Senin , 29 December 2014, 06:24 WIB

Pesantren Melahirkan Banyak Penulis Hebat (2-habis)

Red: Damanhuri Zuhri
IST
Habiburrahman El Shirazy.
Habiburrahman El Shirazy.

REPUBLIKA.CO.ID,

Karyanya yang terbaru adalah Api Tauhid, sebuah novel sejarah tentang perjuangan Syaikh Badiuzzaman Said  Nursi dari Turki. “Hampir semua novelnya sudah difilmkan dan disinetronkan, dan menjadi film terlaris maupun sinetron terbaik,” tuturnya.

Habiburrahman memiliki pengalaman menulis sejak duduk di sekolah menengah. Tidak hanya menulis novel, ia pun menulis puisi dan naskah drama menyutradarai pementasannya sekaligus.

Salah satu kunci sukses Habiburrahman adalah disiplin dalam menulis. Ia memakai metode target seperti para ulama zaman dahulu.

Para ulama tersebut mematok target membaca Alquran sekian halaman per hari. Kalau hari ini target tersebut tidak tercapai, maka pada hari berikutnya jumlahnya ditingkatkan untuk menggenapkan kekurangan pada hari sebelumnya.

“Demikian pula Habiburrahman dalam menulis memakai target sekian halaman per hari. Kalau target tersebut tidak tercapai pada hari itu, ia akan melipatgandakannnya pada hari berikutnya,” ujarnya.

Ahmad Fuadi merupakan salah satu penulis sukses Indonesia yang juga merupakan lulusan pondok pesantren. Ia telah menelurkan novel best seller Negeri 5  Menara, yang berhasil  mendapatkan beberapa penghargaan tingkat nasional dan telah difilmkan.

Kemudian disusul Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. “Novel Negeri 5 Menara berhasil mempopulerkan jargon yang biasa diajarkan di pondok pesantren, yakni Man jadda wa jadasiapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Kini bahkan orang non-Muslim pun banyak yang paham arti jargon tersebut,” papar Irwan.

Salah satu yang patut diteladani dari sosok Ahmad Fuadi adalah semangatnya yang luar biasa untuk terus mengasah ilmunya. Setelah lulus dari Unpad Bandung dan bekerja sebagai seorang wartawan, ia aktif mencari beasiswa kuliah di luar negeri.

Lelaki berdarah Minang itu tercatat sembilan kali mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Sehingga, mendapat kesempatan tinggal dan belajar di Kanada, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, dan Italia. Ia menguasai bahasa Arab, Inggris dan Perancis.

“Semangat Ahmad Fuadi untuk terus belajar dan berkarya layak dicontoh oleh para santri,” tutur Irwan memotivasi.