Rabu , 25 January 2017, 07:00 WIB

Cerita Bohong di Siang Bolong

Red: Bayu Hermawan
kiwicommons.com
Bohong/ilustrasi
Bohong/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Kampung Polandak gempar. Persis selepas Dhuhur, seorang pemuda dikabarkan terbenam sebatas leher di kuburan ibunya, selang ia meletakkan jenazah wanita itu di peristirahatan terakhirnya. Setelah jenazah wanita yang meninggal saat shalat itu tergolek di lubang kubur, si anak membuka tali pengebat kain kafan, dan tiba-tiba tanah di sisi kuburan longsor menimbunnya.

Laksana angin, kabar itu cepat tersebar luas ke pelosok kampung. Warga terperangah. Semua orang heboh. Di setiap penjuru kampung, di pangkalan ojek, di mushala dan juga warung-warung rokok serta terminal, cerita ganjil itu jadi bahan gunjingan.

"Itu azab Allah yang sudah sepantasnya diterima oleh seorang anak durhaka. Bagaimana tidak? Lantaran si ibu tak menuruti permintaannya untuk dibelikan motor, kok ia menjadi gelap mata dan tega membunuh ibunya sendiri yang sedang shalat," ceracau Mak Turi, janda pemilik warung rokok di kampung Sumber Girang, sekitar 10 km dari kampung Polandak.

"Lho, Mak Turi tahu dari mana?" tanya Mak Sri, yang kebetulan sedang membeli gula pasir dan obat nyamuk bakar di warung Mak Turi.

"Tadi ada tukang ojek yang bercerita saat membeli rokok di sini," jawabnya dengan sombong karena dia merasa selalu mendapat kabar lebih dulu dibanding orang-orang lain di kampungnya. "Apa Mak Sri tidak ingin datang ke Polandak untuk melihat?"

"Apa cerita itu benar? Apa Mak Turi percaya?" tanya Mak Sri ragu.

 "Semua orang sudah tahu tentang cerita ini! Maka, cepat, Mak! Saya aja mau tutup karena mau pergi ke sana untuk melihat wajah pemuda durhaka itu!"

Tergopoh-gopoh Mak Sri segera beranjak pergi dari warung Mak Turi. Ia sudah tak sabar ingin mengajak kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar supaya bisa melihat kejadian yang ganjil tersebut. Apalagi, Mak Sri selama ini hanya melihat keganjilan seperti itu di televisi.

Usai berdandan seadanya, tak perlu membasuh muka dan hanya menyampirkan selendang yang lusuh di pundak, Mak Sri langsung menggeret kedua tangan anaknya, Slamet dan Bejo.

"Siang ini, emak akan mengajak kalian berdua pergi ke Polandak! Akan emak tunjukkan pada kalian bagaimana pemuda yang durhaka pada ibunya itu diadzab oleh Allah."

"Tapi Slamet mau main layang-layang, Mak," bantah Slamet, anak pertama Mak Sri yang sudah duduk di kelas empat SD.

Dengan gesit, Slamet pun menarik tangannya dari genggaman tangan Mak Sri untuk melepaskan diri. Tetapi, genggaman tangan emaknya cukup kuat untuk dilerai. Slamet tak bisa berkutik.

"Untuk siang ini, tak ada main layangan. Tetapi, emak berjanji nanti akan membelikan kalian layang-layang dan benang baru dari toko," bujuk Mak Sri pada kedua anaknya.

Slamat dan Bejo langsung girang. "Saya mau ikut, asal mak tak bohong!" kata Slamet dan Bejo nyaris serentak.

"Tapi, nanti sepulang dari sana!"

Muka Slamet dan Bejo pun merona riang. Maka kedua bocah kecil itu diam dan menurut ketika Mak Sri menggeret kedua tangannya keluar rumah.

Tergesa-gesa, Mak Sri mengunci pintu rumah, lantas menggapit kedua tangan anaknya dan melangkahkan kaki ke perempatan jalan.