Jumat , 17 Maret 2017, 17:09 WIB

Waspadai Skenario Antasari Azhar Jilid II : Bila Kebenaran Menjadi tak Penting!

Red: Muhammad Subarkah
amri amrullah
Neneng (46) putri bungsu almarhum nenek Hindun (78), warga Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jaksel.
Neneng (46) putri bungsu almarhum nenek Hindun (78), warga Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jaksel.

Oleh : Hersubeno Arief*

Skenario “Antasari Azhar” jilid II tampaknya sudah mulai dijalankan dalam putaran kedua Pilkada DKI. Munculnya laporan ke Bareskrim Polri bahwa  Sandiaga Uno melakukan  penipuan, makin memperkuat bukti  bagaimana  skenario besar itu sedang dimainkan. Laporan ini mengingatkan kita pada aksi Antasari  dalam pilkada DKI putaran pertama. Mantan Ketua KPK yang pernah menjadi terpidana kasus pembunuhan itu, melaporkan mantan Presiden SBY ke Bareskrim. Tuduhannya tidak main-main. SBY terlibat dalam rekayasa menjebloskan dirinya ke penjara.

Apakah kasus itu murni hukum? Tentu tidak. Nuansa politiknya jauh lebih kental. Targetnya jelas menghancurkan elektabilitas Agus-Silvy yang sedang menanjak, dengan mendiskreditkan SBY. Caranya bermacam-macam. Dilakukan sangat terencana, terstruktur, sistematis dan didukung berbagai kekuatan dahsyat di belakangnya. Mulai dari tudingan SBY membiayai berbagai Aksi Bela Islam (ABI), sampai tuduhan bahwa SBY mengorder fatwa penistaan agama melalui Ketua MUI Maruf Amin. Puncaknya adalah laporan Antasari ke Bareskrim. Sebagai senjata pamungkas,  ia diluncurkan pada momen yang sangat krusial, sehari menjelang pencoblosan.

Hasilnya cukup efektif. Elektabilitas Agus-Silvy yang sampai bulan Januari masih terus memuncaki sejumlah survei dan diperkirakan   bakal memenangkan Pilkada, suaranya terus melorot. Dan akhirnya tersingkir di putaran kedua. Bagaimana kelanjutan kasusnya? Tak jelas. Yang penting bagi mereka adalah pembentukan publik opini melalui media. Jangan lupa bahwa dalam kontestasi semacam pilkada, persepsi publik sangat menentukan seorang pemilih dalam memilih kandidat.

Hal itu menjelaskan mengapa ketika ada kabar pendukung Ahok-Djarot dikeroyok, beritanya langsung diekspos dan di-broadcast secara masif. Begitu juga ketika muncul isu jenazah seorang nenek tidak disalati.  Dalam kedua kasus tersebut Ahok secara pribadi bahkan langsung menemui  korban dan keluarga korban. Soal faktanya benar atau tidak? Tidak penting. Adagium bahwa kebohongan yang dilakukan secara berulang, apalagi secara massif, terorganisasi dan terencana, akan menjadi kebenaran, adalah kredo mereka.

Nah pola yang sukses dimainkan dalam putaran pertama,  kembali dimainkan  Ahok-Djarot dan para pendukungnya. Apalagi  sejumlah lembaga  sudah melansir hasil survei. Hasilnya Anis-Sandi akan memenangkan persaingan melawan Ahok-Djarot. Lembaga survei Median misalnya menyebut Anies-Sandi akan menang dengan selisih margin  6,6 persen. Anies-Sandi memperoleh  46,3 persen dan Ahok-Djarot  39,7 persen. LSI Denny JA malah menyebut Anies-Sandi unggul 9,2 persen. Anies-Sandi memperoleh 49,7 persen dan Ahok-Djarot 40,5 persen.

Prediksi bahwa Ahok-Djarot akan kalah ini sebenarnya tidaklah mengagetkan. Menjelang Pilkada putaran pertama 15 Februari lalu hampir semua lembaga survei menyebut, bila sampai memasuki putaran kedua, maka siapapun lawannya , maka  Ahok-Djarot, akan kalah. Saat ini kekalahan itu sudah di depan mata. Jalan yang paling efektif untuk men-dowgrade Anies-Sandi ya melalui bongkar-bongkar berbagai kasus. Syukur kalau mendapatkan fakta yang kuat. Kalau tidak juga tidak apa-apa, yang penting muncul di media dan sampai ke publik.