungguhnya.

Keputusan formal PDIP bahwa Jokowi adalah petugas partai telah ditunjukkan secara sempurna dalam bentuk hubungan harmonis diantara keduanya di depan publik, terutama ketika ada acara-acara formal yang diliput media. Sikap seolah saling mendukung diantara keduanya menjadi bagian utama pemberitaan yang berhasil disajikan melalui pidato-pidato formal di sejumlah kegiatan yang dihadiri oleh dua matahari di PDIP ini.

Inilah panggung depan (front stage) sebuah drama sosial politik yang dengan rapi dimainkan oleh keduanya.

Namun, bagaimana dengan panggung belakang (back stage) hubungan mereka berdua?

Publik masih ingat saat Budi Gunawan, jenderal polisi senior yang dijadikan sebagai calon tunggal kapolri. Sayangnya, nasib tidak berpihak, ketika Budi Gunawan harus segera berurusan dengan kasus korupsi di KPK. Meski akhirnya bebas di praperadilan, tapi kursi Kapolri oleh Jokowi sudah diberikan kepada orang lain.

Budi Gunawan adalah ajudan Megawati saat jadi presiden. Hubungan keduanya sangat dekat. Sebagian orang berkesimpulan bahwa Budi Gunawan adalah anak emas Ibu Megawati. Promosi menjadi kapolri tentu atas dukungan sepenuhnya dari Megawati. Bisa dipahami jika Megawati harus kecewa atas peristiwa itu.

Mega tidak menyerah. Saat Ahok, "adik kesayangan Jokowi" ini mancari dukungan partai untuk maju pilgub DKI 2016, Megawati melalui PDIP menyambutnya. Bersamaan dengan dukungan yang diberikan oleh Megawati kepada Ahok, Budi Gunawan diangkat menjadi ketua BIN. Tentu ini sulit diterima logika jika dianggap sebagai faktor kebetulan. Dalam politik yang berlaku bukan faktor kebetulan, tapi pertukaran sosial. You mau apa, gue dapat apa, istilah ilmiahnya: All contacts among men rest on the schema of giving and returning the equivalence (Wallace & Wolf, 1980:163).