Rabu , 08 February 2017, 10:07 WIB

Aksi "Today I am a Muslim Too" di New York

Red: Agus Yulianto
Getty Images
Ustaz Shamsi Ali saat mengikuti aksi bertema 'Today I am Moslem too' di New York City, Selasa (7/2).
Ustaz Shamsi Ali saat mengikuti aksi bertema 'Today I am Moslem too' di New York City, Selasa (7/2).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Imam Shamsi Ali *)

Meningginya Islamofobia di Amerika Serikat dan terjadinya kasus-kasus kekerasan kepada komunitas Muslim menimbulkan banyak keresahan, kekhawatiran, bahkan ketakutan kepada komunitas Muslim. Sejak memulai kampanye hingga terpilihnya Presiden Trump telah berhasil menebarkan racun ketakutan dan kebencian kepada sebagian masyarakat Amerika, yang memang selama ini sangat salah dalam memahami Islam dan pengikutnya.

Puncak dari semua itu adalah dikeluarkannya executive order atau dikeluarkannya aturan melarang pendatang dari tujuh negara mayoritas Muslim untuk basuk Amerika. Keputusan pelarangan tersebut segera menyulut protes, bahkan kemarahan tidak saja warga Muslim Amerika, tapi juga masyarakat luas non-Muslim di Amerika. Demonstrasi terjadi di mana-mana, khususnya di berbagai bandara internasional di berbagai kota Amerika.

Keputusan itu bahkan memicu drama di kalangan pejabat Amerika sendiri. Acting Attorney General atau Jaksa Agung Amerika menentang untuk melaksanakan keputusan pelarangan itu dan berakhir dengan pengunduran diri, lalu disusul oleh pemecatan oleh Presiden Donald Trump. Pada akhirnya memang keputusan Trump (executive order) itu dibatalkan oleh Hakim Tinggi Amerika. Permintaan banding Trump ditolak kembali oleh Hakim Agung untuk kedua kalinya.

Solidaritas warga Amerika

Barangkali salah satu hikmah terbesar dari hadirnya Donald Trump di kancah perpolitikan Amerika dengan berbagai konsekuensi buruk itu adalah tumbuhnya empathy dan solidaritas tinggi dari masyarakat Amerika secara luas. Dari kalangan pejabat yang secara politik berseberangan dengan Donald Trump, khususnya mereka yang berafiliasi dengan Partai Demokrat, hingga kepada pebisnis seperti pemilik Facebook, pimpinan agama termasuk Yahudi, pengamat dan ahli, masyarakat Hollywood, hingga kepada masyarakat luas.

Rally dan demonstrasi yang terjadi di mana-mana, mulai dari jalan-jalan, depan Trump Tower, kantor-kantor pemerintahan, bandara-bandara, hingga ke White House dan Kongres pada umumnya diinisiasi dan diramaikan oleh teman-teman Amerika non-Muslim. Mungkin yang unik disebutkan di sini adalah keterlibatan masyarakat Yahudi membela hak-hak Muslim di berbagai kesempatan.

Dukungan dan solidaritas teman-teman non-Muslim yang masif ini menjadi salah satu faktor pressure yang menjadikan Hakim Agung Amerika membatalkan keputusan Presiden Trump itu.

Rally "Hari ini saya juga adalah Muslim".

Dukungan dan solidaritas teman-teman non-Muslim di Amerika tidak saja resistansi terhadap keputusan pelarangan Donald Trump terhadap Muslim dari tujuh negara itu. Tapi memang sejak lama ketika fenomena Islamofobia dan anti-Muslim meninggi di Amerika.

Di tahun 2010 misalnya, ketika Komunitas Muslim New York akan membangun sebuah Islamic Center rekat Ground Zero (WTC) masyarakat Amerika termakan oleh politisasi isu agama ini oleh sebagian politikus Amerika. Salah satu di antaranya adalah Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security) di Kongres Amerika ketika itu, Peter King dari Long Island New York. Dalam kapasitas itu Peter King ingin mengadakan hearing (dengar pendapat) dengan tema: 'Radikalisasi Muslim Amerika'.

Tema dengar pendapat ini tentu sangat menyinggung bahkan menyakiti masyarakat Amerika. Karena asumsi yang terbangun kemudian adalah bahwa masyarakat Muslim Amerika sedang mengalami proses radikalisasi. Apalagi rencana tersebut dibangun di atas sebuah laporan pihak yang tidak bertanggung jawab bahwa 70 persen masjid-masjid di Amerika dikuasai oleh kelompok radikal.

Menyikapi ini teman-teman non-Muslim sangat terusik, bahkan menganggap isu tersebut bukan lagi isu kelompok tertentu. Melainkan isu nasional karena dinilai bertentangan dengan dasar konstitusi yang menjamin keadilan untuk semua (justice for all) sekaligus menginjak-injak nilai yang dijunjung tinggi Amerika (American value) dalam toleransi dan kebebasan beragama.

Merespons terhadap rencana itu saya pribadi didatangi oleh banyak teman-teman pimpinan agama di kota New York menanyakan jika mereka dapat membantu ketidakadilan (unfairness) sikap dari ketua Homeland Security itu. Dan mereka mengusulkan jika komunitas Muslim mengadakan rally atau demonstrasi dengan tema: "Today I am a Muslim too" (hari ini saya juga seorang Muslim).

Kini dengan keadaan sosial yang cukup tegang, mengkhawatirkan, bahkan menakutkan dan seolah tidak menentu, warga Muslim kembali mendapat dukungan dan solidaritas yang luar biasa dari teman-teman warga Amerika non-Muslim. Termasuk mengusulkan agar kembali diadakan rally atau demonstrasi dengan tema yang sama di tahun 2010 itu.

Tentu sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan segera saya tangkap tawaran itu. Dan dalam waktu sekejap rencana itu diamini oleh berbagai kalangan komunitas antar agama, Yahudi, Kristen, Budha, Hindu, dan Sikh. Bahkan organisasi-organisasi massa nonagama juga menyatakan ingin bergabung membela komunitas Muslim.

Rencana rally ini akan dilangsungkan pada tgl 19 Februari, dengan mengambil tempat di Time Square, pusat kota New York. Untuk keperluan logistik dan perizinan kami telah melibatkan teman-teman Muslim di kepolisian kota New York (NYPD).

Sebagaimana pada 2010 lalu, selain pimpinan agama-agama besar dan berpengaruh di Amerika, juga akan terlibat langsung bahkan dalam perencanaannya adalah Russell Simmons, Hiphop mogul yang sangat terkenal dan berpengaruh di lingkungan Hollywood.

Rencananya juga rally akan dihadiri oleh para aktivis dan pejabat tinggi seperti wali kota dan gubernur negara bagian New York. Insya Allah!

New York, 7 Februari 2017

* Presiden Nusantara Foundation.

Berita Terkait