Ahad , 10 September 2017, 08:11 WIB

The New Korea, Kenapa Korea Bisa Maju?

Red: Muhammad Subarkah
Psy 'Gangnam Style'
Psy 'Gangnam Style'

Oleh: Edhy Aruman*

Satu dekade sejak krisis ekonomi 1997-1998, Korea Selatan berhasil menempatkan dirinya masuk ke dalam 15 kelompok negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Kini, Korea berambisi mencapai Korea 3.0 yang menjadikannya secara ekonomi sejajar dengan Amerika Serikat.

Tahun 2009 merupakan tonggak baru bagi industri mobil Korea. Untuk kali pertamanya sejak Korea memulai membuat mobil, mereka memenangkan North American Car of the Year Award, penghargaan yang diberikan oleh 50 wartawan otomotif terkemuka di Amerika. Penerima penghargaan adalah Hyundai Genesis, pendatang baru relative murah ($ 40.000) dan berhasil menyaingi Lexus, Mercedes, dan BMW.

Sementara itu, Samsung Electronics yang bercikal bakal sebagai pedagang beras, kini berhasil menjual Samsung Galaxy Tab sebanyak 2 juta unit. Ini merupakan merupakan pencapaian yang hebat bagi Samsung sebab angka penjualan dicapai hanya dalam waktu 3 minggu setelah produk ini pertama kali diluncurkan. Dengan pencapaian ini, Samsung Galaxy Tab bisa memproklamirkan diri sebagai tablet Android terlaris di dunia, meski untuk pasar tablet secara keseluruhan Apple masih memegang pasar dengan iPad mereka. Di Indonesia, raksasa elektronik asal Korea Selatan itu mengklaim mendominasi pasar tablet PC Indonesia dengan meraih 71 persen market share.

Menurut Myung Oak Kim dan Sam Jaffe – penulis The New Korea – An Inside Look At South Korea’s Economic Rise, etos kerja dan semangat kolektif yang dimiliki oleh bangsa Korea benar-benar menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara itu sejak 1960-an. Keduanya, menurut laporan Bank Dunia 2008, telah menghantarkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler selama empat puluh tahun dan transformasi ekonomi yang berhasil melambungkan status Korea sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke lima belas dunia.

Etos kerja dan semnagt kolektif itu diimplimentasikan ke dalam strategi perencanaan terpusat, penekanan pada ekspor, industrialisasi yang tergolong ambisius, dan dedikasi dari angkatan kerja terdidik. Mempelajari perkembangan ekonomi Korea ini, Myung Oak Kim dan Sam Jaffe  membagi pertumbuhan Korea menjadi tiga tahap. Tahap pertama atau yang disebut Kim dan Jaffe sebagai Korea 1.0 digulirkan sejak Park Chung-hee berkuasa pada awal 1960-an. Tanda-tanda Korea 1,0 menjadi bagian dari raksasa ekonomi dunia mulai kelihatan setelah Korea membangun industry mobil dan perkapalan. Prestasi itu dicapai karena industry Korea berhasil mengambil keuntungan dari etos kerja yang disiplinkan oleh negara dan upah rendah.

Paska krisis 1998, ekonomi negara ginseng itu memasuki era Korea 2.0. Pada era ini, etos kerja masih menjadi andalan, akan tetapi upah yang rendah hilang. Perekonomian Korea sekarang didominasi oleh industri-industri baru, seperti hiburan, perangkat lunak, dan manufaktur peralatan telekomunikasi. Bisnis di industry ini menjanjikan upah rata-rata lebih tinggi. Pendapatan Korea Selatan saat ini lebih besar dari $ 20.000 per orang. Ini menempatkan Korea ke dalam jajaran negara-negara industry Eropa dan mendekati Jepang ($ 38,000) dan bahkan membuka pintu untuk bersaing dengan Amerika Serikat ($ 47,000).

Tantangan Korea sekarang adalah bagaimana untuk terus meningkatkan kemajuan dan pendapatan pekerja dari $ 20.000 menjadi $ 40.000. Di sisi lain, Korea harus bersaing dengan negara-negara berupah rendah seperti China dan India. Mereka juga tak dapat mencapainya dengan model dekrit Presiden seperti yang terjadi di era Korea 1.0 yang berhasi menyulap industri baja dan otomotifnya.