Selasa , 10 October 2017, 13:04 WIB

Tragedi Las Vegas dalam Opini Publik

Red: Agus Yulianto
Republika/Darmawan
Imam Besar New York Shamsi Ali
Imam Besar New York Shamsi Ali

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Shamsi Ali *)

Beberapa hari lalu terjadi kekerasan atau tepatnya pembantaian orang-orang tak bersalah, yang dalam ungkapan sebagian sebagai the deadliest shooting (penembakan terburuk) dalam sejarah Amerika modern. Minimal 67 orang meninggal dalam peristiwa itu dan lebih 500 lainnya mengalami luka-luka. Dan yang mengejutkan adalah ternyata pelakunya hanya seorang diri bernama Stephen Paddock.

Pembantaian orang-orang tak berdosa ini hingga detik inipun masih menjadi sebuah teka-teki yang membingunkan banyak orang. Pasalnya, pelaku adalah orang putih Amerika dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang cukup mapang. Ternyata pelaku dengan kriteria seperti itu (berkulit putih, mapan secara ekonomi dan berpendidikan) menjadikan para penyidik kesulitan untuk menemukan “motif” dari perlakuan jahatnya itu. Hingga detik ini baik pemerintah Amerika maupun media dan pengamat masih mengatakan: “motif behind the massacre is unknown” (motif pembunuhan ini tidak diketahui).

Saya sebagai bagian dari masyarakat Muslim Amerika, saat ini, tentu bisa legah. Bahwa di balik dari kesedihan bangsa Amerika, termasuk kami warga Muslim, kami tenang bahwa penembakan itu tidak dilakukan oleh seseorang yang bisa dicurigai Muslim.

Apalagi, kalau memang bergama Islam dan memiliki naman Arab. Sungguh sebelum semua terungkap secara pasti komunitas Muslim memang mengalami kekhawatiran yang sangat. Apalagi di saat-saat di bawah pemerintahan Donald Trump, saat ini, Islamofobia semakin meningkat, bahkan seolah mendapat justifikasi sistim (pemerintahan).

Di awal-awal kehebohan itu sempat ada rumor di kalangan media bahwa pelakunya adalah seorang muallaf dan isterinya bahkan seorang wanita asal Indonesia. Lambat laun berita itu tenggelam dengan sendirinya. Mungkin karena keterbukaan media agak berat untuk menyembunyikan realita atau fakta. Stephen Paddock adalah asli warga negara Amerika berkulit putih dan beragama non Islam. Isterinya juga bukan keturunan Indonesia, tapi seorang warga Amerika keturunan Filipina.

Dari semua hiruk pikuk itu, baik di media maupun di masyarakat kuas khususnya pemerintahan Amerika, tampak banyak ketidakjujuran. Bahwa pembunuhan massal Las Vegas ini membuka banyak fakta yang mungkin selama ini masih terselubung atau samar-samar. Betapa sebuah tragedi atau peristiwa kerap kali terbalik atau tepatnya dibalik untuk mendukung pesan sponsor tertentu. Jika kita ikuti secara dekat apa dan bagaimana reaksi yang terjadi setelah penembakan itu kita dapati beberapa ketidak jujuran sebagai berikut:

Satu, pembunuhan massal ini oleh media atau pemerintah dihindari sebisa mungkin untuk disebut sebagai teror. Hanya penembakan, pembunuhan, kekerasan, dan seterusnya. Dengan korban yang demikian besar baik yang meninggal maupun kuka, dan dilakukan kepada rakyat sipil, lalu apa yang menjadikannya bukan teror?

Bandingkan misalnya ketika ada seorang warga Amerika keturunan Afghanistan meninggalkan sebuah van di dalamnya ada sesuatu yang dianggap alat peledak. Van itu tidak meledak dan tidak juga seorang pun yang meninggal. Bahkan yang melaporkan peristiwa itu juga seorang Muslim. Tapi, sejak awal bahkan sebelum pelakunya ditangkap sekalipun, kata-kata “Islamic terror” menghiasi halam depan maupun breaking news media mainstream Amerika dan dunia.

Sebuah ketidakjujuran yang nyata di siang bolong yang didemonstrasikan oleh manusia-manusia yang justeru mengklaim sebagai pejuang HAM, kesetaraan dan keadilan. Seolah terorisme itu memang identik dengan agama tertantu atau ras tertentu di dunia ini.

Saya curiga dengan tidak diketahuinya motif pelakunya hingga saat ini, sedang terjadi justeru upaya pemutar balikan berita. Boleh jadi akan dipaksakan bahwa Stephen ini sedang mengalami goncangan kejiwaan misalnya. Tapi apapun itu semua sudah terbuka karena saudaranya sendiri telah mengatakan bahwa kakaknya itu hidup tenang, bahkan membantunya pindahan ke kota lain beberapa waktu lalu.

