Selasa , 07 February 2017, 09:47 WIB

'Nuk' di Perang Gerilya Hingga Misteri Nasi Bungkus di Rumah SBY

Red: Muhammad Subarkah
dok. Anri
Suharto bersama Panglima Besar Sudirman sebelum pulang ke Yogyakarta dari medan gerilya.
Suharto bersama Panglima Besar Sudirman sebelum pulang ke Yogyakarta dari medan gerilya.

Oleh Abdullah Sammy

Sampai saat ini kontroversi mengenai siapa penemu nasi bungkus masih menjadi misteri besar dalam sejarah dunia. Konon makanan berbahan nasi yang bungkus berasal bermula dari penemuan bacang.

Bacang adalah salah satu makanan tertua dengan bahan dasar beras ketan yang diisi sayuran dan cang, alias daging. Bahan dasar ini dibungkus daun.

Bacang atau ba tzang sejatinya merupakan makanan yang berasal dari Cina. Oleh masyarakat Cina makanan ini lebih akrab disebut zongzi. Mengutip artikel "The Legend of Zongzi" yang ditulis oleh Cyntia Dhea, makanan ini sudah ada sejak 278 sebelum masehi pada era Kerajaan Chu (kini Provinsi Hubei).

Cerita bermula saat penyair termasyhur Negeri Chu, Qu Yuan, memutuskan bunuh diri dengan terjun ke Sungai Miluo. Yuan bunuh diri setelah ibu kota Chu direbut oleh negari musuhnya, Qin.

Sebelum bunuh diri, Yuan sempat menuliskan sebuah puisi berjudul Meratapi Ying (Ai Ying). Berikut beberpa penggalan puisi itu:

Tidak adil, jalan kerajaan menuju surga.
Kebanyakan terkejut dan terus berusaha.
Masyarakat terpisah, terpecah, dan tersesat..


Begitu penggalan puisi Qu Yuan yang putus asa melihat tanah kelahirannya dirampok oleh penjajah. Puisi yang dibacakan Yuan sebelum bunuh diri.

Aksi bunuh diri Yuan tak bisa dicegah sekalipun banyak masyarakat yang menyaksikannya. Nelayan Kota Chu bahkan tak mampu menemukan jasad sang penyair.

Guna menghormati jasad Yuan yang tewas tenggelam, nelayan-nelayan Chu lantas melemparkan nasi yang dibungkus dengan daun. Tujuannya agar ikan tak memakan jasad sang penyair, melainkan makan bungkusan nasi tersebut. Nasi berbungkus daun itulah yang kini dikenal dengan zongzi alias bacang.

Hingga kini, tewasnya Qu Yuan dan tradisi melempar bacang ke sungai tetap diperingati di seluruh dunia setiap tanggal lima bulan lima di tahun Cina.

Di sisi lain, bacang tetap bertahan dan menyebar ke seluruh dunia. Bacang boleh dikatakan menjadi tonggak makanan nasi/beras berbungkus di dunia.

Kini jenis makanan bungkus beraneka ragamnya. Ada makanan yang prosesnya dibungkus sejak awal. Ada pula makanan yang bungkusnya hanya sekadar wadah.

Tak hanya dibungkus daun, kini banyak pula makanan yang dibungkus wadah kraft hingga koran.

Di Indonesia, makanan berbungkus juga menjadi primadona. Yang paling utama adalah nasi bungkus. Ada nasi padang, rames, maupun nasi warteg yang kerap dibungkus dengan kertas kraft beralas daun pisang.

Banyak yang mengakui, sensasi makan nasi bungkus berbeda dibandingkan makan langsung di atas piring. Selain porsinya lebih besar, konon rasanya kebih sedap karena aroma serta bumbunya tercampur jadi satu dan meresap dengan nasi.

Nasi bungkus pun jadi obat mujarab bagi perut-perut yang lapar. Dan lapar adalah masalah serius yang perlu diobati.

Efek dari lapar bisa berujung sakit pada gangguan fisik dan psikologi. Bisa pula berdampak sosiologis. Konon, orang lebih galak saat perutnya lapar. Tak heran ada adagium, "revolusi terjadi saat perut lapar."

Revolusi memang terjadi saat perut lapar. Tapi bukan dengan perut kosong. Pemimpin besar revolusi Cina, Mau Zedong pernah mengatakan. "Revolusi tak bisa dihasilkan dari meja makan."

Beruntung ada nasi bungkus yang menunjang pegiat revolusi dari godaan 'kekenyangan di atas meja.'

Di Indonesia, nasi bungkus punya peran unik dalam kegiatan masyarakat, terutama politik. Dalam hajatan besar, seperti kampanye politik dan aksi demonstrasi, ada peran dari bungkusan nasi itu. Nasi bungkus pun punya bagian dalam sejarah reformasi 1998. Ini terutama saat mahasiswa menduduki gedung DPR pada 18 Mei 1998.

Bahkan di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, dahulu semasa perang kemerdekaan nasi bungkus juga dikenal dengan sebutan 'nuk'. Santapan ini dibuat secara suka rela oleh rakyat dan kemudian dibagikan kepada para pejuang. Menunya sederhana hanya nasi dan tempe serta gudangan (sayuran yang diurap mirip gado-gado/pecel). Kalaupun ada lauk ayam, itu pun dagingnya hanya siwiran (cuilan) saja.

Saat itu akses makanan memang begitu sulit. Sentra yang menjajakan makanan umumnya tutup akibat perang. Secara tak langsung, ada blokade makanan yang tujuannya ingin membuat gerilyawan ke luar untuk mencari makanan.

Namun, di sinilah peran vital nasi bungkus. Sama dengan masa perang kemerdekaan, pada masa pendudukan gedung DPR di masa reformasi itu, banyak rakyat dan relawan tak henti menyuplai logistik nasi bungkus. Akibatnya bila di masa perang kemerdekaan para pejuang dahulu tidak kelapanan dan aman dalam perlindungan rayat, sedangan pada masa 'pelengseran Soeharto' berkat nasi bungkus para mahasiswa tetap mendapat 'amunisi tenaga' untuk terus beraksi.

Puncaknya di masa perang kemerdekaan adalah adanya pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Sedangkan pada masa 1998 klimaksnya adalah mundurnya presiden Soeharto dari tampuk kekuasaannya.