Sabtu , 19 Agustus 2017, 05:00 WIB

Allahu Akbar dan Merdeka

Red: Agus Yulianto
istimewa
Syukri Wahid
Syukri Wahid

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Syukri Wahid *)

Sudah cukup lama negeri ini kita huni dalam keberagaman dan saling menghargai. Indonesia adalah mozaik indah tentang semua lukisan perbedaan.

Indonesia adalah pelangi perbedaan yang bersatu menjadi harmoni keindahan, sebab kita bersatu bukan karena jumlah dan warna kita yang satu. Tetapi justru karena berbedalah kita bisa rasakan nikmatnya  persatuan.

Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua identitas kebinekaan kita. Biaya menyatukannya tidaklah sedikit saudaraku. Nyawa, darah, air mata, pengertian, keikhlasan, kepentingan bersama para pendahulu kita telah menjadi saksi.

Saudaraku....

Bukan karena gemar teriakkan kata Merdeka, maka kita dibilang paling Nasionalis. Bukan karena kita suka pekikkan Allahu Akbar, maka kita dianggap pengancam integrasi bangsa.

Sebab dahulu dua kalimat itu selalu beriringan keluar dari lisan-lisan para pejuang kita. Itulah yang membakar arek-arek Suroboyo lewat pidato heroiknya Bung Tomo membakar pejuang di Surabaya dan seantero negeri ini.

Allahu Akbar......merdeka.....!

Karena spirit Allahu Akbar dan pekikan Merdeka ibarat dua sisi koin mata uang yang tak terpisahkan. Seperti itulah, Merdeka dan Allahu Akbar.

Mereka para Pahlawan atas nama panggilan suci dan sekaligus mereka adalah  Nasionalis karena tak ingin sejengkal tanahnya di rampok para  penjajah.

Spirit kalimat itu yang memperpanjang usia keindonesiaan kita, agama dan kebangsaan, spritual dan kepahlawanan, religius dan nasionalosme.

Lalu mengapa kini, simpul kita mulai terasa terlepas? Mengapa kohesi bangsa ini mulai tampak memudar? Apakah kini kalimat itu sudah mulai kau benturkan? bahwa biarkan "Allahu Akbar" disana dan " Merdeka" disini?

Maukah engkau pisahkan ruh di balik kalimat itu? Pisahkan dulu matahari dari rasa panasnya!

Dirgahayu Negeriku #72tahun.

*) Pegiat Sosial Politik