Sabtu , 09 April 2016, 15:30 WIB

Puisi untuk Mempertajam Mata Hati

Rep: Amri Amrullah/ Red: Dwi Murdaningsih
Yogi Ardhi/Republika
Agus Santoso, wakil Ketua PPATK
Agus Santoso, wakil Ketua PPATK

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi pejabat pemerintah bukan berarti melupakan hobi terhadap seni sastra. Bagi Seorang Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisi Transaksi Keuangan), Agus Santoso seni sastra puisi, yang telah menjadi hobinya sejak SMP, merupakan kelebihan yang harus tetap diasah walau ia berstatus sebagai pejabat.

Bagi Agus, mengasah rasa seni sastra khususnya puisi, sangat berguna mempertajam mata hati, terutama bagi seorang pejabat negara. "Bagi saya seni itu menumbuhkan rasa keadilan. Dan bagi saya seni sastra puisi itu mampu menggugah jiwa kita melihat fakta kehidupan yang ada. Karena itu pejabat butuh diasah rasa seninya, terutama sastra," katanya kepada Republika, Sabtu (9/4).

Saat ini bisa dikatakan langka bila ada seorang pejabat hobi membuat dan membaca puisi. Kegemaran pria kelahiran Purwokerto ini terhadap sastra puisi dimulai ketika ia menulis beberapa sajak puisi di SMP. Bagi dia, puisi mampu meihatnya lebih dalam melalui mata hati.

Melihat fakta kehidupan yang ada. "Kebetulan saya lebih menyuai puisi tentang sosial, kemasyarakatan dan ketidakadilan. Setiap memberi materi kuliah umum, ia juga selalu mengakhiri dengan membaca puisi. Cara ini menurut dia seperti kesimpulan dari materi yang ia sampaikan.

Agus pun kerap berusaha setiap hal baru dalam pekerjaan kini untuk ditransformasikan  menjadi karya sastra. Bagi dia seniman atau sastrawan hakekatnya sama dengan orang hukum. sama sama harus memiliki rasa kepedulian yang lebih terhadap keadilan dan benci ketidakadilan.

Dalam waktu dekat ini, ia bahkan didaulat untuk ikut membacakan puisi di malam keakraban di Padjadjaran Law Fair Badung pada 16 April mendatang. Puisi karya pribadiny terkait anak negeri, yang tidak pernah bermimpi hidup mewah tapi tidak ingin hidup di negeri para pencuri.  

Pada 21 Mei Agus juga akan ikut membacakan puisi bersama para seniman Bandung, dalam rangka kebangkitan nasional di Teras Cikapuncung. Puisi yang akan ia bawakan bertema anti korupsi, anti narkoba dan lingkungan hidup.