Selasa , 07 February 2017, 10:00 WIB

Islamofobia, Dunia dan Indonesia

Red: Fitriyan Zamzami
Republika/ Raisan Al Farisi
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan kepada awak media di Wisma Proklamasi, Jakarta, Rabu (1/2).
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan kepada awak media di Wisma Proklamasi, Jakarta, Rabu (1/2).

Oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 Republik Indonesia 

Bulan Mei 2016 yang lalu, saya menghadiri pertemuan Wise Persons Council Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah, Saudi Arabia. Ada tiga orang yang diangkat menjadi Wise Persons Council ini, yaitu mantan presiden Turki Abdullah Gul, mantan presiden Nigeria Abdulsalami Abubakar, dan saya sendiri. 

Dalam pertemuan maraton yang produktif tersebut, saya menyampaikan pandangan bahwa Islamofobia dan ketegangan Islam dengan Dunia Barat tampak makin meningkat. Kalau dibiarkan, kondisi dan situasi seperti ini tidak baik. Negara-negara Islam dan OKI harus bisa memerangi Islamofobia ini, agar Islam mendapatkan tempatnya yang terhormat di panggung dunia, serta bebas dari rasa kebencian dan permusuhan pihak mana pun. Menyangkut hubungan Islam-Barat, kedua belah pihak harus bisa pula mengurangi derajat ketegangan bahkan permusuhan ini dengan efektif.

Dalam kaitan ini, kebijakan Presiden Trump yang melarang dan membatasi masuknya orang-orang Islam ke Amerika Serikat saya pandang bertentangan dengan semangat yang hendak kita bangun ini.

Tidak ada resep yang ajaib untuk mengatasi baik Islamofobia maupun ketegangan Islam-Barat. Masalahnya kompleks, sensitif, dan delicate. Akar dari Islamofobia, kebencian dan buruknya hubungan Islam-Barat adalah rendahnya toleransi, tenggang rasa, dan saling pengertian yang mendalam. 

Perbaikan terhadap tiga akar permasalahan ini mesti dilakukan secara bersama oleh dunia Islam dan dunia Barat. Jika ke depan ini kita bisa memperkuat toleransi, ketenggangrasaan, dan saling pengertian, permasalahan mendasar ini dalam batas-batas tertentu akan dapat kita atasi. Insya Allah, makin ke depan dunia akan makin damai, paling tidak, dalam jangka menengah tidak makin memburuk.

Maaf mengatasi isu ini bukankah semudah membalik tangan. Saya paham dunia. Karena itu, saya memilih menjadi realis ketimbang utopis, dengan tetap menjunjung harapan dan optimisme.

Jika Islamofobia , seperti halnya Kristenfobia, berkaitan dengan ketakutan dan kebencian, dua-duanya adalah soal emosi. Dominique Moisi, seorang Prancis, dalam bukunya Geopolitics of Emotions: How Cultures of Fear, Humiliation and Hope are Reshaping the World menggambarkan terjadinya benturan emosi antara Islam dengan Barat. Tesis Moisi ialah ada pihak yang merasa takut, tetapi di pihak lain ada yang merasa dipermalukan (humiliated). Digambarkan masyarakat Barat takut terhadap Islam karena aksi-aksi kekerasan dan terorisme yang kerap terjadi. Sementara, Islam merasa dipermalukan lantaran tidak mendapatkan keadilan dan diperlakukan secara semana-mena oleh Barat.

Menurut saya, tesis ini telah berkembang dan makin rumit. Benar pihak Barat takut terhadap radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, tetapi Islam juga takut atas serangan militer Barat yang mematikan dengan segala kecanggihnya persenjataannya.

Sementara, perasaan terhina dan dipermalukan kini juga bukan hanya milik Islam. Adalah benar sebagian masyarakat Islam merasa ditinggalkan, tidak berdaya dan dibiarkan begitu saja, ketika mereka hidup di kantong-kantong kemiskinan dan ketertinggalan, akibat tatanan ekonomi global yang dinilai tidak adil. Namun, secara psiko-sosial pihak Barat juga merasa dipermalukan karena merasa gagal dan tak berdaya menghadapi aksi-aksi "perlawanan" kelompok Islam yang menuntut keadilan, meskipun cara yang dipilih tidak selalu segaris dengan ajaran Islam.

