Jumat , 10 February 2017, 06:30 WIB

Indonesia, Semoga tak Jadi Rohingya

Red: Agus Yulianto
istimewa
Soenarwoto
Soenarwoto

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono *)

Seorang jamaah umrah pulang dari Madjidilharam tampak berkaca-kaca bola matanya. Ia terlihat sedih dan seperti hendak menangis. Lalu kepada teman-temannya bercerita, ia baru saja bertemu dengan seorang pemuda Rohingya, yang mendedah rasa rindunya.

Rindu pada kampung halamannya. Rindu ingin bertemu dengan orangtuanya, rindu ingin bercanda dengan adik kakaknya, dan rindu ingin bercengkrama dengan teman-teman sepermainan di kampung halamannya. Ia rindu hidup seperti sediakala. Tak ada konflik dan kegaduhan. Ya, di Rohingya.

Tapi, rindu-rindu itu tidak mudah diwujudkannya. Bukan karena Arab Saudi jauh dari Rohingya. Bukan pula tak punya ongkos pulang ke Rohingya. Tapi, jika dipaksakan pulang rindu, malah nyawa taruhannya. Ia bisa mati dicincang tentara Myanmar.

Ada genosida di sana. Semua etnis  Rohingya dibunuh tentara Myanmar.

Para bhiksu yang mengajarkan kedamaian malah jadi motornya. Pemerintah berkuasa penyokong utamanya. Entah mengapa begitu. Padahal sebelumnya, semua etnis hidup rukun. Berdampingan. Saling bahu-membahu dan bekerja sama, dalam hidup berbangsa dan bernegara. Damai.

Tapi rumah-rumah milik warga Rohingya tiba-tiba dibakar, juga rumah-rumah ibadah (mushala dan masjid) dimusnahkan pula. Mereka yang  masih hidup diusir dari tanah kelahirannya. Mereka semua harus enyah dari Birma. Ya, etnis Rohingya.

"Saya tak berani pulang ke Myanmar. Apalagi saya merantau di Arab Saudi, setiba di Myanmar saya pasti dibunuh tentara Myanmar. Sudah banyak pemuda Rohingya pulang cuma setor nyawa," ucap pemuda itu dengan meneteskan air mata.

Rindu-rindunya pada tanah kelahiran dikubur dalam-dalam di ceruk hatinya. Sudah 10 tahun pemuda itu hidup di rantau. Beruntung, pemerintah Arab Saudi arif lagi bijaksana. Memberi kesempatan hidup di negerinya; termasuk memilih kerja yang di suka. Ada sekitar 6.000 warga Rohingya terpaksa mencari suaka tinggal di Arab Saudi.

"Meski hidup di sini cukup terjamin, tetap saja rindu kampung halaman. Tapi lagi-lagi jika nekad pulang terancam nyawa. Etnis Rohingya di bantai, orang Islam dibunuh," keluhnya dengan nada getir.

Maka, mau tak mau, mereka semua etnis Rohingya, harus tinggal di Arab Saudi, hidup dalam perantauan. Mengubur rindu pada kampung kelahirannya, melupakan orang tuanya, adik dan kakaknya, serta teman-teman sepermainannya. Tapi, namanya juga tanah kelahiran, merindu itu selalu mengusik jiwanya.

Mendengar cerita itu seluruh jamaah larut dalam kesedihan. Lalu, mata mereka menerawang pada tragedi silam (tahun 1965). Dimana pada sebuah zaman ketika kiai dan santri, atau orang-orang Islam dibantai dengan biadab oleh gerombolan PKI. Dan, sayup-sayup kini gerakannya konon sudah kembali laten.

"Ya Rabb, semoga Indonesia tak menjadi Rohingya. Orang Islam dibunuh dan diusir dari tanah kelahirannya. Ya Rabb, semoga tidak terulang lagi tragedi 1965," panjat para jamaah Indonesia. Aamiin.


*) Penulis tinggal di Surabaya