Sabtu , 04 February 2017, 12:47 WIB

Pemandi Jenazah

Red: Bayu Hermawan
.
jenazah. Ilustrasi
jenazah. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Bahrum merasa terkejut tatkala Dahlia minta agar dia tak usah memandikan mayat lagi. Padahal sudah belasan jenazah yang pernah dimandikan dan dikafani oleh Bahrum. "Mungkinkah Dahlia merasa malu karena suaminya menjadi pemandi jenazah?" ayah dari tiga anak itu membatin.

"Ah tidak mungkin!" bantah pikirannya sendiri. "Kalau dia malu mestinya sejak dulu ia tidak setuju saya memandikan mayat. Atau jangan-jangan ia pernah dihantui oleh salah satu almarhum yang jasadnya saya urus?"

Kabarnya, arwah Donny sempat gentayangan. Jasad pemuda, yang meninggal dua bulan lalu, itu diurus Bahrum. Namun, Bahrum tidak mendapati keanehan apa-apa setelah mengurusi mayat anak Darman itu. Ia tak pernah dihantui pemuda yang meninggal lantaran bunuh diri itu.

"Apa mungkin istri saya dihantui almarhum?"

"Bagaimana, Pak?" ujar Dahlia membuyarkan pikiran Bahrum.

Bahrum masih diam.

"Toh yang bisa memandikan jenazah di kampung kita bukan hanya Bapak. Paling tidak masih ada tiga orang lagi setelah Pak Rifai pindah dari sini."

Bahrum diam lagi.

Semula pekerjaan memandikan mayat di kampung itu menjadi tanggung jawab Kadir. Namun, sejak Kadir meninggal, lantas dipercayakan kepada Bahrum. Ketika Kadir meninggal dunia Bahrum yang mengurus mayat almarhum. Karena, Mukhlisin langsung berangkat kerja setelah takziah. Padahal, suami Naneh ini sering bolos kerja.

Pegawai negeri sebuah departeman itu, hampir dipastikan, tidak pernah penuh lima hari bekerja dalam sepekannya. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah, "Tidak ada pekerjaan di kantor, lebih baik tak usah masuk."

Lain pula dengan Ali. Lelaki berperawakan tinggi besar ini merasa tidak siap memandikan jenazah almarhum Kadir. Alasannya, sedang demam dan tak siap kena air.
"Dari kemarin saya juga belum mandi," katanya, tatkala Pak Madun, Ketua RW, menanyakan kesiapan Ali untuk memandikan jenazah almarhum.

"Orang lain saja, Pak RW."

Pak Madun diam.

"Pak Farhan dan Pak Rifai juga bisa," kata Ali.

"Iya, ya," jawab ketua RW, tidak bersemangat. Ia sudah menduga Ali akan beralasan demikian. Sebab Ali bukan orang yang siap berurusan dengan mayat.

Pak Madun sempat bingung. Karena, tidak tahu kepada siapa ia harus minta tolong untuk memandikan jenazah salah seorang warganya. Padahal, almarhum adalah orang yang selama ini selalu memandikan mayat di lingkungannya. Sementara, dua nama yang disebutkan Ali tidak kelihatan di rumah duka.

"Sudah ada yang memandikan, Pak?" tanya Bahrum, yang baru datang di rumah duka, tatkala Pak Madun hendak menyuruh seseorang untuk menghubungi salah satu dari dua nama yang disebutkan Ali.

"Sekarang saya baru mau suruh Pak Pendi ke rumah."

"Lho, Pak Ali kan bisa?" potong Bahrum, tatkala ia melihat Ali ada di sana.

Pak Madun menggeleng. Lalu menyebutkan alasannya kenapa Ali tidak siap untuk memandikan jenazah, sebagaimana dituturkan lelaki itu.

"Ya, sudah kalau begitu," kata lelaki yang kegiatan sehari-harinya menjadi tukang ojek itu, "Biar nanti saya yang memandikan."

"Apa, Pak Bahrum...."

"Insya Allah saya siap, Pak RW," Bahrum memotong kalimat Pak Madun untuk kedua kalinya.