Kamis , 18 May 2017, 05:00 WIB
Relasi Dakwah dan Politik (9)

Negara Khilafah

Red: Agus Yulianto
istimewa
Syukri Wahid
Syukri Wahid

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syukri Wahid *)   

Dalam sejarah peradaban hidup manusia, organisasi terbesar yang pernah mereka kelola adalah bernama negara. Organisasi negara juga memiliki beberapa ragam dan jenisnya, namun size atau ukuran negara itu yang selalu berbeda-beda sepanjang zaman.

Sekarang ini, sebagian besar hanyalah mengelola organisasi negara bangsa. Kalaupun ada lebih besar, itu adalah seperti paguyuban negara-negara yang bersatu karena sebuah kepentingan.

Padahal, peradaban dahulu pernah membangun imperium besar seperti Romawi dan Persia dengan luas wilayah yang tidak ada yang bisa menandingi luasnya negara khilafah yang pernah menguasai hampir dua per tiga belahan bumi ini sebelum dia runtuh.

Khilafah itu adalah model global state atau negara dunia, atau bisa seperti konsorsium negara-negara yang membentuk imperium besar. Itulah sebabnya dalam sejarah panjang institusi khilafah Islamiyah hampir selama hampir 1.000 tahun skalanya selalu meluas.

Seiring perluasan wilayah kekuasaan khilafah, maka meluas pula size atau ukuran intitusinya dan wibawanya bertambah besar sebelum akhirnya kekuasaannya terpecah-pecah menjadi negara kecil. Setelah bertahan satu milenium akhirnya runtuh sebagai konsekuensi Sunnah Tadawwul atau hukum siklus pergantian yang pasti dialami manusia.

Sebagaimana yang di Firmankan Allah dalam Surat Ali imran: 14, “...watilkal ayyaamu nudaawiluhaa bainannaas “, yang artinya “demikian hari-hari (menang atau kalah) akan menghiasi kehidupan diantara manusia.”

Yang runtuh adalah lembaga dan institusinya, namun ruh Islam tetap abadi sepanjang masa, karena dia akan mengalir terus dalam tubuh ummat ini. Semua kaidah organisasi memiliki prinsip-prinsip dasar yang sama, walaupun ukurannya berbeda mulai dari yang kecil bernama rumah tangga sampai yang besar bernama daulah atau negara sekalipun,  tetaplah sama kaidah dasarnya.

Negara bisa bubar sebagaimana bubarnya sebuah rumah tangga. Jika ditanya mengapa institusi sebesar khilafah Islamiyah itu bisa runtuh? Maka jawabannya adalah karena saat itu sudah memiliki semua sebab-sebab alasan untuk runtuh. Kemudian mengapa negara khilafah belum terbentuk lagi? karena semua syarat-syarat untuk terbentuknya belumlah mencukupi.

Negara khilafah itu tentang spektrum ukuran dengan ruh Islam sebagai arus utamanya yang dikendalikan otot-otot akal raksasa manusia hebat. Dia tidak serta merta langsung muncul dengan ukuran XL di pentas kehidupan ini. Khilafah Muawiyyah, Abbasiyah, Fathmiyah dan seterusnya hingga sampai ke Utsmaniyah di Turki, awalnya dari seorang diri Rasululah SAW yang diimani keluarga dekatnya saja terlebih dahulu.

Dari rumah beliau ada Khadijah, Ali bin Abi thalib dan Zaid bin haritsah. Dari rumah, memasyarakat, menegara dan kemudian mendunia. Mulai dari membina diri, membina keluarga, membina masyarakat, memperbaiki negara dan seterusnya sampai menjadi ustaziatul ‘alam itu yang kita kenal dengan istilah maratibul ‘amal atau tahapan-tahapan amal dalam dakwah.

Apakah kelak ukuran itu akan kita raih? Tak terlalu penting menyampaikan tentang kelak ukuran baju Islam yang seharunsya adalah XXL agar bisa menampung seluruh kehidupan bumi ini. Namun, hal penting merajut benang-benang amal nyata yang akan menjadi kain kekuasaan, yang dengannya kita buat baju peradaban Islam di tempat kita sekarang berada.

Jangan-jangan kita hanya sibuk memimpikan memiliki toko pakaian yang besar itu, sedangkan sehelai kainpun kita belum punya untuk dijahit menjadi baju yang melindungi umat. Kita berbuih-buih mengatakan zaman khilafah dahulu sangat jaya dan maju di pelbagai bidangnya yang mengundang decak kagum sebagai nostalgia sejarah.

Namun, saat ini, membangun sekolah dasar dengan konsep ruh Islam saja kita tak mampu. Sehingga saya lebih tertarik dengan memperbesar ruang pengaruh dan kapasitas kita, tentang ide dan gagasan yang akan memvirusi seluruh kepala umat kemudian akan mendorong seluruh badannya untuk beramal secara nyata sesuai kehendak gagasan itu.

Ini hanyalah masalah waktu saja, semua kaidah kebangkitan  memerlukan syarat-syaratnya. Tugas kita sekarang adalah menghadirkan seluruh syarat-syarat itu ke dalam agenda perjuangan. Meraih itu semua tidaklah mudah, tangga-tangga untuk kembali merajut permadani peradaban Islam tidaklah gampang, namun bisa, Insya Allah.

“Kita butuh 1.000 tangan untuk membangun, namun hanya butuh satu tangan untuk menghancurkannya,”  setidaknya pesan dari pepatah Arab itu bisa kita renungkan kembali.


*) Pegiat Sosial Politik