Sabtu , 08 July 2017, 01:00 WIB

Chip di Otak Manusia

Red: Agus Yulianto
dokpri
Harri Ash Shiddiqie
Harri Ash Shiddiqie

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie*)

Cerita manusia super ada sejak Yunani kuno, Prometheus bisa mencuri api para dewa. Bahkan, ada yang terbang mendekati matahari. Di negeri kita ada Gatutkaca yang ototnya kawat, tulangnya besi. Anak-anak bermimpi tentang Superman, Batman. Bukan hanya anak-anak, tak peduli manajer, gubernur, jutawan bahkan ilmuwan, semuanya terbius dengan Terminator, Iron  Man.

Semua fiksi. Tetapi fiksi ilmiah yang ditulis 50 tahun lalu sebagian sudah menjadi kenyataan. Di pertengahan tahun 80-an populer film seri Knight Rider, mobil  pintar dengan kecerdasan buatan itu bukan hanya dapat bicara dengan jagoannya, Michael Knight, tapi juga bergerak sendiri dan mempercepat lajunya menghindari  kejaran gangster.

Tahun 2016 Google sudah mencoba mobil tanpa sopir. Sebentar lagi sudah ada taxi tanpa sopir. Penumpang masuk, duduk, pintu menutup sendiri, cuma bicara : “Jalan X, Nomor Y. Bintaro.”

Teknologi berkembang fantastis, nanoteknologi  misalnya, memungkinkan desain material di tingkat atom dan molekul. Setengah abad yang lalu hanya enam buah lagu bisa direkam dalam piringan berwarna hitam. Lebih ringkas ketika direkam dalam pita. Nanoteknologi memungkinkan material penyimpan ratusan lagu dalam sebuah keping VCD. Seperti material tipis warna kuning  kotak-kotak pada kartu telepon yang dapat menyimpan ribuan nomor telepon, kini SD Card di smartphone dapat menyimpan ribuan lagu.

***

Teknologi bermanfaat membantu manusia (tapi ada yang bilang : Semula memang membantu, tapi kemudian memaksa!),  kini mulai direkayasa agar chip membantu memori otak manusia. Tahun lalu di Inggris, sebuah chip dihubungkan dengan otak Ian Burkhart, seorang yang lengannya lumpuh. Chip ini seukuran beberapa koin yang diletakkan di atas kepala. Seperti komputer pada umumnya, chip memanfaatkan algoritma prosedur mesin untuk menguraikan, memecahkan kode-kode saraf, dan mengambil kesimpulan dari sinyal yang dipindai mikro elektrode halus di area tertentu otak yang berfungsi mengendalikan lengan. 

Dari pembacaan pikiran ini, chip mengeluarkan instruksi  berupa pulsa-pulsa listrik  yang mengendalikan 130 titik di lengan Ian Burkhart. Itu memaksa otot-otot lengan bergerak. Ian Burkhart kembali bisa mengambil gelas,  menuang air, juga menggesekkan kartu kreditnya. Hasil eksperimen ini dimuat dalam jurnal Nature dan dipublikasikan media dunia : The Guardian, Huffington Post, New York Times,

Semuanya takjub,  impian tentang  komputer yang bekerja sama dengan otak manusia menjadi kenyataan, itu pun hanya dengan chip sebesar beberapa koin. Nanti, suatu saat, chip ditanam sejak anak-anak, masa kecil yang indah saat masuk toko memilih-milih es krim, atau berlarian bersorak menyongsong  ayah yang datang dari bepergian, mudah diingat, tervisualisasi lengkap, detil.

Teknologi informasi, bioteknologi dan nanoteknologi memungkinan sebuah “Super Komputer” sedemikian kecilnya sehingga perlu mikroskop melihatnya. Bahkan sebuah robot, ukurannya hanya sebesar sel. Ia bisa diperintah memperbaiki jaringan ginjal atau liver yang bengkak. Memang masih fiksi ilmiah, dan banyak yang mengemukakan kesulitan teknis yang harus dihadapi. Tapi bukankah saat Knight Rider, 35 tahun yang lalu, mobil tanpa sopir juga sebuah khayalan?

***

Allah menciptakan lapar, kantuk, lupa, semuanya tanpa sia-sia, pasti ada hikmahnya. Maha Suci Allah, Dia tanpa kesalahan, tanpa keburukan. Tak ada ciptaan-Nya yang sia-sia. Tak ada yang menyerupai dan menyamaiNya. Maha Suci Allah.

Fitrah lupa manusia dieliminasi dengan chip otak yang bisa mengingat apa saja. Termasuk mengingat proses menyelesaikan soal kimia dan statistika. Chip yang ditanam di otak dan melewati masa SD, SMP, SMA, sampai menjadi mahasiswa Jurusan Informatika dapat diperbanyak, dijual. Orang tidak lagi sekolah. Tersedia chip yang diisi kopi-paste logika dan kreativitas Bill Gates, sutradara Steven Speilberg sampai politikus semacam Trump dan Putin. Guru dan dosen tidak diperlukan, penerbit buku sampai pabrik kertas gulung tikar. Buku matematika maupun novel cukup dikopi dari chip otak pengarangnya.

Meski berbagai chip tersedia, harganya mahal. Memasangnya butuh pakar teknologi dan medis, biayanya besar. Hanya orang berduit yang mampu, mereka menjadi lapisan orang-orang super smart, super manajer, super kaya, super politik. Di sisi lain banyak orang miskin, bodoh, kumuh. Selain ada perbudakan karena rasa super memicu tamak dan  kesombongan, tak bisa dihindari gangster, teror, culas dan licik bertebaran.

Manusia sangat terbatas, kematian adalah keterbatasan yang melekat. Jangankan kematian, semua ilmuwan tahu, bahwa sains tetap tidak bisa mengendus dua hal dalam kehidupan, bagaimana manusia menjadi tua, dan bagaimana memahami kesadaran, apalagi merekayasanya. Itu karena ilmuwan tak bisa merekayasa waktu dan ruang, juga tak mampu membolak-balikkan hati. Akibatnya, orang-orang super adalah tubuh tanpa “hati”, mereka adalah mesin bertubuh manusia.

Berbahagialah kita yang dianugerahi fitrah sebagai manusia wajar, di antaranya diberi lupa, lapar maupun kantuk. Dengan lupa kita menyingkirkan kesedihan masa lalu, dengan lupa  kita menyingkirkan kegembiraan masa lalu, lalu…. kita jalani hari ini, mungkin sedih mungkin gembira. Itu fitrah kita. 

Betapa indahnya merasakan gembira di kekinian ini, bergurau lepas-bebas menggelitik si mungil di gendongan ibunya.  Yang ibunya hanya tersenyum-senyum,  karena.... kadang-kadang dia yang kita gelitik. Berbahagialah kita yang diberi nikmat lapar, meski hanya dengan sambal dan ikan peda  nikmatnya menyentuh ubun-ubun sampai ke langit. Berbahagialah kita yang diberi rasa kantuk (bersediakah kita hidup tanpa ngantuk?),  karena bantal menjadi pelabuhan rindu memeluk damai, dalam tidur melupakan apa saja.

Ya. Allah tunjukkan kami ke jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang kau beri nikmat, yakni orang-orang yang selalu bersungkur di hadapan-Mu. Amin.

*) Penyuka sastra dan teknologi, di Jember.