Sabtu , 28 Januari 2017, 10:00 WIB

Kucing Tetangga

Red: Bayu Hermawan
kucing, cerpen, cerpen republika,
Kucing (ilustrasi)
Kucing (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Istriku tiba-tiba jadi pembenci kucing nomor satu. Tiap ada kucing mendongakkan kepalanya ke celah pagar halaman rumah kami, dia langsung menghardiknya. Yang berhasil menerobos masuk barangkali akan digebuknya.

Kucing-kucing itu milik Nyonya Siska, tetangga kami seblok. Dia istri Idris, oknum pejabat Pemda yang mendadak kaya. Rumah gedung dua pintu mereka penuh kucing kampung dan kucing angora. Karena bau kucing-kucing itu, istriku jadi tak menyukai Bu Idris, seperti haram baginya menginjakkan kaki di rumahnya.

"Begitu kita masuk, Yah, sudah tercium bau tahi kucing di mana-mana. Sofa dan kursi meja makan yang mahal-mahal pun sobek-sobek dicakar kucing," kata istriku.

"Dan, dibiarkan. Paling, katanya, Pus, atau Linda, jangan begitu. Itu kursi mahal. Huh, gemas aku."

"Tapi, katamu, kau belum pernah ke rumahnya," kataku.

"Memang," jawabnya tangkas. "Tapi, kan tercium dari luar pagar."

"Lalu, sofanya yang cabik-cabik?"

"Ibu-ibu bilang begitu!"

Kebencian istriku menjadi-jadi ketika musim kucing kawin tiba. Suara jeritannya sama riuhnya dengan jeritan kucing hendak bersenggama.

"Jangan-jangan kau benci pada pemiliknya, bukan pada piaraannya itu," kataku menggoda.

"Apa?!" istriku berteriak gusar.

"Kau iri pada kekayaan mereka."

"Apa? Yang ia curi bukan milikku, tapi milik rakyat dan negara. Lagi pula, hampir semua pejabat negeri ini koruptor. Tambah satu..., kecil."

"Husss!"

"Bodo!"

Yang suka berkeliaran di depan rumah kami kebanyakan kucing kampung, yang dibiarkan mencari makan sendiri. Sedangkan kucing angora ia kurung di rumah dan dibelikan ikan, daging, serta susu. Itu sebabnya, kata gunjingan, para pembantu rumah tangga jarang betah bekerja di rumah Bu Idris. Mereka hanya kebagian tahu dan tempe.

Kalau ada kucing sakit, dibawa ke dokter hewan. Tapi, ketika para pembantu sakit, paling dibelikan aspirin atau jamu tolak angin. Namun, kepada ibu-ibu tetangganya, Bu Idris berdalih, "Saya sendiri makan tahu-tempe. Saya juga suka minum jamu."