Ahad , 13 Agustus 2017, 04:33 WIB

Dua Tahun Pengabdian Jenderal 'Entrepreneurship

Red: Agus Yulianto
Dok. Pendam Pattimura
Mayjen TNI Doni Monardo
Mayjen TNI Doni Monardo

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Arista Junaidi *)

Maluku adalah negeri yang kaya sumber daya alam, baik laut maupun di darat. Kekayaan yang berlimpah ini, tidak akan bisa menjadi added value (nilai tambah) bagi ekonomi masyarakat, jika tidak dikelola secara baik. Pemerintah rugi dan masyarakatnya tidak akan sejahtera. Butuh pikiran besar dan keinginaan yang kuat (strong will) untuk memajukan Maluku. Tidak bisa, kita hanya mengandalkan “kue pembangunan” yang bersumber dari APBN semata. Harus terampil dan kreatif memaksimalkan semua potensi yang ada.

Pikiran yang futuristik itu, bukanlah diutarakan oleh seorang birokrat, politisi atau skademisi. Tetapi oleh seorang militer, yang saat ini menjadi Pangdam XVI Pattimura. Beliau adalah Mayor Jenderal Doni Monardo. Sudah dua tahun ini, sejak Agustus 2015, menjabat sebagai pimpinan militer di Maluku-Maluku Utara. Ada banyak hal yang terekam dari tugas kemiliteran beliau. Satu yang special menjadi catatan saya, adalah program emas biru (Blue Gold) dan emas hijau (Green Gold) yang tak henti-hentinya beliau “kampanyekan”. Layaknya pemimpin daerah, program duo emas ini menjadi produk unggulannya.

Secara filosofi, penamaan emas biru dan emas hijau adalah apresiasi terhadap kekayaan alam Maluku. Ibarat harta, keduanya merupakan warisan yang bernilai tinggi. Jika tangan yang tepat mengelolanya, maka dapat menghasilkan rupiah yang banyak. Dari sisi operasional, emas biru merupakan program yang berkaitan dengan kekayaan laut. Budidaya ikan dalam bentuk keramba adalah inti dari gagasan emas biru.

Spirit gagasan ini didorong, agar para nelayan lebih mudah menangkap banyak ikan, saat kondisi laut tidak bersahabat. Cara ini memang sederhana, dan sering dilakukan oleh para nelayan. Namun, yang istimewa dari program emas biru ini, dapat membantu para nelayan untuk mendapatkan fasilitas benih, latihan manajemen usaha dan akses pasar, yang selama ini menjadi kendala.

Sedangkan emas hijau, adalah program darat yang bertumpu pada pelestarian lingkungan yaitu, menanam pohon dan tumbuhan. Jenderal Doni sangat mencintai pepohonan. Berbagai macam tanaman langkah berekonomis tinggi, yang selama ini tidak familiar ditelinga masyarakat Maluku sedang digarap olehnya. Beliau memiliki mimpi, di masa depan adanya obat-obatan yang berasal dari tumbuhan asli Maluku yang bisa dipatenkan dengan nama “molukovil”.

Kecintaannya akan pepohonan tidak datang dengan sendirinya. Konon, beliau pernah “berhutang nyawa” pada sebuah pohon, karena selamat dalam pertempuran melawan milisi Fretelin pada perang Timor-Timur. Saat itulah Jenderal Doni “Jatuh Cinta” pada pepohonan.

Prestasinya dibidang Emas Hijau sudah menasional. Penanaman, pembibitan dan penghijauan pernah dilakukan disejumlah kampus terkenal di tanah air seperti, Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran di Bandung. Paguyuban Budiasih yang dipimpinnya, telah memproduksi empat ajuta bibit pohon dan tanaman langka dan sudah didistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia.


Prosperity approach

Program emas biru dan emas hijau yang digagas oleh Jenderal Doni, adalah manifestasi dari bergesernya pola pendekatan keamanan (security approach). Dulu, militery approach atau pendekatan keamanan dengan menggunakan persenjataan, acap kali dilakukan untuk menstabilkan kondisi konflik yang terjadi ditengah masyarakat. Namun seiring reformasi, pola pendekatan militeristik itu bergeser ke pendekatan yang lebih humanis-ekonomi yakni prosperity approach (pendekatan kesejahteraan).

