Senin , 02 October 2017, 14:04 WIB

Upaya Mengobati Luka Pendidikan

Red: Agus Yulianto
Dokpri
Mega Saputra
Mega Saputra

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Mega Saputra *)

Jika kampus sepi akan kritik, sunyi akan interupsi, dan lesu akan diskusi, maka kampus telah menjadi ruang ibadah. Essensi kemanusiaan adalah ekpresi dan tindakan. Kehadiran lembaga pendidikan adalah untuk menjadi mata air inspirasi yang bisa memberikan referensi bagaimana peserta didik memilih jalan hidup dan tindakannya. Lembaga pendidikan seyogyanya dapat memfasilitasi peserta didik untuk dapat menemukan jati diri dan memberikan ruang bagi ekspresi kemanusianya bukan justru tidak memanusiakan manusia “dehumanisasi”.
 
Rentetan problematika di dunia pendidikan seperti praktik korupsi, guru yang mencabuli muridnya, murid yang memenjarakan gurunya menjadi berita hangat dan sexy untuk selalu diperbincangkan. Direktur Bimbingan Pemasyarakatan dan Pengentasan Anak Kemenkumham menerangkan, jumlah anak-anak yang terjerat tindak pidana hukum itu berjumlah sekitar 3.812 anak. Sedangkan, untuk permasalahan anak-anak dengan kategori pengalihan penyelesaian perkara anak dari pidana menjadi luar pidana (diversi) itu berjumlah 5.229 anak.

Tawuran pelajar yang bahkan merenggut nyawa, menjadi peristiwa yang rutin dan lumrah terjadi di tengah mayarakat. Indonesia bahkan dikejutkan dengan bencana moral yang melanda Kendari dimana banyak anak-anak yang menggalami gangguan mental dan fisik lantaran mengonsumsi pil PCC. Dilain sudut negeri, salah seorang murid SMA harus mengakhiri napasnya dengan dipaksa mengikuti ajang pertarungan Gladiator antar sekolah. Tumpukan persoalan pendidikan ini jelas memaksa pendidikan kita untuk mengoreksi dirinya untuk terbebas dari belenggu-belenggu pendidikan yang sekadar ceremonial.

Gempuran budaya pragmatis matrealistik yang dominan dalam dunia sekolah telah mendistorsi makna-makna essensisal pendidikan itu sendiri. Terinjeksikannya coorporat values dalam dunia pendidikan telah menggeser academic values yang seharusnya menjadi core values dari basis institusi pendidikan. Intansi pendidikan berbondong-bondong menjelma menjadi isntansi yang fasih bicara soal efisiensi, efektivitas, profit, produk, TQM, pasar kerja, dan lainnya yang berasal dari domain dunia ekonomi, sehingga sekolah gugup dan gagap dalam memperbincangkan persoalan tentang keadilan, multikulturalisme, kemanusiaan, kasih sayang, demokrasi dan berbagai permasalahan substansial lainnya.

Pendidikan dalam konteks transformasi sosial adalah berorientasi kepada pengembangan dan pemberdayaan manusia secara utuh dan holistik. Spirit pendidikan holistik ini, sejalan dengan apa yang diamanahkan undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang tujuan pendidikan yang istilah pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Mengembalikan pendidikan kepada fitrahnya adalah dengan menghadirkan pendidikan holistik. Kata holistik sendiri populer semenjak Smuts pada tahun 1926 dalam tulisannya yang berjudul Holism and Evolution. Pendidikan holistik bukan hanya sekedar berbicara persoalan nilai kuantitaif peserta didik atau capaian-capaian kalkulasi matrealistik sekolah, tapi juga membangun tatanan sosial sekolah yang bersumber pada spiritual, etika, moral, imajinatif, intelektual, budaya, estetika, dan mengarahkan manusia kepada jati diri yang utuh “insan kamil”.  

Pendidikan holistik adalah pendidikan yang diusung untuk membangun tatanan kehidupan yang utuh dan menyeluruh dengan memerhatikan potensi murid secara holistik sehingga dihasilkan peserta didik yang peka untuk memperbaiki berbagai permasalahan lokal maupun global. pendidikan yang memilki prinsip 3 R: relation (relasi), responsibility (tanggung jawab), reverence (menghormati) menjadi modal dalam menggembleng etika dan diri peserta didik yang hari-hari terlalu disibukkan dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikenal dengan calistung (baca, tulis, hitung).

Pendidikan holistik yang menghadirkan iklim pembelajaran yang humanis, menghargai perbedaan dan turut mengembangkan berbagai potensi pesert didik dapat menjadi ruang ekspresi bagi aktualisasi diri peserta didik. Sehingga pendidikan mampu melahirkan bukan sekedar lulusan tapi juga role model/teladan yang dapat memberikan sumbangsih bagi perbaikan bangsa, negara dan agama.


*) Pemerhati Pendidikan, Pendamping Keluarga Harapan Kemensos RI