Sunday, 29 Rabiul Awwal 1439 / 17 December 2017
find us on : 
  Login |  Register
Ahad , 19 June 2016, 14:29 WIB

Hangatnya Bincang Sastra Religius (bagian 3-Habis)

Red: Irwan Kelana
Dok Litera
Sejumlah penyair menerima buku puisi terbaru karya LK Ara di sela acara ngabuburit sastra yang diadakan oleh Litera di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (18/6).
Sejumlah penyair menerima buku puisi terbaru karya LK Ara di sela acara ngabuburit sastra yang diadakan oleh Litera di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (18/6).

REPUBLIKA.CO.ID, PAMULANG – Sejumlah penyair dari Jadebotabek dan Aceh menggelar bincang sastra religius di Griya Litera, Pamulang, sejak siang hingga larut malam, Sabtu 18 Juni 2016. Diskusi hangat  itu membahas  tema “Sastra dan Manusia Religius”.

Usai diskusi, acara itu tak berarti berakhir.  Acara selanjutnya adalah pengenalan alias soft launching buku puisi terbaru LK Ara. Kali ini, “sopir” alias pemandu berganti dari Mustafa ke Fikar W Eda. Lima orang dipanggil ke depan untuk menerima buku puisi dua bahasa itu dari penyairnya. Mereka adalah Ahmadun, Chavchai, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Bogor Ace Sumanta, Ketua Dewan Kesenian Tangerang Selatan Shobir Poer, dan Ketua Harian Dewan Kesenian Depok Asrizal Nur.

LK Ara sempat pula membaca salah satu puisi pendeknya yang diambil dalam buku itu, diapit para tokoh yang menerima bukunya. Setelah itu, giliran LK Ara mengisahkan proses kreatifnya. Ia mengaku tiap hari  menulis puisi. “Saya bangun pukul 04.00,” ujarnya. Ia menulis dalam udara dingin yang menusuk. Ia memang dalam beberapa tahun terakhir sering berada di kampung halamannya di kota dingin Takengon, Aceh Tengah.

Sesi peluncuran buku itu kelar, acara bergerak  dengan tadarus puisi.  Pemandunya kini bergeser ke Mahrus Prihany. Ia lalu mempersilakan Fikar W Eda menjadi pembaca puisi pertama yang membawakan “Syair Perahu” karya Hamzah Fansuri. “Ini puisi panjang. Saya baca beberapa bait.  Saya menawarkan kepada kawan-kawan untuk meneruskan membaca puisi ini secara bergiliran,” tutur Fikar.
 
Para penyair menyambut. Sebagian besar dari mereka meneruskan membaca Syair Perahu. Suasana sufistik pun mengalir dalam bait-bait puisi itu. Inilah gerangan suatu madah/mengarangkan syair terlalu indah,/membetuli jalan tempat berpindah,/di sanalah i’tikat diperbetuli sudah//Wahai muda kenali dirimu,/ialah perahu tamsil tubuhmu,/ tiadalah berapa lama hidupmu,/ke akhirat jua kekal diammu..../

Sebagian lagi membacakan puisi masing-masing seperti Kurnia Effendi, Abah Yoyok, Heryus Saputro, dan Hadi Sastro. Tentu saja tetap dalam suasana religius. Kurnia membacakan puisi tentang sodom, sebuah kota yang dimusnahkan Tuhan karena perilaku hubungan seks sejenis. Adapun perupa Ireng Halimun membacakan puisi LK Ara.

Menjelang pukul 21.00, tadarus puisi ditutup dengan doa oleh sastrawan Human S Chudori. Tak lupa, sebagaimana lazimnya, adalah berfoto bersama. Namun, setelah itu, silaturahim itu belum benar-benar berakhir. Beberapa seniman masih tetap meneruskan lesehan di teras rumah itu. Ditemani teh, kopi dan beberapa penangan, mereka melanjutkan berbincang.
 
Baru setelah jarum jam melintasi pukul 00.00 dini hari (Ahad, 19 Juni 2016), mereka baru benar-benar bubar. Pulang dan bersiap untuk sahur.  Hawa dingin menusuk.

Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur(HR. Thabrani)