Thursday, 6 Jumadil Akhir 1439 / 22 February 2018

Thursday, 6 Jumadil Akhir 1439 / 22 February 2018

'Kadang, Lebih Baik Disangka Yahudi daripada Muslim'

Senin 16 November 2015 16:07 WIB

Red: Ani Nursalikah

 Ratusan orang menghadiri do'a bersama untuk menghormati korban serangan teroris di Paris di Martin Place Sydney.

Ratusan orang menghadiri do'a bersama untuk menghormati korban serangan teroris di Paris di Martin Place Sydney.

Foto: abc news

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Malika Chafi yang bekerja untuk sebuah LSM marah ketika ditanya apa yang dirasakannya sebagai seorang Muslim terkait serangan teror Paris.

"Bagi saya, sangat tidak masuk akal mengatakan 'sebagai seorang Muslim'. Saya juga seseorang yang memberikan suaranya, konsumen, ibu, dan seseorang yang mencintai musik klasik. Saya terkejut bukan karena seorang Muslim, melainkan sebagai seorang warga negara," katanya di halaman Masjid Agung, Ahad (15/11).

"Ini bukan masalah Muslim, ini masalah polisi dan terorisme," Chafi menambahkan.

Nabil, staf di stadion Stade de France, tempat dua pelaku meledakkan bom bunuh diri menolak menyebut para penyerang itu 'jihadis' atau 'Islamis'.

"Mereka teroris. Saya hanya berjarak 100 meter dari ledakan pertama dan sebuah bom tidak akan membuat perbedaan antara Muslim dan Buddha. Itu tetap kejahatan," katanya.

Muslim di Prancis juga warga negara, sama seperti orang lain, kata dia, dan tidak harus memberikan pembenaran atas diri sendiri ketika serangan seperti itu terjadi.

(Baca: Usai Serangan Teror, Masjid di Prancis Dicoret-coret)

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES