Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Haiku, Tentang Tuhan Begitu Dekat: Sajak Sufi Abdul Hadi WM

Ahad 05 February 2017 08:50 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Prof DR Abdul Hadi WM (kiri).

Prof DR Abdul Hadi WM (kiri).

Foto: dokpri

Haiku

Sekonyong terdengar

Kaok burung gagak

* Haiku adalah sejenis puisi pendek ala puisi tradisional Jepang.

 

Saadi al-Shirazi

Bani Adam ibarat anggota dari badan yang sama

Mereka dicipta dari tanah lempung serupa jua

Jika yang satu terluka dan tersiksa karenanya

Maka yang lain akan merasakan sakitnya pula

Kau yang pada derita orang lain memalingkan muka

Tak patut disebut sebagai anak manusia

(Terj. Abdul Hadi W.M.)

Adam's sons are body limbs, to say;

For they're created of the same clay.

Should one organ be troubled by pain,

Others would suffer severe strain.

Thou, careless of people's suffering,

Deserve not the name, "human being".

(Translation by H. Vahid Dastjerdi)

 

Bangku Taman

Bangku di taman

Menunggu kau dan aku

Tetapi kau dan aku

Tidak ada di sana

Namun ada

 

Agama

Masyarakat yang meremehkan ilmu pengetahuan

Akan dilecehkan dan diremehkan oleh kebodohan

Mereka tak bisa membedakan antara agama dan kebudayaan

Mereka menganggap agama dapat dipelajari lewat politik

Dan hanya golongannya yang terpuji bila bertindak kasar.

 

Winter Iowa 1974

pieces of an empty sky, the hazy sun

dance in the thousands of white butterflies in your hair

dance in the whispering wind of the woods and drifts

dance in the rippling river ebbing late night in the dephts of my soul

(In anthology "On Foreign Shores: American Images in Indonesian Poetry" ediited by John McGlyn 1990)

 

Sesembahan

Pemeluk agama sejati

Pantang menyerah

Bahkan pada apa yang disebut

Takdir dan garis sejarah

Mereka menundukkan wajah

Dan menyerahkan diri dengan pasrah

Hanya kepada Dia

Satu-satunya Sesembahan

Yang patut disembah

 

Cikeas

Sudah cikeas cendana pula

Sudah lemas kena bencana pula

 

Tanya-Nya

Tanya-Nya: Aku dekat denganmu

Mengapa kau pergi terlalu jauh mencari-Ku?

Karena Kau terlalu dekat,

Sejarak lengkungan dua busur yang bertemu

Aku harus bersusah payah

Mencari-Mu sampai tempat yang begitu jauh

 

Tuhan Begitu Dekat

Tuhan,

Kita begitu dekat

sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apimu

Tuhan, kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainmu

Kita begitu dekat

Dalam gelap

kini aku nyala

dalam lampu padammu

                  

                        (1976)

 

*Abdul Hadi WM (Prof DR) adalah pelopor puisi sufi Indonesia, pengajar di Universiti Sains Malaysia dan Guru Besar Falsafah Agama dan Budaya di Universitas Paramadina Jakarta.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA