Jumat , 18 Agustus 2017, 01:00 WIB

Revitalisasi Pariwisata DKI

Red: Agus Yulianto
Republika/ Wihdan
Taufan Rahmadi
Taufan Rahmadi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Taufan Rahmadi *)

Pariwisata ialah nikmat Tuhan yang dianugerahkan demi kebermanfaatan bagi semua insan”.

Sektor pariwisata memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PAD di DKI Jakarta, dan menunjukkan trend positif tingkat kunjungan wisatawan baik mancanegara ataupun nusantara.

Kunjungan wisatawan mancanegara yang dirilis BPS dan Kemenpar RI ke Jakarta di tahun 2016 berjumlah 2.512.005 atau mengalami kenaikan 5.67 persen dari tahun 2015. Sedangkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di 2017 mulai dari Januari – Mei berjumlah 1.032.145. Sementara jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke DTW di 2016 berjumlah 32.673.965 mengalami peningkatan dari jumlah 30.512.989 di 2015. Sedang untuk 2017 mulai dari Januari – Mei berjumlah 13.311.137 wisatawan.

Sementara pendapatan asli daerah (PAD) Provinsi Jakarta dari sektor pariwisata pada 2016 mencapai Rp 4.722.778.604.113. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding pada 2015 sebesar Rp 4.300.144.885.688. Sedang untuk 2017 mulai dari Januari – Mei, PAD dari sektor pariwisata terhitung Rp 2.029.551.435.320.

Akan tetapi angka-angka di atas seharusnya bisa lebih ditingkatkan, jika pemerintah Jakarta tidak terlena dengan apa yang diperoleh selama ini. Pemerintah Jakarta harus bisa memahami bahwa ada banyak destinasi wisatanya yang membutuhkan sentuhan kreatif dalam pengembangannya. Sebut saja Kepulauan Seribu yang seharusnya bisa mendunia seperti Maldives bila dikemas sungguh–sungguh.

Sekarang, coba kita lihat, museum dan bangunan bersejarah di Jakarta. Seberapa menarikkah untuk dikunjungi dan bisa menyaingi museum–museum di Paris, misalnya?  Mari kita lihat Monas. Apakah dengan kondisinya saat ini masih mampu menjadi magnet bagi Jakarta? Bagaimana segmentasi wisatawan yang datang ke Monas saat ini? Adakah kunjungannya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun? Jakarta dengan statusnya sebagai Ibukota Negara, pintu gerbang utama bagi wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia sudah waktunya untuk berbenah dan melakukan revitalisasi di sektor pariwisatanya.

Revitalisasi pariwisata Jakarta dapat dimulai dengan melakukan langkah-langkah kreatif strategis, seperti misalnya: Pariwisata adalah solusi budaya.

Jakarta adalah 'Surganya Mall'. Jika saja Pemda DKI Jakarta membuat kebijakan setiap mal harus menyelenggarakan minimal satu pertunjukan budaya--dalam kegiatan 'Jakarta mal of culture show' bekerja sama dengan para seniman budayawan yang ada di Jakarta--dengan mengedepankan spirit betawinisme misalnya. Jika disuguhkan dengan sangat indah dan menarik, pasti akan menjadi atraksi yang memukau perhatian para wisatawan.


Pariwisata adalah solusi usaha kecil dan menengah (UKM)

Jutaan pelaku usaha yang tergolong Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ada di Jakarta, namun masih terdapat berbagai masalah yang menjadi kendala bagi perkembangan UKM kita. Ex-Presiden Indonesia Marketing Association (IMA), Muhammad Awaluddin, menjelaskan, permasalahan yang paling banyak dikeluhkan adalah mengenai permodalan, faktor pengetahuan dalam bidang bisnis, dan marketing. "Karena itu mereka tidak bisa memanfaatkan teknologi untuk mencari peluang dalam berbisnis,” ujarnya.

