Sabtu , 28 November 2015, 01:00 WIB

"Aku Bukan Aidit"

Red: Sammy Abdullah
Getty Images/Carol Goldstein
Suasana mencekam usai peristiwa 30 September 1965
Suasana mencekam usai peristiwa 30 September 1965

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy

 

Usia Abdul Rachman baru delapan tahun ketika peristiwa 30 September 1965 meletus di Ibu Kota Jakarta. Namun, Abdul Rachman mengingat betul bagaimana mencekamnya suasana setelah peristiwa yang disebut didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) itu.

Ketika dijumpai Republika.co.id di kediamannya di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan, Abdul Rachman bercerita soal kaitan dirinya serta keluarga dengan peristiwa berdarah itu. Selepas meminum air mineral yang tersaji di atas meja, ingatan Abdul Rachman menerawang pada peristiwa yang sudah berlalu 50 tahun itu.

Saat itu, huru-hara pecah di mana-mana. Abdul Rachman kecil yang tinggal di kawasan Senen, Jakarta Pusat, dilanda kepanikan. Sebab, rumahnya tak begitu jauh dari kantor PKI.

Diakui Abdul Rachman, dia dan keluarga bukanlah pendukung PKI. Sebaliknya, dia berasal dari keluarga Islam taat yang justru kerap mendapat teror dari partai berlambang palu arit itu. "Kami ini anti-PKI!" ucapnya dengan nada suara sedikit meninggi, Rabu (25/11).

Namun, ada satu hal yang membuatnya seakan-akan terkait dengan PKI. Ini karena nama belakangnya yang memakai label Aidit. Nama belakang Abdul Rachman identik dengan pemimpin PKI, Dipa Nusantara (DN) Aidit alias Achmad Aidit. Dialah manusia yang saat itu paling dicari di Indonesia seusai meletusnya peristiwa 30 September 1965.

"Sebenarnya, nama saya Abdul Rachman Aidid. Tapi ditulisnya Aidit. Ini soal penyebutan saja," ucapnya.

Tidak hanya Abdul Rachman, satu keluarganya pun memiliki nama belakang yang sama, Aidit. Kesamaan nama itu yang akhirnya membuat hidup Abdul Rachman dihantui ketakutan sejak 30 September 1965.

Pria berdarah Timur Tengah ini lantas menjelaskan bahwa nama Aidit atau Aidid yang dia sandang sejatinya merupakan sebuah marga yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Tidak hanya Abdul Rachman dan keluarganya yang menyandang nama marga itu, tetapi ribuan Aidit lain tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

(Gambar menunjukkan silsilah marga Aidid dalam Bani Alawiyin)

"Marga Aidit itu banyak di Sumatra dan Kalimantan. Jumlahnya mungkin ada ribuan," kata Abdul Rachman menjelaskan.

Menyandang nama Aidit membuat keluarga Abdul Rachman seperti berada di waktu dan tempat yang salah pada 1965. Alhasil mulai dari 30 September 1965 itu, keluarganya pun memutuskan untuk menghapus nama marga di setiap dokumen kependudukan yang mereka buat.

"Kami takut disangka punya kaitan dengan DN Aidit. Karena itu, nama marga Aidit tidak dicantumkan di ijazah atau dokumen-dokumen lain," kata Abdul Rachman.

Setelah tumbuh dewasa pada era Orde Baru, masih ada ketakutan di benak Abdul Rachman untuk menyebut nama marganya. Kala ada orang bertanya kepadanya mengenai nama marga, pria yang kini berprofesi sebagai pengusaha properti itu malah memakai nama marga sang ibu. "Kalau saat itu ada yang bertanya soal marga, awalnya saya mengaku bukan Aidit, tapi Shahab dari marga ibu," ucapnya.

Bertahun-tahun rasa tidak nyaman menggelayuti pikiran Abdul Rachman. Dia takut nama Aidit membuat orang berprasangka. Sebab, baginya agak rumit untuk menjelaskan asal usul marga Aidit kepada orang awam.

Abdul Rachman lantas berkisah, Aidit atau Aidid berasal dari sebuah nama perkampungan yang terletak di sebelah barat daya Kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Ketua Perkumpulan Marga Aidid di Indonesia, Habib Alwi bin Husein Aidid menjelaskan secara lebih detail mengenai asal usul marga Aidit atau Aidid di Indonesia.

"Jadi nama Aidid diambil dari nama wilayah berbatu di Hadramaut," ujarnya kepada Republika.co.id, Jumat (27/11).

(Foto suasana Kampung Aidid di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman, saat ini)

Dikisahkannya, di daerah Aidid itu asal mulanya adalah lembah yang gelap gulita. Konon, tidak ada yang berani masuk atau melintasi lembah tersebut, bahkan mengambil sesuatu di dalam lembah tersebut.

Namun, seorang ulama Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah memutuskan tinggal dan membangun wilayah Aidid pada abad ke-sembilan Hijriah. Ulama yang merupakan keturunan generasi ke-23 Rasulullah itu lantas diberi gelar Aidid di belakang namanya. Dari Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah inilah marga Aidid bermula.