Kedua, sejujurnya dalam sejarah hitam Amerika, sebelum tragedi ini terjadi, pernah bahkan beberapa kali terjadi pembunuhan massal yang jauh lebih besar. Entah kenapa penembakan yang korbannya mayoritasnya adalah orang-orang Amerika kulit putih di Las Vegas ini justeru disebut-sebut atau dibesar-besarkan sebagai “the deadliest incident” (peristiwa terparah) dalam sejarah Amerika.

Ternyata setelah dipelajari lebih dekat dan jelas juga sedang terjadi ketidak jujuran.kita ambil saja sebagai misal apa yang dikenal dalam sejarah Amerika dengan “The bombing of Black Wall Street” atau peristiwa kekisruhan dan kekerasan di Tulsa Oklahoma yang ditujukan kepada warga Amerika kulit hitam. Mereka diserang bahkan dibom karena dianggap mampu berhasil dan membangun perekonomian mereka.

Peristiwa itu terjadi dalam bentuk warga Amerika kulit putih dengan menggunakan dinamit dan pesawat-peswat terbang membom kota itu dan menewaskan lebih dari 250 warga kulit hitam, termasuk mereka para homeless.

Dari kenyataan ini nampak di depan mata kita betapa sebuah peristiwa bisa direkayasa dan dibalik dari kenyataan yang sesungguhnya. Tentu belum lagi kita berbicara pembunuhan atau pembantaian manusia-manusia tidak berdosa di berbagai belahan dunia. Sehingga dalam press release saya sampaikan bahwa hidup manusia tanpa kecuali adalah suci dan dihormati (sacred and respected). Tiada beda antara orang putih atau hitam, Afrika atau Eropa, Timur Tengah atau Asia. Juga tiada beda antara Muslim dan non Muslim. Manusia adalah ciptaan termulia Tuhan. Dan karenanya memiliki darah yang sama kesuciannya.

Introspeksi

Apapun itu seharusnya tragedi Las Vegas ini menjadi sebuah pelajaran besar bagi Amerika. Pelajaran untuk kembali merenungi diri bahwa nama besar negara ini bukan jaminan untuk selalu “merasa benar  dan hebat”. Masanya negara ini kembali melakukan introspeksi dan menyadari bahwa banyak hal yang perlu dirubah, diperbaiki. Mungkin dalam bahasa agama perlu melakukan taubat nasuhah.

Dengan segala kehebatan Amerika sebagai super power, baik secara ekonomi maupun militer, Amerika juga tidak lepas dari berbagai kekurangan yang terkadang disadari atau tidak memperlakukan masyarakatnya. Ketimpangan ekonomi salah satunya adalah bentuk kekurangan yang sangat berbahaya di Amerika. Kekayaan negara ini ternyata berada dalam genggaman dua persen dari penduduknya.

Tapi sejujurnya dari sekian banyak hal yang Amerika perlu sadari melalui introspeksi itu adalah pentingny merubah prilaku atau tepatnya kebijakan Amerika ke negara-negara lain. Mungkin masanya bagi negara ini untuk berhenti mengeksploitasi berbagai konsep indah seperti demokrasi, kebebasan, hingga ke HAM untuk memporak porandakan bangsa lain. Amerika punya sejarah panjang dalam hal ini. Dari Amerika Latin, ke Afrika, Asia, hingga saat ini ke Timur Tengah. Iraq salah satunya. Dari negara kaya dan makmur menjadi negara kacau dan miskin karena apa yang dilakukan oleh Amerika di negara itu.

Tapi mungkin yang terpenting bagi Amerika saat ini untuk dilihat kembali (introspeksi) adalah arah pembangunan bangsa ini. Bahwa pembangunan ekonomi dan material secara umum tanpa dibarengi penguatan sendi-sendi spiritualitas akan membawa ketimpangan, bahkan kebobrokan dalam hidup. Tidak saja bahwa manusia akan kehilangan arah hidup yang alamai. Perhatikan kecenderungan seksual misalnya. Tidak saja bahwa kebebasan seks yang semakin tidak mengenal malu. Tapi juga semakin tidak mengenal batas apapun termasuk batas moralitas dan naturalitas. Maka terjadilah konsep keluarga yang keluar dari batas-batas naturalitas (alami).

Oleh karenanya, tragedi Las Vegas benar-benar harus membuka mata bagi bangsa Amerika. Tragedi ini telah menampar untuk mengingatkan segala kesalahan dan ketidakjujuran selama ini. Dari rekayasa defenisi teror, hingga kepada terabaikannya nilai-nilai spiritualitas dalam hidup. Jika tidak, saya justeru khawatir Amerika tidak akan jatuh karena intervensi orang lain. Tapi jatuh karena kegagalan dalam melakukan taubat kolektifnya. Semoga!

New York, 9 Oktober 2017

* Presiden Nusantara Foundation