Ahad , 05 February 2017, 09:38 WIB

Rumah Idaman

Red: Bayu Hermawan
ist
Memiliki rumah sendiri adalah idaman tiap orang.
Memiliki rumah sendiri adalah idaman tiap orang.

REPUBLIKA.CO.ID, Selesai makan, siang itu, seperti biasanya, Maman duduk santai di ruang tamu rumah kontrakannya sambil asyik membaca koran yang dibelinya di bis kota sepulang dari mengajar tadi. Biasanya Maman hanya sendiri saja menikmati korannya. Tapi, siang itu istri dan ketiga anaknya tiba-tiba ikut menimbrung. Maman merasa heran dan segera menghentikan bacaannya.

"Ada apa ini, kok tumben kalian ikut nimbrung duduk di sini?" tanyanya sambil meletakkan koran di atas meja.

Istri dan ketiga anaknya senyum-senyum penuh arti

"Ada apa ini?" desak Maman penuh selidik.

"Mm... anu, Pak, kita minta dibelikan rumah BTN yang sederhana," kata anaknya yang sulung, Santi, dengan takut-takut.

"Hah, kalian minta dibelikan rumah?" sontak mata Maman melotot.

"Iya, Pak. Masak kita menempati rumah kontrakan terus dan di daerah kumuh lagi," kata Adi, anaknya yang kedua, juga dengan suara takut-takut.

"Ada angin apa kalian ini, kok tiba-tiba minta dibelikan rumah BTN segala?" kata Maman dengan suara tinggi dan mata tetap melotot. "Hah, ada apa? Apa kalian pikir Bapak ini sudah diangkat jadi pegawai negeri?"

"Bukan begitu, Pak," sahut istrinya dengan suara tenang. "Aku pikir, anak-anak kini sudah besar. Santi, anak sulung kita, sudah duduk di bangku SMA. Jadi sudah sepatutnya kalau kita menempati rumah yang lebih layak untuk dihuni."

"O, jadi Ibu sudah enggak betah tinggal di rumah kontrakan ini, lantas minta dukungan anak-anak, supaya Bapak mau mengambil rumah BTN?" tatapan tajam Maman terarah pada istrinya. "Ingat, Bu, ingat, sudah 17 tahun kita mengontrak rumah ini dan tidak pernah pindah, karena harga sewanya sesuai dengan gajiku sebagai guru honorer."

"Nggak kok, Pak, Ibu nggak minta dukungan," Santi menyela. "Tapi saya juga ingin tinggal di rumah BTN yang sederhana. Karena, rumahnya cukup bagus, dengan tata letak yang juga bagus, jalan-jalannya diaspal, dan lingkungannya bersih. Sehingga kalau suatu saat nanti mengajak teman-teman main ke rumah, saya nggak merasa malu, Pak."

Tatapan tajam Maman kini tertuju pada putri sulungnya. "Iya, Santi, Bapak menyadari keinginanmu. Tapi kamu juga harus ingat, ngambil rumah BTN itu sekarang ini uang mukanya sangat tinggi! Dari mana Bapakmu ini punya uang sebanyak itu? Belum lagi nanti cicilannya. Ingat, Bapakmu ini hanya sebagai guru honorer!"

"Alah, guru kan masih lebih hebat daripada pegawai konveksi seperti Pak Budi bekas tetangga kita itu?" Adi yang kini duduk di kelas III SLTP itu kembali bersuara. "Pak Budi bisa mengambil rumah BTN yang sederhana, kenapa Bapak tidak bisa?"

Kali ini Maman terdiam. Ia tak mampu berkomentar lagi. Kata-kata anaknya yang nomer dua itu serasa panah yang membidik tepat di ulu hatinya. Maman menghela napas panjang. Sejenak, timbul rasa frustasi di hatinya. Ia kecewa, karena istrinya belum dapat sepenuhnya memahami profesinya. Profesi guru memang cukup terhormat. Tapi berapa sih gaji guru honorer? Hanya sedikit di atas gaji pembantu rumah tangga!