"Keturunan Aidid ini kemudian banyak yang berhijrah ke belahan wilayah lain, seperti Afrika, India, hingga Indonesia," kata Habib Alwi. Di Indonesia, marga Aidid kerap disebut dengan ejaan Aidit, sedangkan di Afrika pengejaan namanya Aideed.

Alhasil, dari moyangnya Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah ini kemudian lahir generasi-generasi marga Aidid di Indonesia, antara lain, Abdul Rachman dan Habib Alwi. Marga Aidid pun termasuk bani 'Alawiyin, yakni marga yang memiliki garis keturunan dengan Rasulullah.

Marga Aidid sama halnya dengan marga besar lain, seperti Al-Habsyi, Al-Atas, Assegaf, Shihab, dan marga lain yang merupakan keturunan langsung dari cucu Rasulullah, Hasan dan Husein. "Di Indonesia jumlah marga Aidid ada ribuan yang tersebar di berbagai wilayah," kata Habib Alwi.

Lantas, bagaimana dengan Dipa Nusantara Aidit? Apakah pimpinan PKI ini merupakan salah satu keturunan dari marga Aidid?

Terkait hal ini, Republika.co.id sempat berbincang dengan putra DN Aidit, Ilham Aidit. Dia mengaku, Aidit yang mereka sandang adalah nama marga. Riwayat Aidit yang disampaikan Ilham pun mirip dengan kisah marga Aidid. "Asalnya dari Yaman. Tapi anehnya, keturunannya banyak tersebar di wilayah Afrika Utara," kata Ilham.

Ilham menjelaskan, nama Aidit yang mereka sandang berasal dari nama marga sang kakek, yakni Abdullah Aidit. "Itu sebetulnya nama (Aidit) dari kakek saya," ujarnya.


(Foto DN Aidit dan Abdullah Aidit)

Sang kakek pun pernah berkisah pada Ilham soal nama Aidit yang mereka sandang. "Kakek saya (Abdullah Aidit) selalu bercerita tentang itu. Dia bilang (Aidit) ini tidak sembarangan, punya garis keturunan Rasulullah kalau diurut dari stamboom (silsilah)," ujar Ilham.

Ilham lantas berujar, pemegang nama marga Aidit sangat banyak di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Pada 1930, kata Ilham, banyak yang menggunakan nama marga Aidit sebagai identitas sehari-hari.

Namun, selepas kasus 30 September 1965, pemilik nama marga Aidit perlahan menghilang dari Indonesia. Ini sejalan dengan kisah Abdul Rachman yang sejak 1965 menghilangkan nama Aidit-nya.

"Betul, selepas tahun 1965, banyak yang menghapus nama marga itu secara bersama-sama karena takut dikira punya hubungan keluarga (dengan DN Aidit). Karena dulu hubungan keluarga sejauh apa pun bisa jadi masalah," kata Ilham.

Keterangan Ilham Aidit soal asal usul marga keluarganya mendapat klarifikasi dari Perkumpulan Marga Aidid di Indonesia. Habib Alwi selaku ketua Perkumpulan Marga Aidid menjelaskan Aidit yang disandang pentolan PKI itu tak terkait dengan marga Aidid. "Kalau mereka Aidit-nya hanya nama, bukan marga Aidid. Jadi enggak terkait sama sekali," ujar Habib Alwi.

Habib Alwi pun membantah klaim Ilham yang menyebut kaitannya dengan keturunan Rasulullah. "Tidak benar itu. Namanya tidak ada (di daftar buku silsilah)," kata Habib Alwi menegaskan.

Namun, Habib Alwi mengakui bahwa kemiripan nama dengan DN Aidit itu membawa konsekuensi yang besar bagi seluruh marga Aidid di Indonesia. Selepas 1965, masyarakat yang bermarga Aidid diakuinya sengaja menghilangkan identitasnya. Aidid pun sempat menjadi marga yang menghilang di Indonesia.

"Memang pada tahun 1965 sampai 1970-an, banyak yang menghilangkan nama (Aidid). Karena situasinya saat itu tak memungkinkan pakai nama Aidid. Tapi, sekarang semua sudah terbuka," kata Habib Alwi.

Perkataan Habib Alwi diperkuat kisah Abdul Rachman. Sambil mempersilakan Republika.co.id menyeduh teh yang disajikan di kediamannya, Abdul Rachman berujar, "Dulu (selepas 1965) cuma dua kali nama Aidit kita sebut. Pas menikahkan anak yang marganya Aidit, atau pas bacain tahlil buat marga Aidit yang meninggal dunia," ujarnya.

Akan tetapi, lanjut Abdul Rachman, semua ketakutan itu telah berlalu. Marga Aidit kini sudah banyak yang kembali menampilkan nama marganya. "Kalau dulu kalau orang tanya, saya mengaku bukan Aidit. Tapi, sekarang saya enggak ragu mencantumkan nama Aidit. Tapi ingat, enggak ada hubungan dengan DN Aidit," kata Abdul Rachman menegaskan.

Lalu, bagaimana dengan nama putra dan putri Abdul Rachman? "Kalau anak-anak saya gak ada yang pakai nama marga Aidit di identitas atau ijazah. Ini buat jaga-jaga saja," ucap Abdul Rachman mengakhiri penjelasannya.