Selasa , 19 September 2017, 07:44 WIB

Tan Malaka, Hatta, dan Stalin Para Diktator Perbudakan

Red: Muhammad Subarkah
Tan Malaka
Tan Malaka

Oleh Lukman Hakiem
 
PADA bulan Juli 1922, Mohammad Hatta menerima surat dari Darsono di Berlin yang mengabarkan bahwa Tan Malaka ada di Berlin. Darsono menganjurkan Hatta,  "jika ada tempo" supaya datang melancong ke Berlin.

Darsono saat itu adalah salah seorang pemimpin komunis dari Indonesia. Hatta bertemu Darsono pada suatu malam di bulan Juni 1922 di Hamburg. Darsono datang dari Berlin khusus untuk menemui Hatta yang sedang berkunjung ke Hamburg.

Menurut pengakuannya,  Darsono sudah enam bulan berada di Jerman,  dan telah berpidato beberapa kali di beberapa tempat untuk Partai Komunis Jerman (PKJ).

Sesudah bercakap-cakap sekitar dua jam malam itu,  keesokan harinya, Darsono mengajak Hatta berkunjung ke kantor PKJ cabang Hamburg. Dari situ, Hatta dan Darsono berpisah. Hatta kembali ke tempatnya menginap,  Darsono kembali ke Berlin.

Oleh Hatta, surat dari Darsono yang diterima sebulan sesudah mereka bertemu, ditunjukkan kepada dr. Soetomo.

"Baiklah Saudara Hatta pergi ke Berlin," kata Soetomo sesudah membaca surat dari Darsono. Keesokan harinya, Hatta berangkat ke Berlin.

Di Berlin,  Hatta menginap di rumah Darsono. Ternyata Tan Malaka juga menginap di rumah yang sama.

Selama lima hari di Berlin,  banyaklah percakapan antara Hatta,  Darsono, dan Tan Malaka. Percakapan terutama mengenai Indonesia.

Seperti diceritakan oleh Hatta (2011: 181-182) dalam satu kesempatan, Hatta bertanya kepada Tan Malaka kemungkinan dia menetap di Moskow. Menurut Tan,  sudah sepantasnya dia pergi ke Moskow, karena Moskow adalah pusat gerakan komunis sedunia.

Akan tetapi Tan Malaka tidak akan tinggal di Moskow. Tan tidak akan beristirahat. Dia akan terus bergerak dan berjuang untuk Indonesia Merdeka.

Kepada Hatta, Tan Malaka mengungkapkan tekadnya untuk meneruskan perjalanan ke Timur Jauh,  dan dari situ Tan akan membuka hubungan dengan pergerakan kemerdekaan di seluruh Asia.