Sabtu , 17 June 2017, 04:57 WIB

Kasman, Ki Bagus Hadikusomo: Siapa Perumus Sila Pertama Pancasila?

Red: Muhammad Subarkah
geheugenvannederland.nl
Hatta dan Sukarno bersama opsir Jepang
Hatta dan Sukarno bersama opsir Jepang

Oleh: lukman Hakiem*

Mr Kasman Singodimedjo (1904-1982), adalah pemimpin di masa kritis.  Di waktu sekitar Proklamasi Kemerdekaan,  menurut Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, adalah lazim di kalangan para pemuda menyebut trio pemimpin: Sukarno-Hatta-Kasman. Ketika itu,  Kasman adalah tokoh militer paling depan.

"Hanya dengan pimpinan Sukarno-Hatta-Kasman, rakyat dapat digerakkan secara massal, dan kegiatan tanpa disertai ketiga pemimpin ini, dewasa itu akan merupakan gerakan yang hanya setengah-setengah saja," kata Pak Nas.

Bukan Pemimpin Rutin

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan,  tokoh kelahiran Purworejo yang berlatarbelakang pendidikan Barat itu ditunjuk oleh tentara pendudukan Jepang menjadi Komandan Batalyon (Daidanco)  Pembela Tanah Air (PETA) Jakarta.

Sebagai Daidanco paling senior, dalam pertemuan dengan Daidanco se-Jawa dan Madura di Bandung,  Kasman memberi arahan agar --jika Jepang kalah-- persenjataan yang sudah di tangan PETA tidak diserahkan kepada Jepang.

Sehari sesudah Proklamasi Kemerdekaan,  Daidanco Kasman diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menghasilkan Undang-Undang Dasar 1945.
Pada 20 Agustus 1945, PPKI memutuskan membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dengan tugas dan kewajiban: "memelihara keamanan bersama-sama rakyat dengan jawatan-jawatan negeri yang bersangkutan." Otto Iskandar Dinata ditunjuk menjadi Komandan BKR,  dan Kasman menjadi Wakil Komandan BKR.

Oleh karena sejak ditunjuk menjadi Komandan BKR,  Otto tidak pernah muncul --dia hilang dan diduga gugur di daerah Tangerang-- praktis Kasman yang memegang komando BKR. Dalam posisi itu,  Kasman mengkonsolidasikan BKR.

Belum rampung mengkonsolidasikan BKR,  Kasman dipilih menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). KNIP adalah parlemen Indonesia pertama di era kemerdekaan. Dan Kasman menjadi ketuanya yang pertama.

Jabatan Ketua KNIP dipegangnya sampai 15 Oktober 1945, ketika Kasman menyerahkan jabatan itu kepada Sutan Sjahrir.

Lepas dari jabatan Ketua KNIP, Kasman ditunjuk menjadi Jaksa Agung.  Lagi-lagi ini jabatan rintisan,  sebab Jaksa Agung yang pertama (17 Agustus-6 November 1945), Mr. Gatot,  yang tinggal di Purwokerto, karena situasi dan kondisi saat itu, tidak dapat melaksanakan tugasnya secara efektif.

Beruntung pada awal 1930-an Kasman memiliki pengalaman memimpin Jong Islamieten Bond (JIB), sehingga tugas rintisan sebagai Jaksa Agung di masa permulaan kemerdekaan dia laksanakan dengan saksama. Kasman melakukan penyusunan personalia,  menata administrasi, membangun hubungan dengan berbagai instansi pemerintah baik vertikal maupun horisontal, mengeluarkan berbagai instruksi ke segenap jajaran kejaksaan,  dan melakukan kunjungan ke berbagai daerah untuk mengkonsolidasikan aparat kejaksaan.

Setelah melepas jabatan Jaksa Agung,  Kasman diangkat menjadi Kepala Urusan Kehakiman dan Mahkamah Tinggi pada Kementerian Pertahanan dengan pangkat Jenderal Mayor. Setelah itu Kasman ditunjuk menjadi Kepala Kehakiman dan Pengadilan Militer pada Kementerian Pertahanan. Jabatan terakhir Kasman di pemerintahan adalah Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II.

Pada pemilihan umum 1955, Kasman terpilih menjadi anggota Konstituante mewakili Partai Masyumi,  dan dipercara menjadi Ketua Fraksi Islam di Konstituante sebelum kelak diganti oleh K. H. Masjkur. Fraksi Islam di Konstituante terdiri dari Partai Masyumi,  Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia, dan Partai Islam Perti.

Menurut Jenderal AH Nasution, ketampilan ikut memimpin negara dan tentara pada saat-saat yang kritik itu,  tidak akan datang dari "pemimpin-pemimpin rutin". Tugas memimpin di masa-masa kritik pasti jauh lebih berbahaya dan lebih menentukan bagi nasib bangsa, dibanding dengan di masa negara dan tentara telah tegak terkonsolidasi.