Pendekatan kesejahteraan ini, bertumpu pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia (basic needs of human), yakni Sandang, Pangan, Papan. Pola ini sangat efektif dilakukan untuk memutus mata rantai konflik hingga ke akarnya. Dalam teori sosial, konflik bisa terjadi karena adanya kenyataan yang tidak sesuai harapan (Das Sein Das Sollen). Masyarakat menginginkan perbaikan ekonomi, tapi tak kunjung diberikan oleh Negara. Pertumbuhan ekonomi justru berdampak makin lebarnya Rasio Gini ekonomi. Sebab, pertumbuhan hanya dinikmati oleh sekelompok orang kaya di Indonesia. Asumsi ekonomi trickle down effect (menetes ke bawah) oleh Albert Hirschman, berubah menjadi trickle up effect (makmur ke atas).

Inilah akar konflik sebenarnya. Kelaparan membuat kelompok miskin rela berbuat apa saja. Dengan motif apapun, stabiltas keamanan pasti terganggu. Diberbagai daerah, konflik lahir karena faktor kesenjangan ekonomi. Maluku dan Papua adalah contohnya. Kaya alamnya, namun miskin dan terbelakang secara pembangunan. Data BPS 2016 menunjukan, bahwa Maluku adalah daerah termiskin no 4 di Indonesia.

Duo program ungggulan Jenderal Doni, adalah implementasi visi kepemimpinan militer yang modern, yakni memadukan Ekonomi dan Keamanan. Bermodal pengalaman menjadi prajurit TNI dan modalitas jaringan nasional yang kuat, program ini telah memberi manfaat kepada banyak Masyarakat Maluku. Hal ini bisa dilihat pada dua hal yakni, pertama, kuatnya stabilitas keamanan (baca; menurunya konflik komunal) di Masyarakat. Kedua, terjadinya peningkatan pendapatan ekonomi Masyarakat Desa yang berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Menyatukan “komandan” perang

Ada yang unik tentang cerita sukses duo program unggulan ini. Dari segi kemanusiaan, program ini berhasil mempertemukan kembali hubungan persaudaraan “panglima perang” Islam-Kristen saat lakon konflik sosial sedang berkecamuk. Mereka adalah Jumu Tuani, Mantan Panglima Operasi Pusat Komando Jihad Maluku dan Mozes Tuwanakotta, Sekjen Front Kemerdekaan Maluku (FKM RMS). Saat acara HUT Kodam XVI Pattimura ke-18 Tahun 2017, keduanya hadir dan duduk berdampingan dengan damai.

Bahkan, keduanya memberikan pujian setingginya terhadap pelaksanaan program Emas Biru dan Emas Hijau. Bagi mereka, Jenderal Doni bukan saja mampu menjaga keamanan di Masyarakat, tetapi telah berhasil menciptakan kesejahteraan untuk masyarakat Maluku yang banyak hidupnya miskin. Tak segan, Jumu Tuani mengatakan, “Jenderal Doni lebih baik menjadi Gubernur Maluku”.

Semua yang telah dilakukan oleh Pangdam XVI Pattimura, Mayjen Jenderal Doni Monardo, hemat saya adalah legacy of leader (warisan kepemimpinan) yang luar biasa. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh pendahulunya. Bahkan, akan sangat sulit dilanjutkan oleh penerusnya, jika tidak memiliki visi besar kepemimpinan militer yang melompati tupoksi.

Dua tahun pengabdian Jenderal Doni di Maluku-Maluku Utara bukanlah waktu yang panjang, juga bukan pula waktu yang cepat untuk jabatan karir militer. Tetapi, warisan yang besar ini haruslah menjadi “harta karun” yang terus dipupuk untuk generasi berikutnya. Sebab besok, beliau harus terus bergerak. Dan waktulah jua yang akan menjawab, kemana lagi Jenderal “Entrepeneurship” ini bertugas setelah dari Kodam XVI Pattimura. Semoga Allah SWT, Tuhan YME selalu merahmatimu Ayahanda Jenderal.

*) Magister Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia