Ahad , 26 February 2017, 09:20 WIB

Pertemuan di Taman Hening

Red: Bayu Hermawan
Republika/Agung Supriyanto
Ilustrasi KDRT
Ilustrasi KDRT

REPUBLIKA.CO.ID, Tamparan berkali-kali dari lelaki itu membuat tubuh Sih terhuyung-huyung. Perempuan itu jatuh terduduk di sudut kamar setelah pelipisnya terbentur ujung lemari kayu yang lancip. Darah menetes dari sana, juga dari bibirnya yang seakan pecah. Ayo, pukul lagi, Kas! Pukul lagi! Matikan aku! Matikan! Suara itu menjelma raungan, tapi hanya mampu didengarnya dari bilik sanubari sendiri. Kas mendengus. Cuping hidung lelaki tegap itu membesar dan nafasnya terdengar begitu menderu. "Perempuan bodoh!" teriaknya sekali lagi sebelum ia membanting pintu.

Sih sudah tak punya air mata. Kebisuan kembali merengkuhnya. Ia rasakan sekujur tubuhnya menggigil. Ada dingin yang menyegat-nyengat, lalu luka yang menyergap-nyergap.

"Kita akan menikah, Sih. Kau yang paling perempuan di jagad ini. Aku tak akan melepaskanmu!"

Di mata Sih, senyuman Kas seperti lengkungan pelangi terbalik yang menghiasi cakrawala. Pendarnya menggetarkan pojok-pojok sunyi dalam galau diri Sih. Seperti juga Kas, pada waktu itu Sih tak pernah berpikir ada lelaki yang lebih sempurna, yang Tuhan ciptakan selain Kas. Kas hanya dapat dikalahkan oleh para Nabi, bukan oleh manusia biasa. Apakah yang tak dimiliki Kas? Ia mapan, keturunan baik-baik, berjiwa satria, tampan, pintar.... Lelaki macam mana lagi yang diperlukan seorang perempuan selain yang seperti itu?

"Aku tetap akan menulis. Bukan untuk membantumu atau keuangan kita, tapi untuk diriku sendiri. Dan kamu, Mas..., adalah inspirasiku yang tak pernah habis," katanya beberapa hari setelah menikah.

Kas mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menggoda Sih. Lesung pipitnya yang dalam tampak seketika. Lalu gemas ditekannya kedua pipi Sih dengan dua tangannya yang lebar dan kokoh.

"Kau boleh melakukan apa saja, Cinta," katanya bagai penyair pemula. "Tahukah kau? Aku menikahimu karena engkaulah pengarangku. Lagi pula, kalau kau ingin bekerja yang lain, silakan. Aku bukanlah seorang sipir dan rumah ini bukan penjara yang akan mengurungmu," bisiknya kemudian di telinga Sih.

Lima tahun. Lima tahun Kas dan Sih berumah tangga. Sih merasakan kebahagiaan bagai air terjun yang menyerbu dirinya. Ia mengenali pelangi semesta yang sama, yang dimiliki semua manusia, berpindah hanya memendari rumah mungil mereka.

Sih tak pernah berhenti mengarang, sesuatu yang ditekuninya jauh sebelum ia bertemu Kas. Sementara Kas masih pegawai negeri di kecamatan. Maka hari berkejaran di halaman waktu tak ubah kanak-kanak yang berlarian di lapangan luas tak jauh dari rumah mereka. Dan, saat mata Sih melihat seorang anak terjatuh, ia merasakan kembali keroak luka di batinnya.