Jumat , 10 Februari 2017, 12:30 WIB

Sindrom Fir’aun

Red: Agus Yulianto
Firaun
Firaun

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: drg. Syukri Wahid *)

Begitulah dia, lewati malam dan siangnya tanpa rasa tenang, diselimuti rasa takut yang diciptakan sendiri. Dirinya selalu dihantui pikirannya tentang cikal bakal kelahiran sang "rivalnya".

Kekuasaan dan singgasana yang telah diraihnya enggan dilepaskan, apalagi jika direbut. Tapi Allah SWT telah menyiapkan untuknya sebuah takdir.

Saat ketakutannya memuncak, mulailah dia melakukan sweeping pada setiap wanita hamil di negerinya. Rakyatnya disensus untuk mengetahui kapan prediksi mereka akan melahirkan.

Sejak itu, seluruh wanita hamil selalu di awasi oleh pasukan keamanan raja, sebab Fir'aun ingin tiap anak laki-laki yang lahir harus di bunuh. Baginya membiarkan kelahiran bayi laki-laki adalah sama saja menggali kuburan kekuasaannya.

Fir'aun mencurigai setiap rakyatnya, selalu gelisah jika melihat pasangan yang menikah: jangan-jangan dari mereka kelak bayi Nabi itu yang akan lahir dan menjadi musuhnya kelak, begitu batin Fir’aun.

Rakyat dihantui dan raja yang menghantui. Cocok sudah menjadi rezim yang sakti dan sekaligus sakit.

Rakyat dicabut haknya untuk hidup dan bahagia. Firaun tidak kuatir, karena daya dukung kekuasaannya datang dari pelbagi faktor. Ada Qorun sebagai pemodal dan penentu ekonomi saat itu, ada Haman yang selalu terdepan dalam menjaga isu stabilitas kerajaan dengan bala tentara yg banyak.

Tak lupa pula peran seorang Samiri juru "pencerah" akademisi yang membuat pengikut Musa As kehilangan bakarnya, dengan hujjah dan dalil membuat mereka semua bisa menyembah patung Sapi.

Sindrom Fir'aun adalah sejenis kumpulan gejala-gejala penyakit kekuasaan. Meminjam istilah Ibnul Qayyim bahwa Zunub Sulthaniyah atau dosa kekuasaan termasuk dosa yang besar. Karena kekuasaan bisa menjerumuskan pelakunya menyerupai sifat-sifat Tuhan.

Itulah sebabnya Fir'aun berkata, "Aku adalah Tuhanmu yang paling tinggi.” Begitu akut kesombongannya. Ia merasa aman lantaran ada Haman, Qorun dan Samiri yang menyertainya. Maka sempurnalah tirani Fir'aun kepada rakyatnya.

Bagaimana di Indonesia?


*) Ketua Komisi I DPRD Balikpapan