Rabu , 06 September 2017, 12:00 WIB

Borobudur, Rohingya, dan Mangut Beong

Red: Agus Yulianto
Antara/Maulana Surya
Sejumlah turis asing berfoto bersama saat mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.
Sejumlah turis asing berfoto bersama saat mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Hadi Supeno *)

Rencana aksi demo solidaritas Rohingya di kompleks Candi Borobudur, dari sudut taktik dan strategi adalah sebuah gagasan cerdas. Mengapa? Karena, katakanlah kekejaman rezim Myanmar yang mengarah tindakan genoside merupakan tragedi kemanusiaan semata, namun fakta mayoritas warga Myanmar adalah beragama Budha.

Candi Borobudur adalah salah satu candi Budha terbesar di dunia, maka pesan-pesan dari aksi di kompleks candi pastilah akan cepat sampai ke Myanmar. Harapannya, hentikan saat ini juga kebiadaban terhadap etnis Rohingya, serta diikuti dengan langkah solutif komprehensif dan permanen, sampai etnis Rohingya memperoleh hak-haknya sebagai manusia.

Saya jadi ingat, saat invasi Amerika ke Irak tahun 1991, saya bersama beberapa aktivis, ulama, dan budayawan melakukan Aksi solidaritas dan seruan ke dunia internasional. Dengan cepat radio  BBC, dan media internasional lainnya meneruskannya ke publik internasional.

World haritage

Persoalannya adalah, bahwa candi Botobudur merupakan aset wisata nasional, yang oleh Unesco sudah lama ditetapkan sebagai world haritage yang harus dilindungi oleh masyarakat dunia, terlebih Indonesia.

Triliunan rupiah telah digelontorkan oleh banyak pihak untuk merestorasi candi, sejak ditemukannya kembali oleh Thomas Stanford Raflles di abad ke-19 hingga tahun 1980-an yang penuh gejolak perlawanan.

Borobudur secara resmi bukan tempat ibadah unat Budha, tetapi warisan dunia yang garus dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan untuk kesejahteraan warga sekitar melalui aktivitas pariwisata.

Tak ada warga Budhis

Penulis pernah hidup dan bekerja di kawasan Candi Botobudur selama 10 tahun sebagai seorang guru dan jurnalis. Saya bersaksi, bahwa di Kawasan candi tak ada satu pun warga setempat yang beragama Budha.

Bahkan hanya beberapa meter dari pintu gerbang Taman Wisata Candi Borobudur, terdapat perguruan Muhammadiyah yang besar, meliputi SMP, SMA, dan SMK Muhammadiyah, di atas tanah seluas tiga hektare. Pada zamannya, ini bangunan sekolah paling megah di Kabupaten Magelang, bantuan langdung dari Pak Harto, sebagai kompensasi atas kesediaannya perguruan Muhammadiyah pindah lokasi, dari kaki candi ke zona yang lebih jauh.

Boleh dikata penjaga dan pemanfaat terbesar candi Borobudur adalah umat Islam, yang bergerak di sektor pariwisata seperti pemilik penginapan, kuliner, pemandu wisata, pedagang asongan, fotografer, industri kreatif, dan sektor-sektor lainnya.

Demikian pula di kompleks candi Mendut yang menjadi lokasi Vihara Mendut, tak satu pun warga desa Mendut beragama Budha. Bahkan para pekerja di dalam vihara, pada umumnya beragama Islam.

Pada hari-hari tetentu, di pagi hari justru terdengar jelas dari kawasan candi, alunan medu shalawat Nabi dari majelis-majelis taklim kaum Nahdiyin, terutama dari desa Candirejo, Majaksingi, Kembanglimus, sampai Menoreh.

Di dusun Sabrangrowo yang terletak persis di depan pintu gerbang barat Taman Candi Borobudur, bahkan berdiam para tokoh dan aktivis Muhammadiyah. Merekalah penjaga otentik candi Borobudur, yang berlangsung bertahun-tahun tanpa ada gangguan apapun, tersenyum menyapa 3,7 juta wisatawan ke Borobudur setiap tahunnya.

Nah, maka harus hati-hati dan arif bijaksana jika mau melakukan aksi solidaritas Rohingya di kawasan candi.

Jangan kontra produktif

Bahwa kita harus solidaritas, simpati, dan empati dengan saudara-saudara kita di Myanmar adalah sebuah keniscayaan. Namun jangankah kita mengambil tindakan kontra produktif yang bermaksud lakukan kebaikan namun justru menyakiti saudara yang lainnya.

Bagi warga Borobudur dan sekitarnya, eksistensi candi adalah segalanya. Jangankan sampai menyentuh merusak secara fisik, melakukan kegiatan yang menimbulkan ketakutan dan ketidaknyamanan para wisatawan pun, sudah termasuk mengganggu. Dari candi Botobudur-lah mereka mengais rejeki, membangun harapan hidup, dan meningkatkan kualitas peradaban.

Maka, janganlah aksi solidaritas Rohingnya justeru menghadirkan musuh baru, konflik baru, luka baru. Ayo, datanglah ke Borobudur dengan pesan-pesan damai dan tertib seperti aksi-aksi bela Islam (ABI) yang selama ini kita lakukan.

Harus ada ide kreatif untuk mencari lokasi aksi yang tidak mengganggu aktivitas tourisme di kompleks candi. Masjid An-Nur di Sawitan Kota Mungkid, sebuah alternatif yang baik, sepanjang regulasi memungkinkan.

Nikmati kuliner

Tentu warga Borobudur yang mayoritas Muslim taat itu, akan lebih senang jika para aktivis datang menyapa mereka untuk menginap di homestay-homestay-nya serta menikmati kulinernya.

Banyak makanan khas Borobudur seperti gethuk, geblag, clorot, bajingan, bakmi Parno, dan tentu saja sensasi mangut beong yang nyam nyam nyam dahsyat pedasnya.

Ber-Aksi sambil berwisata. Kenapa tidak?

 

*) Penulis adalah mantan aktivis, pernah tinggal di Borobudur, dan hingga kini masih aktif sebagai anggota Presidium Pondok Seni Budiardjo, Borobudur.