Kamis , 16 Maret 2017, 15:25 WIB
In Memoriam KH Hasyim Muzadi

Hasyim Muzadi, Kisruh Arema dan Persebaya: Apa Aku Ini Pemadam Kebakaran?

Red: Muhammad Subarkah
Antara/Widodo S. Jusuf
KH Hasyim Muzadi
KH Hasyim Muzadi

Oleh: Alief Syachviar *

Suatu hari dibulan Ramadhan, saya akan diajak almarhum Haji Santo, manajer Persebaya, ketika itu (2003/4) untuk pergi, namun tanpa diberi tahu ke mana dan urusan apa.

Besoknya sesuai janjinya almarhum Haji Santo tengah malam sudah menelepon supaya saya bersiap siap. Almarhum sudah menunggu di lobi hotel tempat saya menginap di Surabaya. Akhirnya sekitar pukul 03.00 dini hari kami pergi dengan mobil kijang kapsul. Dalam perjalanan almarhum masih saja tidak memberi tahu saya mau kemana dan urusan apa.

Dari dalam mobil sambil nyandar karena ngantuk saya perhatikan mobil masuk tol mengarah ke Pasuruan.  Jelang pagi saya ditanya apakah puasa ? Mungkin karena dia tahu saya tidak sahur karena berangkat di sepertiga malam. Saya jawab: "Iya Ji saya puasa... almarhum diam dan melanjutkan perjalanan."


Ternyata perjalanan kami pagi itu menuju ke kota Malang, tapi saya tetap tidak tahu apa urusannya. "Mau ke mana ini Ji?" Tanya saya. "Wes melok ae,” jawabnya santai.

Menjelang masuk kota Malang, tiba-tiba mobil berputar dan menuju ke sebuah pesantren. Saya tidak mau tanya lagi, sebab sejak awal alamarhum tidak mau menyebutkan mau ke mana dan urusan apa. Tapi didalam hati saya menyatakan, loh? Bukankah ini tempat KH Hasyim Muzadi? Saya masih mikir ada apa gerangan pagi pagi saya diajak ke rumah (pesantren) KH Hasyim Muzadi.

Benar saja, mobil yang kami tumpangi langsung masuk dan parkir dihalaman rumah KH Hasyim Muzadi. Turun dari mobil saya langsung diajak masuk oleh almarhum ke dalam ruang tamu. Kami duduk di bawah bersila , hanya saya dan almarhum Haji Santo di dalam ruangan. Selang beberapa menit, KH Hasyim Muzadi menghampiri dan menyapa kami dengan ramah. Beliau menyapa. almarhum dengan sebutan: "Kaji Santo... bal balan (sepak bola).”


Mendengar sapaan Kiai Hasyim, almarhum H Santo tersenyum sambil membetulkan posisi kaca mata bundarnya yang khas itu.

Rupanya dari pembicaraan antara alarhum haji Santo dengan beliau pagi itu baru saya mengerti. Intinya almarhum H Santo meminta bantuan KH Hasyim Muzadi untuk meredakan 'tensi' antara suporter Persebaya dan Arema terkait proses transfer sejumlah pemain dari Arema ke Persebaya ketika itu. Salah satunya kiper Hendro Kartiko. Transfer pemain tersebut membuat tensi hubungan suporter memanas, bahkan mendidih. Sampai sampai diibaratkan Jatim siaga satu.

Rupanya KH Hasyim Muzadi mengetahui kondisi sepakbola di Jatim saat itu. "Opo aku iki pemadam kebakaran ta Ji (Apa aku ini pemecam kebakaran Ji), ” ujar beliau sambil bergurau kepada almarhum H Santo.

Setelah obrolan hangat pagi itu, menjelang siang tiba-tiba datang orang nomor satu di Arema ketika itu yang juga bos besar perusahaan rokok Bentoel.

Ternyata hari itu KH Hasyim Muzadi menjadi penengah dan memberikan banyak nasihat bagi Persebaya dan Arema untuk menyudahi perselisihan panas transfer pemain. Sambil duduk bersila, beliau memberikan pesan agar urusan bal balan jangan sampai menbuat hal yang tidak baik, apalagi sampai ancam mengancam. Kata beliau: “Bal balan itu cuma kan cuma 90 menit!”

Akhirnya hari itu KH Hasyim Muzadi menjadi penengah dan kami semua bersalaman serta berfoto. Pak Daryoto Arema, KH Hasyim Muzadi, dan alm Haji Santo Persebaya.

Pertemuan itu membuat kami semua lega. Dan itulah kesan saya mendalam kepada KH Hasyim Muzadi. Teriring doa, shalawat, dan salam untuk beliau, semoga Allah SWT mengangkat derajat beliau, amin YRA.

*Alief Syachviar, Pengamat Sepak Bola