Toleransi sering dijadikan kambing hitam oleh masyarakat Barat. Islam dianggap kurang toleran. Sebaliknya, Islam menilai Barat kurang memiliki tenggang rasa. Saya berpendapat toleransi harus disatukan dengan sikap tenggang rasa. Pihak Barat harus menyadari bahwa tidak ada kebebasan yang benar-benar mutlak. Selalu ada batasnya.

Pahami jiwa dan semangat the Universal Declaration of Human Rights. Toleransi pun juga memiliki batas. Sebaliknya, ketika pihak Barat kurang bertenggang rasa terhadap ajaran dan praktik-praktik yang berlaku di agama Islam, Islam tidak sepatutnya menjawab "tantangan" itu dengan cara kekerasan, termasuk aksi-aksi teror. 

Masih banyak cara untuk melakukan protes secara damai. Pandangan seperti ini telah saya sampaikan melalui tweet saya, dari Tokyo Jepang, saat terjadinya peristiwa Carli Hebdo dahulu.

Ke depan, para pemimpin negara-negara Islam dan Barat, serta para pemuka agama utamanya Islam, Kristen dan Katolik, perlu memikirkan pendekatan, strategi dan cara-cara yang efektif untuk mengurangi Islamofobia. Juga untuk mengurangi rasa takut, rasa benci, dan terhina satu sama lain. Jalan untuk ini jelas tidak mudah. Tetapi, saya percaya, dunia yang lebih rukun dan lebih damai selalu bisa dihadirkan.

Bagiamana dengan Indonesia?

Indonesia adalah Negara Pancasila yang berketuhanan. Indonesia merupakan negara majemuk yang menghormati keberagaman. Sungguhpun Islam dianut 85 persen rakyat Indonesia, atau saat ini setara dengan 221 juta dari 260 juta penduduk Indonesia, tetapi sejak awal berdirinya republik para founding fathers tidak menetapkan Islam sebagai dasar negara. 

Saya kira sikap dan pilihan ini sebuah tonggak penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap ini juga mencerminkan toleransi dan ketenggangrasaan yang amat tinggi umat Islam Indonesia.

Dalam perjalanan sejarahnya memang kerap terjadi gesekan antara Islam dan negara. Juga antara Islam dengan umat beragama yang lain. Tetapi hal begini bukan sesuatu yang luar biasa. Ingat, usia kemerdekaan kita belum genap satu abad. 

Ini juga menunjukkan bahwa proses nation building memang belum rampung. Tetapi, jika dibandingkan negara-negara lain, utamanya di Timur Tengah dan Afrika, hubungan Islam dengan agama lain di negeri ini dinilai sebagai kuat dan stabil.

Alhamdulillah. Namun, kita tidak boleh lalai dan harus merawat dan memperkukuh kebinekaan kita secara serius dan terus-menerus.

Belakangan ini ada sesuatu yang saya rasakan dan pikirkan dalam-dalam. Sejak terjadinya ketegangan sosial-politik di penghujung tahun 2016 yang lalu, yang dipicu oleh ucapan saudara Basuki Tjahaja Purnama yang dinilai melukai dan melecehkan ajaran Islam, ada fenomena yang mengkahawtirkan.

Dalam merespons aksi-aksi damai yang dilakukan kalangan umat Islam, saya merasakan ada yang berlebihan. Melabelkan aksi-aksi damai itu sebagai ancaman terhadap kebinekaan dan bahkan NKRI, menurut saya terlalu jauh. Kebijakan dan aksi-aksi polisional negara terhadap kalangan Islam, dalam berbagai ragamnya, menurut saya juga bisa kontra-produktif. Saya pikir, masih banyak cara-cara yang lebih persuasif dengan mengedepankan soft power. Kalau tidak, akan membangun emosi umat Islam yang merasa negaranya membenci mereka. 

Jangan sampai berkembang Islamofobia di negara yang mayoritas penduduknya Muslim ini. Jangan sampai umat Islam merasa tersisih, kalah, dan tidak mendapat keadilan. Ingat tesis dasar Dominique Moisi yang saya uraikan sebelumnya ~ rasa takut, perasaan dipermalukan dan kebencian ~ yang bisa menimbulkan konflik yang serius.

Saya yakin kita semua tidak menghendaki hal begitu terjadi di negeri tercinta ini. Karena kita semua mencintai persatuan, keberagaman, dan kerukunan. Waktu dan kesempatan masih ada. Diperlukan kecerdasan, rasa kebangsaan, dan kearifan yang tinggi dari semua pemimpin dan anak bangsa.

Tulisan ini dimuat di rubrik "Opini" Koran Republika edisi Selasa (7/2).