Pemda DKI harus cepat mencari solusi dari berbagai tantangan tersebut, untuk memajukan UKM yang ada, sehingga bisa menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Jakarta. Dengan cara terus memberikan pengetahuan bisnis dan marketing pada para pelaku UKM maupun bagaimana memanfaatkan teknologi yang ada. Di samping membuat kebijakan fasilitas gratis bagi mereka untuk bisa mempromosikan produknya, serta membantu pembuatan kerjasama dengan berbagai pihak/sponsor untuk mengatasi masalah permodalan yang mereka hadapi.

Contoh Solusi yang bisa dilakukan oleh Pemda DKI kepada para pelaku UKM pada era global ini ialah dengan memfasilitasi pembuatan aplikasi yang memudahkan mereka dalam menjual produknya dan memudahkan konsumen (wisatawan) memperoleh produk-produk UKM khas Jakarta.

Pariwisata adalah solusi industri kreatif

Kita sama-sama menyadari bahwa ratusan event seni budaya dan industri kreatif dari berbagai brand ternama digelar di Jakarta setiap tahunnya. Ada Jakarta Clothing Expo Festival, Jakarta Food & Fashion Festival (JFFF), Java Jazz Festival, Jakarta Feshion Week, Jiffest, Social Media Week, Jakarta Night Festival, serta Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Event-event ini memiliki kekuatan untuk dapat menarik wisatawan. Revitalisasi dapat dilakukan oleh pemda DKI dengan cara misalnya, memudahkan perizinan dengan biaya yang sudah terstandarisasi (no-pungli).

Selain itu pemda juga bisa bekerjasama dengan para kreator bisnis startup membuat aplikasi untuk menjelajahi informasi ragam acara di Jakarta, melakukan booking, yang juga digunakan sebagai media sosial penghubung antara pengguna aplikasi. Apabila pemda mampu untuk memanfaatkanya dengan cara berkerjasama dengan berbagai pihak, maka akan sangat membantu para wisatawan disaat berwisata event di Jakarta.

Pariwisata adalah solusi ruang terbuka hijau dan ruang publik

Ketika kita berbicara tentang Jakarta, kita bicara juga tentang gedung-gedung pencakar langit yang megah. Namun sayangnya, gedung-gedung tersebut sedikit yang memiliki ruang terbuka hijau.

Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, pada 2016 lalu, penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) bukan perkara yang mudah. Minimnya karena ketersediaan lahan menjadi penyebab utama. Dari 30 persen RTH yang harusnya disediakan, baru 9,9 persen yang tercapai dari total keseluruhan.

Padahal, RTH sendiri memiliki banyak fungsi. Di antaranya: fungsi ekologi (sebagai tanaman hijau yang dapat menyerap kadar karbondioksida diudara, menurunkan suhu dan sebagai resapan air), fungsi ruang rekreasi dan interaksi bagi warga, fungsi estetis (keindahan), fungsi planalogi (dapat menjadi pembatas antara ruang satu dengan ruang lain yang berbeda peruntukannya), fungsi pendidikan (sebagai sarana belajar), serta fungsi ekonomis.

Bayangkan jika Pemda Jakarta membuat kebijakan setiap satu gedung minimal  memiliki satu taman gantung. Selain menjaga kelestarian dan menghadirkan suasana yang hijau di tengah kota, juga akan membuat Jakarta sebagai salah satu Pusat Atraksi Taman Gantung di dunia, yang pastinya dapat menarik minat wisatawan.

Selain itu, dengan memanfaatkan ruang publik seperti misalnya taman-taman kota, stasiun kereta api, dan gedung-gedung tua di Jakarta yang dapat dijadikan sebagai ruang atraksi seni dan budaya, Pemda DKI dapat memfasilitasi gratis para pegiat seni budaya untuk memamerkan karya-karya mereka, serta membantu kerjasama dengan berbagai sponsor. Dengan kuatnya sinergi antara para budayawan seniman dengan Pemda DKI Jakarta akan menjadikan Jakarta sebagai salah satu Pusat Wisata Mahakarya Seni Budaya Indonesia.

