Kamis , 27 April 2017, 19:17 WIB

Jejak Kartini dan yang Hilang pada Pendidikan Kita

Red: Fernan Rahadi
dokpri
Muhammad Nur Rizal
Muhammad Nur Rizal

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Nur Rizal

 "Tubuh boleh saja terpasung, namun tidak dengan jiwa dan pikiran kita", sekelumit percakapan antara Kartini dan kakaknya Kartono di awal masa pingitan (masa bagi wanita Jawa dikurung di dalam rumah hingga dilamar oleh lelaki bangsawan). 

 Beruntung, Kartini memiliki kakak kandung Kartono yang diam-diam memberikan kesempatan kepadanya untuk membaca buku-buku tentang perjuangan emansipasi wanita di Belanda. Tak juga kalah penting adalah dukungan ayahnya sehingga Kartini dapat keluar dari pingitan dan berkesempatan belajar serta bertukar pikiran dengan para kaum terpelajar Belanda yang tengah menjalankan politik etis di tengah gelombang perubahan besar saat itu. 

 Dengan membaca dan bertukar pikiran, Kartini tercerahkan dan sadar bahwa kegelisahannya adalah nyata dan perlu solusinya. Tradisi yang mengagungkan dominasi laki-laki di segala bidang, sebaliknya melarang wanita mendapatkan pendidikan tinggi hingga memiliki pilihannya sendiri, kepercayaan masyarakat pada mitos yang sulit membedakan mana fakta dan fiksi, sudah tidak sesuai dengan perubahan zaman. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelar, Kartini menginginkan agar para perempuan Jawa punya kesempatan sama seperti perempuan di negeri Belanda.

 Di masa itu, jika Kartini berjuang penuh lara untuk mendapatkan pendidikan karena dia percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk mengubah masyarakatnya. Bagaimana dengan sistem pendidikan kita saat ini?

 Pendidikan saat ini adalah pendidikan yang kurikulumnya lebih menekankan pada kemampuan menghafal, mendapatkan prestasi nilai ujian nasional (UN) yang tinggi dan diterima di sekolah favorit. Namun bukan pendidikan untuk membangun proses belajar yang benar yang menghasilkan siswa dengan cara berpikir yang mandiri dan merdeka.

 Sistem pembelajaran dan pengajaran yang masih searah dan berdasarkan petunjuk guru mengakibatkan anak didik kurang berani untuk mengemukakan pendapat di muka kelas. Apalagi jika jawabannya tidak sama dengan kunci lembar jawaban, maka anak akan cenderung menarik diri takut disalahkan. Walaupun sudah menempuh pendidikan tinggi dan menjadi sarjana, mereka kurang memiliki ragam pilihan dalam menjalani kehidupan, karena sekolahnya miskin tantangan dan sistemnya membelenggu anak didik untuk menyatakan pendapatnya dengan berani.

 Pendekatan hafalan dan berdasarkan kunci jawaban membuat anak-anak takut bereksplorasi menjelajahi dunia yang tidak berbatas apalagi menggunakan pengetahuannya untuk menjawab persoalan yang ada. Mereka terperangkap menjadi manusia 'penakut' yang tidak berani maju dan berbuat apa-apa.

 Berbeda dengan Kartini, pendidikannya diperoleh secara mandiri dan dipergunakan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat Jepara dengan melatih mereka membuat ukiran wayang yang dijual hingga ke negeri Belanda dan Eropa. Walaupun mitos yang berkembang di masyarakat Jepara kala itu membuat ukiran wayang dapat mendatangkan bencana, Kartini dengan teguh dan dukungan ayahnya mampu menggunakan pengetahuannya untuk meyakinkan masyarakat agar dapat membedakan antara fakta dan fiksi atau dogma yang tidak masuk akal untuk dipercaya.  

 Sedangkan sekolah saat ini lebih sebagai etalase pengajaran yang miskin makna, terpisah dari kehidupan nyata. Guru lebih disibukkan mengurus beban administrasi dan mengejar sertifikasi untuk menunjang kesejahteraan mereka. Bank Dunia pada tahun 2013 melaporkan bahwa peningkatan gaji guru melalui sertifikasi tidak diikuti oleh kualitas pengajarannya sehingga berdampak kecil pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Guru tidak mampu membuat anak-anak tumbuh menjadi manusia dewasa yang dapat berpikir sendiri. Alih-alih tumbuh menjadi anak yang merdeka dan mandiri, mereka justru yang telah berpendidikan tinggi terperangkap dalam ketakutannya sendiri dalam mengambil keputusan, atau sebaliknya terjebak untuk merasa benar sendiri.

 Dalam suratnya kepada Ny Abendanon, walaupun berstatus wanita pingitan, Kartini meminta bertemu dengan Kyai Sholeh Darat untuk menuliskan terjemahan Alquran ke dalam teks bahasa Jawa agar mudah ditangkap esensi-esensinya.

 Karena memilih untuk melakukan perubahan, Kartini membutuhkan referensi baik teks akademis ataupun agama (ayat Alquran) untuk menjadi panduan berpikir dengan tepat. Kartini sadar bahwa referensi yang tepat akan menghasilkan pengetahuan baru, dan keberanian untuk menjelajahi hal-hal baru yang belum terpikirkan sebelumnya.

 Perpaduan tekad, ilmu pengetahuan, agama dan pengalaman kehidupan nyata inilah yang membedakan perjuangan Kartini dibandingkan pahlawan lainnya di Indonesia. Kartini menjelma menjadi sosok emansipatoris dalam mengubah jati diri masyarakatnya dari segala ketertinggalan.

 Ironisnya, pendidikan di Indonesia justru telah meninggalkan jejak-jejak Kartini. Sekolah tidak hadir untuk memberikan tantangan nyata kepada siswanya karena pembelajaran selalu dilakukan di dalam ruang kelas yang monoton dan kaku. Anak tidak dilatih secara sadar untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan bebas mengeksplorasi berbagai sumber referensi (buku, alam hingga internet). Sehingga anak-anak merasa miskin tantangan, dan kemampuan analisis berpikirnya tumpul karena keterbatasan referensi yang dibacanya.

 Berbeda dengan Kartini yang kritis dengan semangat rasa ingin tahu yang tinggi menjadi bekal utama di dalam mengorganisasi dirinya untuk membuat terobosan yang transformatif. Sedangkan, anak-anak kita yang hidup di era milennial, justru terbunuh kreativitas dan kekritisannya oleh sistem sekolah yang hanya memenuhi tuntutan standar nilai pemerintah. Alhasil, mereka tumbuh menjadi pribadi yang gagap menghadapi ketidakpastian karena tidak dapat membuat cara-cara baru.

 Padahal Ki Hadjar Dewantoro menuliskan di bukunya (halaman 17) bahwa tujuan pengajaran adalah ditujukan ke arah kecerdikan murid, selalu bertambahnya ilmu yang berfaedah, membiasakannya mencari pengetahuan sendiri, dan mempergunakan pengetahuannya untuk keperluan umum.

 Pesan inilah yang telah hilang pada sistem pendidikan kita. Karena pendidikan kita terlalu disibukkan oleh urusan kompetisi dan UN. Untuk menangkap pesan itu, yang kita perlukan adalah bekerja sama bukan berkompetisi, yakni mengubah cara kita 'belajar' untuk menghasilkan 'cara berpikir' yang merdeka dan mandiri.  

 “Kamu harus berbagi karena perubahan tidak bisa berjalan sendirian”. (Surat Kartono kepada Kartini).

 

*Inisiator Gerakan Sekolah Menyenangkan yang juga mengajar di UGM