Selasa , 20 June 2017, 05:00 WIB

'Mengislamkan' Selebritas Sejarah

Red: Agus Yulianto
wordpress.com
Praktik kedokteran Islam tempo dulu (ilustrasi).
Praktik kedokteran Islam tempo dulu (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yusuf Maulana *)
 
Tersebutlah nama Ibn al-Muthran, dokter-sastrawan kristiani, sebagai petualang pengetahuan. Seperti disebutkan George A. Makdisi dalam The Rise of Humanis in Classical Islam and The Christian West (2000), al-Muthran pergi ke Bizantium untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Yang ia lakukan sebenarnya mengulang sang ayah, yang belajar kedokteran  kepada Ibn al-tilmidz dan Ibn al-Naqqasy.
 
Sebagai pencinta pengetahuan, Ibn al-Muthran merupakan kolektor buku yang sangat antusias. “Kekayaannya yang berlimpah memungkinkannya untuk memuaskan hobinya mengoleksi buku,” sebut Makdisi.
 
Pada masa Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi berkuasa, Ibn al-Muthran bersyahadat. Kemudian ia mengabdikan diri kepada Shalahuddin, pemimpin yang senantiasa menghormati dan menjamunya dengan baik.
 
Ibn al-Muthran adalah orang hebat dalam keilmuan, meski sayangnya bukan Islam. Tapi muslimin tak pernah kikuk untuk “mengislamkan” dengan klaim-klaim. Serupa ketika kekhialfahan Abbasiyah berkuasa, betapa para khalifah banyak memanjakan para saintis kafir untuk mengabdi bagi kemajuan umat manusia. Mereka dihormati tanpa harus merepotkan diri memaksa berpindah agama.
 
Demikianlah ketika peradaban yang menang berdiri kokoh. Mereka yang berasal dari peradaban kalah, inferior, justru yang harus mengikuti, meniru, atas produksi peradaban yang menang. Ibnu Khaldun tandaskan soalan ini dalam Muqaddimah al-I’bar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar. Meski yang bekerja pada peradaban menang itu sosok hebat lagi berotak encer, mereka tetap tunduk dalam sistem berpikir (minda) yang menang.   
 
Hari ini, muslimin berada pada peradaban yang “takluk”; mesti mengekor pada pemenang. Alhasil, sementara sebagian muslimin memegang teguh kemurnian kerja-kerja peradaban, sebagian (besar) lagi memilih tunduk. Memilih untuk mengekor produksi peradaban pihak yang berkuasa saat ini di muka bumi.

Bila dulu umat lain keislam-islaman, hari ini kita masih kebarat-baratan dalam budaya-budaya dan hasil peradaban yang sekuler. Senyampang pula, sebagian muslimin merasa perlu menamengi diri melahirkan kebanggaan dengan cara yang kadang menggelikan: “mengislamkan” orang lain. Si anu dan si fulan sudah berislam, entah tokoh masa kini ataukah masa lalu. Seolah “temuan” dan “berita” yang ada valid (belakangan malah tidak berbukti). Kabar-kabar semilir ini menyejukkan hati sebagian muslimin walau sesungguhnya tidak bermanfaat bagi pemajuan kerja peradaban muslimin.
 
Muslimin tidak memerlukan klaim bahkan ketika sejarah emas yang pernah ditorehkan para ulama cum sainstis sering dicuri dan diklaim secara sepihak oleh kalangan lain. Betapapun prestasi muslimin di masa lalu coba disembunyikan pihak lain yang memetik manfaat, kuasa Allah akan hadir. Tak mesti dari tangan muslimin, sebab kadang datang dari kejujuran pihak di luar Islam.

Lihatlah bagaimana keruntuhan keyakinan di jagat akademis Barat bahwa peradaban mereka dengan Renaisans-nya adalah pelanjut otentik (ex nihilo) dari peradaban emas Yunani. Dari temuan tak sengaja Edward Stewart Kennedy dan Victor Roberts, terlebih saat dipublikasikannya artikel Roberts (“The Solar and Lunar Theory of Ibn al-Shatir: A pre-Copernican Copernican Model” di jurnal Isis volume 48 Nomor 4, Desember 1957), sontak menggegerkan kalangan ilmuwan Barat. Apa pasalnya?
 
“Kalau selama ini orang meyakini bahwa sains Eropa di zaman Renaisans itu muncul dengan sendirinya dari nol (ex nihilo), atau—jika berutang budi pun, hal itu karena terinspirasi oleh karya-karya saintis Yunani kuno, maka dengan adanya temuan penting ini, sejarah perkembangan sains di Eropa perlu ditulis ulang dengan mengaitkannya dengan perkembangan sains di dunia Islam,” papar George Saliba dalam Islamis Science and the Making of European Renaissance (2007).
 
Dalam terpuruknya peradaban muslimin abad ke-20, ternyata ada pertolongan Allah melalui tangan orang di luar kita. Kejujuran kerja ilmiah mereka sukar dienyahkan meski barangkali panggilan menyetiai keyakinan dan bangsanya amat besar. Tapi bergeming lebih mereka pilih. Inilah yang lebih patut ditiru dan diperbaiki dari cara muslimin menjayakan lagi peradabannya.  Bekerja dengan kaidah ilmiah dan bersungguh-sungguh. Bekerja bukan untuk membuktikan pikiran apologetiknya bahwa para selebritas sejarah dan kekinian mestilah “diislamkan”. Tidak, kita tidak memerlukan demikian.
 
Menguak fakta amatlah dianjurkan dalam Islam. Tapi memaksakan kesimpulan demi “keislaman” versi diri, bukanlah adab ilmiah seorang Muslim. Muslimin manakala menguasa bumi ini bekerja dengan kejujuran; bukan memanipulasi temuan dan sejarah. Kekeliruan dan kesalahan peradaban lain, termasuk yang berkuasa sekarang, untuk seenaknya membuat tafsiran dan kesimpulan sejarah dengan semena-mena tidak boleh diikuti. Kelak kesimpulan distortif lagi manipulatif itu akan terbayar dengan kejujuran anak cucu. 

*) Kurator Pustaka Lawas Perpustakaan Samben Yogyakarta

Berita Terkait