Selasa , 18 April 2017, 00:30 WIB

Catatan Terkait Pertemuan Beberapa Tokoh Agama Bersama Presiden Joko Widodo

Red: Agus Yulianto
istimewa
Dahnil Anzar Simanjuntak
Dahnil Anzar Simanjuntak

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak *)

Sore tadi, sekitar pukul 16.00 WIB, Senin (17/4), saya menjadi salah satu dari beberapa tokoh Islam yang diundang Presiden Joko Widodo, untuk berdiskusi. Pada kesempatan tersebut, Pak Presiden menyampaikan beberapa Hal yang penting, yakni:

Pertama, terkait dengan redistribusi asset/lahan, untuk mempersempit ketimpangan Pak Presiden menyampaikan upaya beliau melakukan redistribusi lahan dan berharap bisa dibangun Kemitraan dengan ormas-ormas Islam untuk membantu memperkecil kesenjangan tersebut.

Kedua, Pak Presiden mengajak para tokoh untuk memperhatikan masalah radikalisme yang bisa mengancam indonesia. Bahkan Presiden Afganistan menyampaikan Pesan agar Indonesia jangan terjebak seperti Afganistan.

Ketiga, terkait dengan Pilkada DKI, Pak Presiden meminta para tokoh agama untuk menyampaikan himbauan dan ajakan yang menentramkan, untuk menghindarkan kondisi inkondisifitas di Indonesia.

Setidaknya, ada 5 Hal yang disampaikan Pak Presiden. Namun, saya mencatat tiga Hal penting itu yang perlu saya sampaikan kepada Publik.

Berangkat dari pernyataan Pak Presiden Joko Widodo tersebut, ada lima orang yang menanggapi, salah satunya adalah saya. Saya hanya Bisa menyampaikan Apa yang saya nyatakan kepada Pak Joko Widodo pada saat pertemuan tersebut.

Ada tiga hal yang saya sampaikan, yakni:

Pertama, saya mengapresiasi upaya Pak Presiden untuk mendorong kebijakan redistribusi asset/lahan sebagai wujud keberpihakan Pemerintah kepada kelompok miskin. Namun, Pak Presiden, beberapa bulan ini Muhammadiyah menerima saudara-saudara kami petani Teluk Jambe, Karawang, Korban konflik agraria, mereka kehilangan lahan, pemerintah daerah tidak berpihak kepada mereka. Sekarang 200 lebih petani Karawang tersebut, ditambah 60 anak ditampung oleh Muhammadiyah.

Sudah sebulan lebih mereka kami tampung. Bagi Muhammadiyah, tidak ada masalah membantu saudara-saudara Kami tersebut, karena salah satu visi dakwah Muhammadiyah adalah membantu Mustad'afin. Namun, sejatinya ada tanggung jawab negara yang harusnya hadir membantu mereka. Maka, saya berharap Pak Presiden untuk turun Langsung menuntaskan masalah ini, sehingga kebijakan redistribusi lahan yang akan Bapak dorong benar-benar memberikan kebermamfaatan untuk masyarakat miskin.

Kedua, terkait dengan radikalisme dan terorisme. Bagi Pemuda Muhammadiyah tugas-tugas deradikalisasi pasti dan terus dilakukan oleh organisasi Islam, terutama yang memiliki komitmen merawat Indonesia. Namun, di tengah upaya-upaya tersebut, menjadi percuma bila radikalisme dan terorisme itu lahir dari kekuatan di luar kendali kami. Yakni, sebutlah kekuatan aparat yang justru melahirkan terorisme, atau justru ada indikasi ternak terorisme sehingga apapun yang kita lakukan justru menjadi percuma.

Ketiga, Pak Presiden. Apa yang terjadi terhadap Novel Baswedan adalah tindakan terorisme terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. Bapak harus terlibat Langsung menuntaskan kasus ini. Bagi saya, seharusnya kasus ini mudah dipecahkan oleh pihak kepolisian kita yang memiliki aparatur lengkap dan hebat. Bahkan, dalam kasus terorisme polisi dengan mudah bisa menjelaskan jejaringnya dan seterusnya. Apalagi cuma kasus penyiraman air keras yang dialami oleh Novel, pasti Polisi mudah mengungkap. Bagi saya tinggal political will saja, jangan sampai kasus Novel ini sama dengan kasus Tama S Langkun di jaman Pak SBY dulu. Maka, saya memohon Bapak memimpin langsung penuntasan kasus ini.

Keempat, terkait permintaan menyampaikan pesan-pesan yang menentramkan jelang Pilkada DKI jakarta, saya sepakat dengan Pak Presiden. Namun, Pak Presiden, produsen kebisingan sesungguhnya adalah dua kandidat dan timsesnya yang sedang bertarung. Saya kira justru permintaan tersebut harus disampaikan kepada mereka, minta komitmen mereka untuk memastikan Pilkada yang bersih dan menjaga kondisivitas. Jangan sampai mereka yang berbuat, tapi para tokoh agama ini yang harus memadamkan. Jadi, saran saya panggil mereka dan tagih komitmen mereka Pak.

Terimakasih Pak Presiden Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Salam

*) Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Berita Terkait