Kamis , 17 Agustus 2017, 11:54 WIB

Beda Tanggal, Beda Nasib: Antara Korea dan Indonesia

Red: Muhammad Subarkah
 Warga mengikuti lomba panjat pinang di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/8).  (Republika/Yasin Habibi)
Warga mengikuti lomba panjat pinang di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/8). (Republika/Yasin Habibi)

Indonesia dan Korea Selatan merdeka pada hari yang berdekatan. Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945. Hanya beda 2 hari, Korea Selatan yang dahulu lebih miskin dari Indonesia, sekarang lbh maju dan menempati papan atas Negara Maju.

"Hmmm .... hanya berbeda 2 hari tapi bisa berbeda segalanya … !"

Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia. *Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah.!!!!*
*Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.*

"Apakah tanpa semua itu mereka disebut tidak cinta negaranya?"

Jawabannya, pasti tidak! Karena Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya. Jika di Indonesia di tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya.
Bagi mereka : "Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea".

Setelah kemerdekaan Korea dari Jepang, mereka masih harus melewati fase perang saudara hingga akhirnya pecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah. Sehingga setiap bertemu, satu sama lain mereka akan bertanya “밥을 먹었어요?” (“Sudah makan nasi?”), jika belum maka akan diajak makan. Begitu pula dengan kerja keras, sudah tidak diragukan lagi hasil nyata dari kerja keras Korea Selatan saat ini.

Pesan dari Presiden Korea saat itu :_*"Let’s work harder and harder. Let’s work much harder not to make our sons and daughters sold to foreign countries.”*_ _(Mari kita bekerja lebih keras dan lebih keras. Mari kita bekerja lebih keras untuk tidak membuat anak-anak kita dijual ke luar negeri)_

Dan kemudian ditutup oleh quote ini :_*"Now, we promise that we will hand over a good country to our sons and daughters, we will give you the country worthy to be proud as well.”*_ _("Sekarang, kita berjanji bahwa kita akan menyerahkan sebuah negara yang baik untuk putra dan putri kita, kita akan memberikan negara yg layak untuk dibanggakan.")_

Terakhir, di sela Muktamar Muhammadiyah di Makassar beberapa tahun silam terselip seorang peninjau asal Korea Selatan. Dia adalah Prof Hyun Jun Kim. Orang ini menjadi ahli tentang Indonesia di negaranya. Pada kesempatan itu sebuah pertanyaan pendek dan sederhana kami tanyakan padanya: Apa kesan anda tentang manusia Indonesia?

Tanpa berpikir terlalu panjang dan sembari mengulumkan senyum, Hyun Jun Kim mengatakan: Orang Indonesia tak lagi tulus bersikap. Tak peduli elit atau rakyatnya, baik yang tinggal di kota atau di desa, ketika melakukan suatu tindakan mereka selalu punya pamrih.

"Di depan semula memang ramah dan seolah ikhlas, dan berkaya ya ya saja. Tapi sebetulnya dia punya tujuan atau tak ikhlas,'' katanya seraya mengatakan baru saja menemukan kata 'pamrih' itu dalam bahasa Inggris yakni intention.

Alhasil silahkan anda pikir sendiri apa yang sedang terjadi di Indonesia tercinta ini. Dan sebenarnya kalau kita mau, apa yang Korea Selatan dapatkan hari ini bisa juga kita raih.

Akhirnya, Bisakah kita?