Ahad , 03 January 2016, 13:00 WIB

Pesona Benua Hitam di Mata ‘Tuan’

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID,Pesona Benua Hitam di Mata ‘Tuan’

Barat memandang sebelah mata bangsa Afrika. 

Eropa bukan bangsa superior ketika pertama ka li memulai usahanya mengenali belahan-belahan lain dunia ini. Sejumlah wila yah di Asia, Timur Tengah, dan Afrika telah memiliki peradaban lebih maju sebelum itu. Menurut catatan The Story of Africa BBC, orang-orang dari pantai timur Afrika tidak begitu terkesan ketika pemimpin ekspedisi Portugis, Vasco da Gama, tiba di sana. Mereka telah memiliki semuanya dengan mengimpor keramik dan tekstil dari India dan Cina selama berabad-abad. Vasdo da Gama mulanya tidak berniat untuk menetap di pantai timur itu. 

Tapi, kemakmuran Mombasa dan Malindi serta keberadaan emas membuat pantai timur Afrika terlalu berharga ditinggalkan.
\"Raja mengenakan jubah damask dihiasi dengan satin hijau dan surban yang mewah. Dia duduk di atas dua bantalan kursi dari perunggu, di bawah kerai penghalang sinar matahari merah tua dari satin yang melekat pada tiang,\" 

kesan Vasco da Gama atas penguasa Malindi di pantai timur Afrika pada 1498.
Tapi, segala sesuatu begitu cepat berubah. 
Islam semakin merosot, sementara Barat bergegas menyongsong abad pencerahan. 

Gagasan Afrika yang inferior, terbelakang, dan barbar dapat ditelusuri sampai era perbudakan pada abad ke-18. 
Stereotip, pseudo-science, dan dugaan liar yang bersatu membentuk rasisme muncul dari pertarungan politik untuk menguasai benua itu pada dekade terakhir abad ke-18 dan 19. Orang- orang yang membela perbudakan merakit segudang klaim dan teori lama tentang kulit hitam, yang kemudian disebarluaskan melalui karya sastra, pamflet, kartu pos, dan kartun.

Orang tanpa perlu menginjakkan kaki ke benua itu dapat membuat serangkaian narasi menjanjikan, yang membawa pembaca kepada imajinasi kehidupan barbar. Dilansir dari The Guardian, salah satu buku yang bisa dibilang paling kuat menyebarkan ide-ide rasial tentang Afrika ditulis oleh seorang pria yang tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Afrika. 

Edward Long adalah seorang administrator, pemilik budak, dan putra pemilik budak di Jamaika. Ide-idenya tentang orang kulit hitam dan Afrika diterima begitu saja secara luas. 
Bukunya yang paling terkenal, History of Jamaica (1774) merupakan perpaduan panduan perjalanan, deskripsi pemerintahan kolonial Inggris di Karibia, sekaligus argumen-argumen klasik yang rasis.
 
 
Bagian utamanya memuat penilaian tajam Long mengenai Afrika, sebagai bangsa yang rendah dan bahkan `mungkin bukan manusia\'.
Fakta bahwa ia telah menghabiskan 12 tahun di Karibia telah memberi dia otoritas mengapa ide-idenya berumur panjang. Long berpendapat, Negro Amerika mempunyai karakteristik sama dengan saudara-saudara mereka di Afrika, yang \"memiliki perilaku kebinatangan, kebodohan, dan berbagai sifat buruk yang menghinakan\".
 
 
Pandangan- pandangan klasik itu telah dimulai dengan sekumpulan prasangka, bahkan sebelum kapal mereka mendarat di Benua Afrika.
Sejarah perbudakan memiliki kaitan erat dengan kolonialisme. Tiga abad perdagangan budak telah memberi kesan Eropa bahwa Afrika adalah inferior, yang membantu membenarkan tindakan imperialisme di benak banyak orang Eropa. Para penjelajah Eropa yang bertualang ke benua itu memopulerkan gagasan Afrika sebagai `benua gelap\'. 

Pada abad ke-18 dan 19, beberapa negara Eropa yang berkuasa menaklukkan sebagian besar Afrika. Vincent B Khapoya dalam The African Experience: An Introduction, menulis dua kekuatan kolonial terbesar di Afrika adalah Prancis dan Inggris, yang mengendalikan dua pertiga Afrika sebelum Perang Dunia I dan lebih dari 70 persen setelah perang. 

Belgia, Jerman, Italia, dan Portugal masing- masing menduduki kurang dari sepuluh persen wilayah. Suatu gambaran yang menyedihkan, pasca-Perang Dunia I, hanya 7 persen wilayah Afrika yang tidak berada di bawah kolonisasi. Legalisasi kekuasaan kolonial Eropa dicapai pada Konferensi Berlin 1884- 1885, ketika seluruh kekuatan Eropa bertemu dan membagi-bagi teritorial mereka atas Benua Afrika. Kanselir Jerman, Otto van Bismarck, menggagas pertemuan itu untuk menghindari konflik internal di kalangan bangsa Eropa. 

Motif Sebelum memahami kolonialisme bangsa- bangsa Eropa di Afrika, kita dihadapkan pada pertanyaan kunci. Mengapa orang Eropa begitu tertarik untuk menancapkan kekuasaan di Afrika? Motif Eropa terhadap Afrika dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu politik, budaya, dan ekonomi. 

Motivasi politik didorong oleh politik persaingan antarnegara-negara Eropa untuk mendominasi dunia pada abad ke-18. Setiap negara berusaha meningkatkan gengsi dengan memperluas tanah jajahan. Semakin luas wilayah jajahan, semakin tinggi prestise bangsa tersebut di mata internasional. 

