Rabu , 20 September 2017, 09:39 WIB

ELEGI III: 
Antara Chittagong dan Hanoi

Red: Muhammad Subarkah
dokpri
Prof DR Abdul Hadi WM (kiri).
Prof DR Abdul Hadi WM (kiri).

Oleh: Abdul Hadi WM


"Aku harap kau mau meraba bulu kudukku yang gemetaran di tangan. Dan mencium keningku yang berdarah sebelum pergi dengan kain dan rambut terseret," katanya.
Tamu asing itu menghilang di pagi subuh dan meninggalkan hotel ketika musik membuai kota yang mati.

Kami tahu ia akan datang di malam hari
Dengan sepatu yang tua dan kemeja yang kusut
dan melemparkan surat kabar ke atas meja.
Pelancong yang sedih, pemabuk yang sunyi
Telah menyewa kamar hotel dalam perjalanannya
dengan tujuan tak pasti ke kota ini
di mana peluit kapal itu sepanjang malam bermimpi
dan penghuninya harus mengungsi ke seberang pulau
yang penduduknya binasa

Antara Chittagong dan Hanoi, kami telah berjalan
sekian ribu mil, lewat kesepian dan masa kanak-kanak
dan hidup penuh impian gemilang, menyanyikan
Li Po dan baris-baris sajak Iqbal:
"Tiongkok dan Arab adalah tanahku juga
India, adalah juga halaman Tuhan..."
Antara Chittagong dan Hanoi, kami telah berjalan
sekian ribu mil, mengawasi Gangga dan Yangtze
Lewat pintu kereta masa silam, di mana Tembok Raksasa
dan Borobudur didirikan, kemudian kapal-kapal
Inggris dan Portugis mendirikan Hongkong, Singapura, 
Macao dan Goa
buat persediaan gandum dan perang di masa datang

"Mari kita tinggalkan kota yang buruk ini dan cium keningku yang berdarah sebelum kau pergi dengan gelisah dan kepala yang penyap karena impian," katanya. Tamu asing itu membuka peta yang besar dan membiarkannya di mejja makan, lalu menghilang di pagi subuh dan meninggalkan hotel yang tiba-tiba sepi karena musik tidak berbunyi
Kami tahu ia akan datang di malam hari, dengan samurai
dan jubah seorang darwish yang di tangan kirinya
memegang kitab Pararaton, memandang kita dengan masai
Di luar kami dengar dengus kuda Timur Lenk dan orang-orang
berteriak mengatakan bahwa perang sedang berkobar di sebuahh kota di snsana. Dan seorang perempuan bermata sipit membelalak. Muncul di pintu dan berkata bahwa ia keturunan dewa

Kami tahu ia akan datang di malam hari, dengan kata-kata Iqbal dan mengucapkan mantra kepada istana-istana tua
Yang para penjaganya telah membeku menjadi arca batu
dengan kanak-kanak yang sepanjang malam menyanyikan:
"Nenek moyangku orang pelaut..." dan harus mencari negeri baru.

(Dibacakan pertama kali di People Church, Iowa City, Iowa, USA)


*Abdul Hadi WM, Penyaur dan pelopor sastra sufi. Kini Guru Besar Universitas Paramadina, Jakarta.