Jakarta safe

Semua yang sudah dijabarkan di atas, tentunya tidak akan pernah bisa terwujud tanpa adanya rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Jakarta. Seperti yang kita ketahui bersama, Jakarta adalah daerah yang tinggi angka kriminalitasnya. Seperti penuturan dari Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan yang mengatakan, pada 2016 saja untuk crime clock (waktu kejahatan) mengalami percepatan selama 8 detik, dari 12 menit 26 detik menjadi 12 menit 18 detik yang artinya setiap kurun waktu tersebut terjadi satu tindakan kejahatan di Jakarta. Dari kejadian tersebut, perlu adanya inovasi baru yang dilakukan oleh berbagai pihak, antara lain dari kepolisian dan pemda melalui semacam Polisi Wisata Apps yang terintegrasi dan mudah diakses oleh masyarakat luas terutama para wisatawan demi terwujudnya rasa aman, nyaman.


Quick win pariwisata Jakarta
 
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Dinas Pariwisata DKI Jakarta memang merupakan suatu hal yang sangat penting bagi berlangsungnya serta berkembangnya pariwisata Jakarta ke depan. Apalagi saat ini, Indonesia sudah menghadapi yang namanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sehingga mau atau tidak, kualitas SDM kita harus terus menerus ditingkatkan terutama pada bidang kepariwisataan agar tidak tergusur oleh para pekerja dari luar yang memiliki kompetensi lebih tinggi.

Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisata (BPKK) Kemenpar RI, Ahman Sya mengatakan, dalam upaya meningkatkan daya saing, sejumlah kelemahan sumber daya manusia kepariwisataan harus diperbaiki terutama dalam penguasaan bahasa Inggris, teknologi informasi (IT), maupun manajerial. Ketiga hal tersebut, tentunya haruslah menjadi fokus utama dalam pembenahan SDM kepariwisataan terutama bagi para tenaga kepariwisataan di dinas pariwisata (dispar) yang ada. Misalkan saja, menempatkan mereka yang benar-benar memiliki passion di dunia pariwisata dalam jajaran Dispar DKI, menerapkan english day, yakni satu hari khusus berbahasa inggris di lingkungan Dispar oleh seluruh staff.

Penetapan RIPPDA) DKI Jakarta dan penetapan masterplan perancanaan pengembangan pariwisata Kepulauan Seribu  

Sektor pariwisata terus mengalami peningkatan dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Wisata baharipun posisinya sangat strategis dan menjadi urat nadi pariwisata Indonesia. Data terakhir yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jakarta pula menyatakan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Kepulauan Seribu, selama periode 23 Juni- 2 Juli intensitasnya cukup tinggi, yakni 104.226 orang.

Selain berbagai data tersebut, lalu sebenarnya apa alasan yang menyebabkan Kepulauan Seribu sangat perlu untuk dikembangkan lebih jauh lagi? Pertama, membangun pariwisata Kepulauan Seribu adalah cara Pemda DKI menyelamatkan ekosistem laut di perairan Jakarta, yang mana dengan majunya Pariwisata diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di Kepulauan Seribu.
Kedua, perlu ada penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Terakhir, pada tahun 2018 nanti, Jakarta akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, sehingga tentu harus ada dukungan dari berbagai pihak (pemerintah), terutama mengenai permasalahan yang dihadapi saat ini, yakni kurangnya sarana prasarana dalam olah raga air. Demikianlah konsep besar dari Revitalisasi Pariwisata Jakarta, jika memang nantinya pemda DKI ingin menjadikan sektor Pariwisata sebagai sektor unggulan daerah.

Mengutip apa yang dikatakan oleh Bung Karno : “Pariwisata itu bukan sekedar berbicara tentang materi dan keindahan alam semata, tapi ia juga mampu menimbulkan kecintaan terhadap negeri ini, Indonesia”, dan Pariwisata Jakarta memilki kekuatan untuk itu.

Ayo Jakarta,  maju pariwisatanya, bahagia warganya.

*) Anggota Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas