Sabtu , 02 September 2017, 09:32 WIB

Air Mata Untuk Rohingya

Red: Muhammad Subarkah
AP
Pengungsi Muslim Rohingnya.
Pengungsi Muslim Rohingnya.

Oleh: Denny JA

Ketika kesembelih kambing dan sapi
untuk kurban suciku di Idul Adha,
Ya Allah...
Mereka sembelih pula puluhan manusia, di Rohingya,
Termasuk bayi temanku

Ketika  kuambil air wudhu memulai sholat malamku,
Ya Allah ...
Mereka  mulai pula perkosa puluhan wanita di Rohingya,
Termasuk  adik bungsu temanku

Ketika kumulai pagi
Kembali  mencari rejekiMU,
ya Allah...
Kembali pula mereka mengusir
puluhan ribu manusia di Rohingya.

Mereka usir paksa
dari tanahnya sendiri.
Kini Rohingya terlunta
Tak tahu harus kemana
termasuk ibu temanku

Darta namanya
Bukan politisi.
Ia hanya peduli saja
Tersentuh tragedi manusia
Kebun yang layu di Rohingya

Di tengah zikir si Darta
Menetes itu air mata
Seolah terdengar rintihan suara,
suara puluhan ribu manusia,
Rohingya sedang berdoa

"Ampun ya Allah.
Puluhan tahun sudah mereka siksa kami.
Ribuan kali sudah mereka bunuh kami."

"Tak tahu apa salah kami?
Apakah semata karena agama kami?
Apakah semata karena etnis kami?
Apakah semata karena nenek moyang kami?"

Darta terdiam lama
Terasa ada yang menyentuh hatinya
Iapun menulis surat
Kepada penguasa di sana

"Aung San Suu Kyi
Dulu aku merapat di sisimu
Saat itu kau menjadi bunga
Melawan tanpa kekerasan
Walau kau dizalimi

Oh, Kau begitu teguh
Terus kibarkan bendera nurani
Walau di atas bambu yang goyah
Walau kau terus disiksa

Oh, kau pahlawan kami
Kami ikut syukuran
Ketika kau terima Nobel Perdamaian
Kami kirimkan mimpi kami

Tapi kini, Aung San Suu Kyi
Kau menjadi penguasa
Astaga! kau lakukan
Apa yang dulu kau lawan

Karena kau diam saja
Ketika kezaliman terjadi di tanahmu
Karena kau diam saja
Ketika para wanita diperkosa

Karena kau diam saja
Ketika para bayi dibunuh
Karena kau diam saja
Ketika para ibu dipaksa mengungsi

Karena kau diam saja
Ketika dunia menegurmu
Maka kini
Aku melawanmu
Maka kini
Kukatakan TIDAK padamu

Zaman mengubah wajah
Kau yang bunga
Kini menjadi bedil

Selesai sudah pesan ditulis Darta
Dibacanya kembali pesan itu
Dari huruf-huruf pesan itu
Mengalir air mata
Dari titik dan koma pesan itu
Mengalir darah

September 2017

*DR Denny JA, Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI)