Rabu , 15 Maret 2017, 14:10 WIB

Pornografi tidak Berbahaya? Terlalu!

Red: Agus Yulianto
COMMON WIKIMEDIA
Anak dengan komputer. Orangtua harus mengawasi anak dalam penggunaan teknologi dan layanan di internet untuk menghindarkan mereka dari pornografi.
Anak dengan komputer. Orangtua harus mengawasi anak dalam penggunaan teknologi dan layanan di internet untuk menghindarkan mereka dari pornografi.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Azimah Subagijo *)

Bisa jadi di antara kita masih ada orang yang menganggap pornografi itu tidak berbahaya. “Pornografi cuma gambar, kok. Apa bahayanya?” demikian sebuah pendapat. Pendapat lain, ”Pornografi tidak berwujud senjata atau benda tajam, atau bahkan narkoba atau arak yang memabukan dan merusak, jadi tidak ada bahayanya.” “Pornografi mungkin berbahaya kalau untuk anak-anak, tapi untuk orang dewasa bisa bermanfaat, misalnya untuk variasi hubungan suami-istri,” demikian pendapat berikutnya.

Tapi benarkah demikian? Haruskah sesuatu itu berwujud benda tajam, racun yang mematikan, obat yang berbahaya jika ditelan secara fisik, atau untuk kelompok umur tertentu berbahaya untuk yang lain tidak?
   
Pendapat-pendapat yang menyatakan pornografi tidak berbahaya atau terbatas bahayanya masih banyak beredar di lingkungan kita. Padahal, pendapat tersebut sesungguhnya menyesatkan. Setidaknya membuat banyak kalangan abai terhadap pornografi, apalagi jika bukan dirinya, atau keluarganya yang menjadi korban.

Menggunakan media (media massa)
   
Poin pertama, pornografi sesungguhnya berbahaya terutama karena ia menggunakan media atau media massa. Muatan pembangkit hasrat seksual ini bisa hadir mulai dari yang semi eksplisit, vulgar, hingga menyimpang yang dengan mudah dan cepat tersebar di masyarakat dengan menggunakan media. Pengakses media inipun bisa siapa saja. Bisa orang dewasa yang mampu mengkontrol dirinya, hingga anak-anak usia sekolah yang tak sengaja mengakses saat mengerjakan PR.
   
Jika ada yang masih menyangsikan apakah media berdampak, kita sesungguhnya bisa belajar dari para produsen barang dan jasa yang ramai-ramai mengeluarkan uang triliunan rupiah untuk belanja iklan di berbagai media. Artinya, tidak mungkin mereka mau mengeluarkan uang tersebut, jika apa yang mereka iklankan tidak berdampak pada perilaku konsumen membelanjakan uangnya untuk membeli produk atau jasa mereka. Dan tentunya, bila muatan media tersebut adalah muatan pornografi, pastilah dampaknya sangat terasa.

Bagaimana jika seseorang melakukan aktivitas porno tanpa disebar di media? Jika hal ini yang dilakukan, tentu ini tidak termasuk kategori pornografi. Seseorang beraktivitas porno di ruangan tertutup, itu menjadi urusan orang tersebut dengan Tuhan. Akan tetapi, bila kegiatan porno itu kemudian diunggah ke dunia maya melalui berbagai perangkat media, maka bukan hanya menjadi urusan Tuhan. Tapi, juga urusan hukum negara dan juga sanksi sosial di masyarakat. Hal ini karena media sesungguhnya adalah ranah publik, yang jangkauannya sangat luas bahkan hingga mancanegara. Inilah bedanya!

Memuat ideologi desakralisasi seks
 
Poin kedua yang perlu kita ingat adalah pornografi berbahaya karena ia memuat ideologi desakralisasi seks atau seks yang tanpa landasan kesucian alias ikatan pernikahan yang sah. Maksudnya adalah tanpa sakralisasi seks, orang bisa hidup bersama dengan orang lain dalam waktu tertentu tanpa perlu menikah.

Tanpa ikatan pernikahan, tanggung jawab terhadap pasangan menjadi melemah. Begitu salah satu pasangan terpesona oleh pasangan lain, dengan mudah ia meninggalkan pasangannya semula tanpa ‘terbelenggu’ oleh ikatan apapun. Hal ini karena muatan pornografi tidak pernah berisi peringatan: ”Don’t Try This at Home!”, misalnya, dan hampir dapat dipastikan, jika sangat intens menyaksikan materi pornografi, seseorang akan terbangkitkan juga hasrat seksualnya dan meninggalkan pasangannya.

Hal serupa juga mungkin dialami oleh mereka yang sudah ‘kepalang’ menikah. Ada seorang ibu di sebuah forum dengan lantang menyatakan pendapatnya bahwa pornografi tidak berbahaya untuk orang-orang yang sudah menikah. Menurutnya, pornografi justru bisa menjadi inspirasi variasi dari hubungan seks mereka.

Pada orang-orang semacam ini, penulis hanya memberikan sebuah analogi tentang kenyamanan mengendarai mobil  Mercy S-Class dengan Bajaj. Seseorang yang mengakses pornografi ibaratnya ia sedang melihat dan menggunakan mobil Mercy S-Class yang sangat nyaman, namun begitu ia pulang ke rumah, ia menyaksikan pasangan hidupnya (istri/suaminya) seperti Bajaj, tentu mengecewakan, bukan? Dan akibatnya adalah muncul perilaku perselingkuhan atau perceraian.