Sementara, alasan budaya pada kolonisasi berakar dalam etnosentrisme dan arogansi orang-orang Eropa, yang menganggap budaya suku Afrika lebih rendah. Dengan sejenis kesom bongan tertentu, orang-orang Eropa merasa memiliki tugas untuk `membudayakan\' 
dan `memperadabkan\' orang-orang Afrika. 

Keyakinan ini dilakukan melalui pengiriman para misionaris ke pelosok-pelosok Afrika.
Faktor ketiga adalah yang paling signifikan. 
Sumber daya alam Afrika merupakan komponen penting yang memotivasi kolonialisme Eropa. 
Pada awal 1800-an, perdagangan budak antara Afrika, Amerika, dan Eropa telah mengeksploitasi penduduk Afrika. Para budak ini dipekerjakan di lahan-lahan milik Eropa, dijadikan tentara, atau mengurusi hal-hal domestik. 

Setelah perdagangan budak perlahan dihapus, eksploitasi SDA menjadi target berikut nya. 
Jutawan pertambangan Cecil Rhodes, misalnya, mengeksploitasi tambang emas dan berlian di Afrika Selatan, serta memainkan peran penting dalam mengamankan kekuasaan Inggris atas Zimbabwe. Penguasaan Eropa atas wilayah- wilayah strategis di Afrika berguna untuk mempertahankan kontrol internasional. 

Bagi Inggris, Afrika Selatan menyediakan pelabuhan penting bagi pelayaran kapal-kapal mereka dalam perjalanan ke India. Mulai 1869, Terusan Suez di Mesir juga menciptakan rute yang lebih pendek antara Inggris dan koloninya, serta membentuk rute ke ladang minyak di Timur Tengah.
Vladimir Illich Lenin dalam Imperialism: 

The Highest State of Capitalism telah meng artikulasikan alasan ekonomi untuk perpanjangan kekuasaan di negara-negara dunia ketiga. Lenin berpendapat, negara-negara Eropa berusaha menjajah Afrika untuk menanggapi tuntutan yang melekat dari sistem ekonomi kapitalis. 

Masyarakat setempat didorong menanam tanaman yang laku keras di pasar Eropa, seperti kapas. Kelaparan terjadi di tanah tempat pe tani menanam tanaman ekspor untuk negara-negara imperialis, alih-alih mencukupi kebutuhan pangan mereka. Lagi-lagi, sistem kapitalis tidak hanya menuntut eksploitasi SDA yang dibutuhkan sebagai bahan baku utama revolusi industri di negara mereka, tetapi juga eksploitasi tenaga kerja murah yang berlimpah.

Dampak Kebijakan kolonial yang eksploitatif ini meninggalkan sejumlah kerugian. \"Ada eksploitasi besar-besaran di Afrika yang menyebabkan penipisan sumber daya, eksploitasi tenaga kerja, perpajakan yang tidak adil, kurangnya industrialisasi, larangan perdagangan antar- Afrika, dan pengenalan model tanaman satu jenis,\" kata Vincent B Khapoya.
 
 
Selain itu, masya rakat juga mengalami perampasan tanah dan transfer kekayaan mineral dari Afrika ke Eropa.
Kolonialisme di belahan dunia manapun selalu menyisakan trauma sejarah yang sukar dihapus. Kerugian yang dialami bukan hanya ke rusakan sumber daya alam, melainkan juga kegamangan identitas orang jajahan. 

Per saingan antaretnis terus bergema dalam konflik pascakemerdekaan di Afrika. Konflik ini di satu sisi merupakan warisan Inggris, yang melakukan kontrol lewat implementasi kebijakan pemerintahan tidak langsung `indirect rule\'. 

Ehiedu E G Iweriebor dari Hunter College, New York, dalam \"The Colonization of Africa menulis, sistem administrasi lokal yang dikenal sebagai aturan tidak langsung ini dijalankan dengan bekal aliansi yang sudah ada sebelumnya antara Inggris dengan penguasa lokal.

Keterasingan dan terganggunya pola otoritas tradisional Afrika selama berpuluh dekade masa kolonial juga membuat normalnya tatanan sosial lebih sulit. Penciptaan batas- batas buatan telah menjadi awal penderitaan rakyat di sejumlah negara Afrika karena konflik politik atas klaim teritorial.
 
 
Terakhir, penghancuran budaya dan nilai-nilai Afrika melalui pengenalan agama asing dan serangan terhadap nilai-nilai Afrika telah berkontribusi menciptakan mentalitas lemah dan hilangnya kepercayaan diri kulit hitam. Hal ini masih tampak jelas jejaknya, yang ditandai maraknya kasus-kasus rasisme.

Kendati demikian, kita tidak bisa menutup mata atas beberapa sisi positif yang didapat masyarakat Afrika dengan kehadiran peradaban Barat modern di sana. Pertama, pengenalan sistem kedokteran Barat, yang telah mendukung tingkat kelangsungan hidup orang- orang Afrika.
 
Kedua, pengenalan pendidikan formal. Ketiga, warisan infrastruktur, seperti jalan, rel, pelabuhan, telepon, listrik, dan sistem birokrasi. Meski, sisi destruktif yang didapat atas perilaku eksploitatif Eropa terhadap Afrika sangat tidak sebanding. 

Kekuatan kolonial Eropa mulai goyah seiring menguatnya paham nasionalisme dan kemerdekaan yang satu persatu diraih negara dunia ketiga pada abad ke-20. Kini, semua negara di Afrika telah meraih kemerdekaan. 
Tapi, kemiskinan masih menjadi bagian dari rakyat Afrika. Stereotip dan rasisme warisan kolonial begitu sukar dihapus. (c38, ed: nashih nashrullah)