Kamis , 10 November 2016, 16:31 WIB

Trump dan Kekhawatiran Muslim-Amerika

Red: M.Iqbal
Dokpri
Herri Cahyadi, mahasiswa doktoral Istanbul University
Herri Cahyadi, mahasiswa doktoral Istanbul University

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh: Herri Cahyadi, mahasiswa doktoral Istanbul University

Pemilihan presiden untuk memilih presiden ke-45 di Amerika Serikat (AS) telah berakhir. Donald Trump, yang pada awalnya dianggap sebagai guyonan dalam mengikuti proses kandidasi presidensial AS, berhasil membuat banyak orang syok. 

Calon dari Partai Republik itu menang setelah melewati ambang batas kemenangan electoral votes sebesar 270 dari 538. Beragam emosi menyambut kemenangan Trump.

Mayoritas dunia nampaknya meratapi hasil ini dengan sentimen negatif, termasuk respons dari komunitas Muslim di AS dan dunia yang relatif menyambutnya dengan pesimis, skeptis, dan khawatir. Kekhawatiran umat Islam di AS bukan tanpa alasan. 

Sebab, Trump memunculkan isu radikal dan kontroversial yang menjadi perbincangan hangat di seantero jagat. Selepas aksi teror di Paris, 13 November 2015, Trump mengeluarkan pernyataan pelarangan total sementara bagi Muslim untuk memasuki AS. 

Trump juga pernah menyatakan, “I think Islam hates us.” Berbeda dengan Hillary Clinton yang mencoba meraup simpati dari komunitas Muslim, Trump justru mengambil jarak memusuhi dan mengumbarnya di media. 

Tentu ini menjadi isu yang viral dan membangkitkan semangat bigotry dari kelompok rasis dan islamofobik. Sangatlah wajar jika respons komunitas Muslim adalah kesedihan dan kekhawatiran. 

Namun, setidaknya masih ada beberapa hal yang bisa mereduksi kekhawatiran tersebut. Pertama, Amerika Serikat adalah negara demokrasi yang sangat matang di mana sistem pemerintahannya tidak berdiri sendiri di atas kaki perorangan. 

Semua keputusan akan dibagi dengan legislatif. Tidak semua materi kampanye Trump, termasuk yang dianggap rasial dan xenophobic akan mudah menjadi kebijakan pemerintah. 

Ada check and balance di dalam sistem demokrasi. Kebijakan yang salah justru berpotensi menjatuhkan popularitas Trump. 

Selain itu, nilai kebebasan individu yang dianut oleh AS menjadi jaminan yang dilindungi konstitusi. Jika //bigotry// datang dari masyarakat AS sendiri, maka itu menjadi PR bagi pemerintahan Trump dan khususnya nilai-nilai kebebasan AS sebagai sebuah negara demokratis. 

Komunitas Muslim justru harus berhenti bermain playing victims dan merespons retorika anti-Muslim dengan bijak. AS dengan sistem demokrasi dan nilai kebebasan sipil yang dianut justru menjadi celah yang positif bagi Muslim-Amerika untuk menuntut hak-hak sebagai warga negara.

Kedua, kita bisa meyakini bahwa semua isu kontroversial yang dilontarkan Trump adalah cara dia merebut simpati dan memberi kesan tampak berbeda dari rivalnya. Trump terbukti berhasil menjadi brand politik baru yang jenuh terhadap kebijakan populis-retoris Obama dan Demokrat. 

Dengan kata lain, isu tersebut hanya permainan Trump. Kita bisa melihat dari inkonsistensi dia ketika berbicara mengenai isu imigran dan larangan total Muslim untuk masuk AS. 

Rentang dua bulan sebelum pemilu, ia meralat pernyataannya dengan isu yang lebih lunak dibandingkan sebelumnya. Tidak hanya itu, strategi komunikasi ini diprediksi telah dimainkan semenjak 2011, di mana dia sering memuat pernyataan kontroversial yang memancing perhatian media. 

Contohnya ketika ia meragukan akta lahir dan status agama Obama. Analis media, Alan Fisher, menyebut Trump telah bermain di media dengan level yang lebih tinggi; melakukan “perang” terhadap media itu sendiri. 

Trump memilih untuk menjadi musuh media, sehingga media terus melakukan pembusukan terhadap dirinya. Dengan tingkat melek media masyarakat AS yang tinggi, justru masyarakat tidak lagi percaya dengan mudah media mainstream. 

Akhirnya, buruk atau baik, Trump selalu ada di kanal-kanal televisi, berita, liputan, maupun meme sarkas. Amy Goodman, dari Democracy Now, menyebutnya dengan Trump Land.

Ketiga, mayoritas kampanye Trump berfokus pada isu dalam negeri seperti security, imigrasi, subsidi, pajak, kesehatan, dan lain sebagainya. Meski pada level pernyataan politik, kedua kandidat relatif memiliki perspektif yang sama dalam menangani permasalahan security global, yaitu pendekatan militer. 

Dalam permasalahan Palestina pun keduanya tidak ragu untuk mendukung eksistensi Israel. Namun, setidaknya, pengalaman menunjukkan bahwa Hillary disebut lebih suka berperang—sampai di sini kedua kandidat adalah mimpi buruk bagi Dunia Islam. 

Ketika diadu dengan retorika Trump, kemungkinan besar ia akan berfokus pada isu dalam negeri seperti yang selama ini ia kampanyekan—meski dengan cara yang radikal sekalipun. Di beberapa respons Muslim-Amerika menyebutkan dengan hasil pemilu seperti ini, mereka siap menanggung beban islamofobia, selama Muslim lain di dunia tidak diganggu oleh Trump. 

Artinya, satu permasalahan dunia Islam (baca: AS) telah terlokalisasi. Muslim di luar AS tidak perlu khawatir berlebihan dan mulai fokus untuk memberikan solusi bagi Muslim-Amerika di sana. Tentu ini simplifikasi yang debatable, selama Trump bisa merealisasikan programnya yang fokus pada isu domestik. 

Ketiga hal tersebut bisa jadi awal diskursus yang menarik dalam rangka mencari solusi bagi keamanan komunitas Muslim-Amerika. Tidak hanya merespons sesuatu dengan kesedihan dan kekhawatiran, namun juga dengan sesuatu yang membangkitkan harapan. 

Masih ada harapan bagi komunitas Muslim untuk menjadi bagian dari dunia yang damai dan menunjukkan karakter Islam yang rahmatan lil’alamin. Merespons bigotry dengan bijak dan tenang. 

Reaksi yang berlebihan justru menyulut sumbu-sumbu yang telah ditebar Trump beserta bigot lainnya. Ini ibarat bandul yang bergerak dari ekstrim kiri ke ekstrim kanan. 

Dengan reaksi yang hiperaktif dan playing victims justru menjadi pembenaran dari retorika yang dimainkan Trump; Muslim perlu dikontrol. Bahkan, lebih jauh bisa menyulut respons yang tidak diinginkan seperti hate crime

Benar bahwa komunitas Muslim-Amerika mengalami sentimen agama yang begitu keras pascakampanye Trump. Namun, sikap tidak mudah reaktif dan memahami posisi dia sebagai seorang yang mencari perhatian dan yang memainkan kartu pencitraan, perlu ditingkatkan. Ini semata-mata untuk tidak terjebak dalam permainan Trump Land.