Dampak lain desakralisasi seks adalah peningkatan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks, terutama AIDS. Tanpa kesetiaan pada satu pasangan dalam lembaga pernikahan, orang dengan mudah berganti-ganti pasangan hubungan seks. Ada yang menganggap kondom adalah salah satu jawaban, namun banyak juga penelitian yang menemukan fakta bahwa masih ada begitu banyak persoalan yang mengganggu keterandalan kondom (dari kualitas kondom, kesalahan cara penggunaan, keengganan untuk menggunakan dalam aktivitas seks yang bergelora dan liar, dan sebagainya).

Merusak fisik dan psikis
   
Poin berikutnya dari bahaya pornografi adalah dampaknya yang mampu merusak fisik dan psikis seseorang. Victor B Cline, ahli psikoanalis Amerika sejak tahun 1986 telah menganalisa bahwa orang-orang yang intensitasnya tinggi berinteraksi dengan pornografi maka mereka akan mengalami 4 tahap kerusakan psikis, yaitu: (1) ketagihan/addiction, (2) Eskalasi/escalation, (3) desensitisasi, (4) pelampiasan/ act out. Tidak peduli apakah ia orang dewasa apalagi anak-anak, maka interaksi yang tinggi dengan materi-materi pornografi pada gilirannya akan membuat seseorang menjadi ketagihan. Hidupnya tidak tenang bila belum melihat atau mengkonsumsi pornografi.

Semula materi pornografi yang dikonsumsinya mungkin masih semi porno atau sekadar seseorang dengan baju minim, namun lama kelamaan ia akan meningkatkan (eskalasi) muatan pornografinya menjadi lebih vulgar, lebih aneh, dan lebih sadis. Akibatnya, kontrol moral dalam dirinya pun menjadi blong. Dia sulit untuk membedakan mana hal-hal yang pantas atau tidak pantas (desensitisasi), dan terakhir, jika hasrat seksualnya tidak terbendung lagi, maka ia akan mencari pelampiasan dalam perilaku seks yang nyata (act out).
 
Sebagai bentuk pelampiasan, sebagian orang akan cukup hanya dengan berfantasi atau masturbasi, namun sebagian yang lain bisa hingga melakukan hubungan seks dengan pasangannya (istri/suami, atau pacar), atau mencari pekerja seks komersial, binatang atau bahkan menjadi predator bagi orang lain termasuk anak-anak. Sungguh mengerikan!

Kondisi ini diperparah karena secara fisik, orang yang kecanduan pornografi atau maniak pornografi ini memang tidak mudah terdeteksi. Berbeda dengan orang yang kecanduan narkoba atau alkohol, fisik mereka terlihat lebih kurus atau kerempeng, badan limbung, dan bicaranya pun kacau. Hal ini karena pornografi tidak menyerang anggota tubuh manusia yang terlihat, melainkan bagian dari tubuh yang tidak terlihat yaitu otak. Temuan kerusakan otak akibat pornografi ini adalah hasil analisis Dr. Donald Hilton, pada akhir tahun 1990 an. Bahkan temuannya mengungkap fakta kerusakan otak akibat pornografi lebih besar dibandingkan dengan narkoba.
 
Sayangnya, bagian otak yang dirusak pornografi (prefrontal cortex) justru adalah bagian yang sangat penting bagi manusia. Bagian ini adalah bagian yang membedakan manusia dengan hewan. Maka Tak mengherankan bila orang yang kecanduan pornografi sudah tidak dapat membedakan mana yang benar atau salah, mana yang pantas dan tidak pantas, bahkan pada titik tertentu perilaku mereka lebih buruk dari binatang.

Dari gambaran bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh pornografi, dalam kesempatan ini penulis mengajak untuk kita melihat fenomena di sekitar kita lebih jeli. Betapa Tuhan menciptakan makhluk itu berpasang-pasangan. Seekor Singa Jantan maka lazimnya ia akan menyukai Singa Betina, Ayam Jantan akan berpasangan dengan Ayam betina, begitu juga dengan domba, gajah, kerbau dan sebagainya. Tapi bagaimana dengan perilaku seks orang yang kecanduan pornografi? Berbagai berita di media massa mengungkap fakta bahwa akibat kecanduan pornografi, da orang yang berhubungan seks dengan ayam, itik, dan kambing.

Tak sedikit pula perilaku incest antara ayah dengan anak, paman dengan kemenakan, atau antara anak dengan anak. Atau bahkan perilaku seks yang menyukai sesama jenis, seks berkelompok, atau dengan kekerasan dan sadisme. Sungguh kejadian ini sudah membuktikan betapa manusia bisa dalam kondisi lebih buruk dari binatang akibat pornografi. Dan parahnya, kini kita semakin sering mendengar hal tersebut terjadi di sekitar kita belakangan ini. Untuk itu, sudah saatnya mari kita sadari bahaya pornografi. Jangan tunggu hingga orang terdekat kita yang menjadi korbannya. Lakukan segala bentuk pencegahan sejak sekarang. Kalaupun masih ada orang yang mengatakan pornografi tidak berbahaya, sampaikan pada mereka: Ter-la-lu!


*Ketua Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi