Kamis , 19 October 2017, 06:00 WIB

Kunci Sukses Pembangunan

Red: Elba Damhuri
Republika.
Sri Mulyani, Menteri Keuangan.
Sri Mulyani, Menteri Keuangan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia

Pertemuan Tahunan Bank Dunia/Dana Moneter Internasional (WB-IMF) yang berlangsung pada 10-15 Oktober 2017 di Washington DC telah berakhir. Saya hadir sebagai gubernur Bank Dunia dan pimpinan Development Committee (DC Chair). Pada saat yang sama, juga dilakukan pertemuan menteri keuangan dan gubernur Bank Sentral negara G-20.

Ada yang berbeda dalam suasana pertemuan tersebut. Selain cuaca agak hangat, saat pertengahan musim gugur, juga pembahasan mengenai ekonomi dunia menunjukkan optimisme. Negara-negara di Uni Eropa untuk pertama kali menyampaikan bahwa ekonomi kawasannya membaik, demikian juga negara yang mengalami pukulan komoditas, seperti Rusia dan Brazil.

IMF melalui World Economic Outlook Oktober 2017 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global menguat menjadi 3,6 persen pada tahun 2017 dan 3,7 pada tahun 2018, dibandingkan pertumbuhan 3.2 persen pada 2016. Perdagangan dunia mulai bangkit, tapi produktivitas masih stagnan dan ketidakpastian geopolitik dan ancaman proteksionisme meningkat. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi seluruh negara di dunia untuk melakukan reformasi ekonomi dalam memperkuat momentum pemulihan ekonomi.

Masalah pembangunan yang menjadi pusat perhatian pada pertemuan tahunan saat ini adalah masalah penanganan pengungsi, yang dalam pidato pembuka Menteri Pembangunan dan Kerja Sama Internasional Yordania menyampaikan beban berat negaranya menanggung arus pengungsi dari Suriah dan peranan Bank Dunia, yang ikut membangun pusat pengungsian agar memiliki fasilitas pendidikan dan membangun industri untuk menciptakan kesempatan kerja bagi pengungsi, dan hasil industrinya dipasarkan di negara-negara Eropa.

Situasi di Yordania akan memiliki persamaan dengan Bangladesh yang menampung pengungsi Rohingya, Bank Dunia juga melakukan bantuan, baik di Bangladesh maupun Myanmar untuk membantu perbaikan kondisi sosial dan ekonomi para pengungsi. Selain masalah pengungsi akibat konflik, Bank Dunia juga membantu negara-negara yang mengalami musibah bencana alam melalui instrumen asuransi bencana alam terhadap negara-negara Karibia yang terkena topan badai dan Meksiko dengan musibah gempa bumi. Baik akibat konflik maupun bencana alam, pusat perhatian Bank Dunia adalah pada manusia, baik menolong situasi darurat maupun membangun kembali kehidupan mereka yang menjadi korban.

Presiden Bank Dunia menyampaikan tiga pilar utama untuk memperkuat ketahanan ekonomi suatu negara, yaitu meningkatkan inklusi keuangan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan investasi pada sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan. Kajian Bank Dunia membandingkan selama 25 tahun bahwa 20 negara yang lebih fokus pada pembangunan kualitas SDM memiliki korelasi kuat, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan tingkat pendapatan.

World Development Report-Bank Dunia memberikan pesan yang sangat penting bahwa sekolah tanpa proses belajar yang efektif dan benar akan menghilangkan kesempatan pengembangan diri bagi anak-anak. Kegagalan belajar dan mengajar di sekolah akan mencederai masa depan anak-anak dan generasi muda di seluruh dunia.

Bank Dunia menunjukkan kurang bermutunya pendidikan dasar dan menengah akan menghilangkan kesempatan anak-anak untuk menjadi manusia yang unggul di kemudian hari. Apalagi, dihadapkan dengan perbuahan teknologi yang akan mengancam kesempatan kerja. Studi mengenai kesempatan kerja dan jenis kerja di masa depan akan menjadi fokus penelitian Bank Dunia ke depan.