Selasa , 14 February 2017, 01:00 WIB

Melihat Monas Sebelum Tumbang

Red: Agus Yulianto
istimewa
Soenarwoto
Soenarwoto

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono *)

Sebelum pulang ke Jawa, setelah ikut Aksi 112 (dzikir dan berdoa) di Masjid Istiqlal, dari atas kereta di Stasiun Gambir, sahabat saya melihat Monas. Ditatapnya erat-erat. Tidak cuma sesaat, tapi dipandanginya berlama-lama. Matanya tidak berkedip. Ia sedang takjub melihat Monas.

Monas memang menawan. Menjulang setinggi 132 meter, dan ujungnya mengkilap berlapiskan emas seberat 38 kg. Konon, 28 kg emas di antaranya sumbangan dari Teungku Markam, pengusaha dermawan muslim asal Aceh. Tugu yang berdiri tegak di tengah Lapangan Medan Merdeka Jakarta Pusat itu dibangun pada 17 Agustus 1961 di bawah Presiden Soekarno.

Pendiriannya, sarat dengan nilai sejarah perjuangan bangsa. Monas melambangkan semangat rakyat Indonesia yang berkobar dalam melawan penjajah atau kolonial Belanda. "Untuk semangat ini, saya melihat Monas. Saya takut, Monas esok sudah tumbang," kata sahabat.

Haah! Teman-teman lain yang mendengar terperangah. Memang bisa tumbang? "Sangat bisa. Coba simak sejarah silam. Sejarah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit," jawab sahabat dengan tegas.

Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang itu pernah berdiri sekitar 350 tahun. Dalam kurun itu pernah mengalami masa kejayaan, yang wilayahnya tak hanya mencakup nusantara, tapi lebih dari itu. Sejumlah negara di Asia Tenggara dulu  pernah bertekuk lutut di bawah kekuasaan Sriwijaya. Demikian pula dengan Kerajaan Majapahit yang berpusat di Mojokerto.

"Dulu, Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit juga pernah jaya membentuk pemerintahan seperti Indonesia. Tapi, kedua kerajaan besar di nusantara itu hancur. Kini yang tersisa hanya Candi Muaratakus sebagai situs peninggalan kerajaan Sriwijaya, dan situs Trowulan sebagai peninggalan kerajaan Majapahit," jelas sahabat.

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, menurut sejarah, karena saat itu masyarakatnya sudah tidak ada lagi rasa persatuan dan kesatuan. Penguasa dan petinggi kerajaan hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya masing-masing. Bahkan mereka berusaha saling menjegal.

Mereka saling melancarkan intrik politik tak bermoral, melempar fitnah dengan kejam, dan menerapkan cara-cara yang biadab. Mereka tak mengindahkan nilai-nilai keluhuran budi dan ajaran agama. Mereka asal menang dalam berebut tampuk kekuasaan. Persetan dengan keluhuran budi dan ajaran agama.

Penegakan hukum tumpul. Yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan. Jungkir balik. Hukum diberlalukan sesuai selera penguasa. Buntutnya ekonomi jadi merosot. Di sinilah kemudian bermunculan pengkhianat-pengkhianat bangsa. Mereka bersekutu dan berkomplot dengan bangsa lain untuk merongrong negerinya sendiri.

"Kondisi bangsa kita sekarang ini sudah nyaris seperti itu. Jika terus begini, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan bernasib seperti Sriwijaya dan Majapahit. Nanti yang tersisa hanya Monas. Itu kalau tidak keburu dijarah orang sebelum Indonesia bubar," pungkas sahabat ketika kereta mulai bergerak meninggalkan Jakarta.

*) Penulis tinggal di Surabaya, Jawa Timur