Jumat , 20 Oktober 2017, 01:00 WIB

Pembakaran Mesjid dan Parade 'Kejahilan'

Red: Agus Yulianto
AP/Majdi Mohammed
Warga menyaksikan kerusakan yang terjadi akibat pembakaran masjid (Ilustrasi)
Warga menyaksikan kerusakan yang terjadi akibat pembakaran masjid (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Khairil Miswar *)

Serambi Makkah kembali berduka. Sekira pukul 20.00 WIB (17/10/17), sebuah balai dan area yang dipersiapkan untuk mendirikan Mesjid Taqwa Muhammadiyah Samalanga di Kabupaten Bireuen dibakar orang tak dikenal (OTK). Lahan berisi pancangan pondasi di Sangso tersebut pun dilalap api.

Seperti biasa, pelakunya adalah OTK. Istilah OTK mengindikasikan “ketidakjantanan” para pelaku setelah melakukan aksinya. Kondisi ini berbeda dengan mereka-mereka yang dilabel sebagai “teroris.” Seorang “teroris” nampak terlihat lebih jantan setelah melakukan aksinya, di mana tidak sampai 24 jam pascakejadian berlangsung, sebagian dari para “teroris” dengan “kesatrianya” mengumumkan bahwa mereka bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Pengakuan serupa ini – meskipun tindakannya tidak dapat dibenarkan, jauh “lebih baik” dari pelaku-pelaku kejahatan yang bersembunyi dalam kegelapan.

Tragedi di Samalanga bukanlah kejadian pertama di Aceh. Tragedi-tragedi serupa dengan pola berbeda terus berlanjut dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sebelumnya, prosesi pembangunan Mesjid Taqwa Muhammadiyah di Juli Bireuen juga sempat melahirkan ketegangan yang berdampak pada tertundanya pembangunan.

Apa yang terjadi di Samalanga hanyalah pengulangan saja. Gelora penolakan terhadap ormas keagamaan – yang oleh segelintir pihak dianggap sebagai pembawa pemikiran “Wahabi” terus saja berlangsung di Aceh. Seperti air laut – terkadang ia pasang, dan di lain waktu ia surut.

Puncak penolakan terhadap pemikiran dan lembaga yang diidentifikasi sebagai Wahabi di Aceh terjadi pada 2015 lalu dengan digelarnya “Parade Aswaja” – yang di kemudian hari diketahui mengandung muatan politis – dengan terlihatnya beberapa tokoh penggerak dalam kubu politik tertentu menjelang pilkada.

Pascapilkada di Aceh, isu Wahabi pun terlihat meredup – dan bahkan padam, meskipun baranya tetap menyala kecil menunggu hembusan angin untuk kemudian meledak semula. Dan bara yang terlihat padam pascapilkada tersebut kembali memercik di Samalanga. Bukan tidak mungkin, jika tindakan ini dibiarkan begitu saja, ia akan terus menjalar dan meluas.

Seperti biasa, media sosial di Aceh pun banjir komentar sehingga pro-kontra pun meletup ke udara. Secara pribadi, saya sepakat dengan komentar anggota Fraksi PA dari DPR Aceh – yang melalui status facebook-nya mengecam tindakan tersebut. Seperti disebut Kautsar, tindakan pembakaran areal pembangunan masjid di Samalanga sebagai perilaku memalukan.

Secara sosiologis, aksi pembakaran tersebut bukanlah letupan yang muncul tiba-tiba. Seperti gunung berapi, letupan tersebut pastilah diawali oleh proses panjang yang kemudian menuju titik klimaks. Bukan tidak mungkin ada pihak yang merasa terganggu dengan keberadaan Masjid Muhammadiyah di kawasan tersebut. Mungkin ada negosiasi yang gagal, sehingga aksi pembakaran pun terjadi.

Namun demikian, melakukan pembakaran dan perusakan terhadap harta benda orang lain, apalagi areal masjid adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam sudut pandang manapun. Tindakan ini tidak hanya melanggar hukum, tapi juga bertentangan dengan aturan syariat. Tindakan ini juga tidak sesuai dengan kearifan masyarakat Aceh yang mendahulukan musyawarah. 
  
Parade “kejahilan” yang menimpa area Masjid Taqwa Muhammadiyah di Samalanga harus segera disikapi dengan bijak oleh tokoh-tokoh agama di Aceh. Para ulama yang selama ini dianggap “kharismatik” juga harus menunjukkan kharismanya guna meredam segala potensi “konflik-mazhab” di tanah Aceh. Dan persatuan umat harus didahulukan dengan meninggalkan ego kelompok.

Pihak kepolisian selaku penanggung jawab terlaksananya ketertiban dan keamanan di setiap jengkal NKRI juga harus melakukan investigasi untuk kemudian melakukan penegakan hukum terhadap oknum pelaku yang telah meninggalkan “kewarasan”. Wallahul Musta’an.

Bireuen, 18 Oktober 2017.

*Penulis adalah Direktur POeSA Institute, Penulis Buku Habis Sesat Terbitlah Stress