Tuesday, 27 Zulhijjah 1435 / 21 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Brambang Pun Menggugat*

Tuesday, 19 March 2013, 17:00 WIB
Komentar : 1
Bawang merah
Bawang merah

REPUBLIKA.CO.ID, Malam itu aku makan pecel lele di warung seberang kosan. Sambil membaca koran pagi yang sudah lecuh, aku melahapnya sampai habis. Tak ada yang tersisa, kecuali tulang dan bagian kepala lele.
 
Namun, ketika hendak mencuci tangan, tak sadarkan diri seiris brambang goreng sisa campuran sambal menempel di jari telunjukku. Saat aku perhatikan dengan serius, aku langsung teringat dengan headline koran yang kubaca barusan: di berbagai daerah harga brambang melonjak tinggi.
 
Secara spontan kujumput brambang goreng tersebut lalu aku taruh di depan mukaku dan kemudian aku ajak omong.
 
“Hai Brambang,” sapaku.
 
Ia tak menjawab.
 
“Hai Brambang,” sapaku lagi.
 
Ia masih saja tak menjawab.
 
“Hia Bambang,” sapaku lagi sedikit membentak.
 
Kali ini ia menjawab. “Aku bukan Bambang. Aku Brambang.”
 
“Oh ya maaf ,” kataku sopan, karena salah menyebutnya.
 
“Ada apa?” dia giliran bertanya.
 
“Kau tahu mengapa aku mengajakmu ngobrol?”
 
“Nggak,” jawabnya tegas.
 
“Dengarkan baik-baik.” Aku segara membenahi posisi dudukku. Bak seorang penyidik, aku menginterogasinya.
 
“Beberapa hari terakhir ini apa saja yang telah kau lakukan sehingga membuat resah banyak orang, mulai dari ibu-ibu rumahtangga, penjual sayur di pasar, hingga pemerintah?”
 
“Emang aku berbuat apa dan salah apa?” ia pura-pura tak tahu.
 
“Jangan berlagak nggak tahu!” aku membentak.
 
“Sungguh aku tak tahu.”
 
“Bohong kau!”
 
“Ya elah, aku serius.”
 
Ia mengelak, aku pun kemudian mencekiknya kuat-kuat dengan jariku.
 
“Lepaskan,” ia memberontak.
 
“Aku nggak akan melepaskanmu sebelum kamu menjawab pertanyaanku tadi.”
 
“Sakit. Beneran sakit. Tolong lepaskan.” Ia meronta-ronta kesakitan.
 
Tanpa aku hiraukan dan ia masih aku cekik kuat-kuat, seorang pembeli di sampingku bertanya ke mas yang jual perihal harga satu porsi pecel lele yang barusan ia makan.
 
“Maaf mas, bukan tujuh ribu tapi delapan ribu. Masalahnya harga brambang naik,” kata si mas yang jual.
 
“Kau dengar apa yang dikatakan mas penjual tadi?” Aku menginterogasinya kembali.
 
Ia membisu.
 
“Kau dengar nggak?” kali ini aku menempelengnya. “Kau membuat kami harus mengelurkan uang lebih hanya untuk menikmati seporsi pecel lele. Kau telah membuat ibu-ibu rumah tangga menjerit. Hargamu empat kali lebih mahal dari per kilogram daging ayam potong. Di Jawa Timur hargamu meroket tajam. Kau telah berkomplot dengan saudara kembarmu mempermainkan harga pasar.”
 
“Yes. Aku berhasil!” ia berjingkrak kegirangan.
 
“Hai bangsat! Kau malah tertawa.”
 
“Hahahaha…..” ia tertawa puas. “Aku telah berhasil mencuri perhatian kalian.”
 
“Maksudmu?”
 
“Selama ini kalian telah menyepelehkan dan melihatku sebelah mata. Kalian lebih sibuk mengurus korupsi impor daging sapi daripada nasib kami. Jangan salahkan kami bila kami berulah. Kalian lebih memilih barang-barang impor dan enggan berupaya memproduksi (menanam) sendiri. Kalian telah menelantarkan dan mendholimi para petani brambang. Gilaran mereka meraup untung besar dari hasil panennya, kalian menyalahkan mereka. Mana rasa keadilanmu.”
 
“Diam!” Aku berteriak membentaknya.
 
“Kini kalian tahu, hai manusia, bahwa aku lebih penting daripada dari daging sapi, tomat, cabe!” katanya dengan menahan rasa sakit. “Selama ini kalian aggap aku barang tak berharga. Egois! Kau tetap menganggap kami tak pernah ada.”
 
Aku mengendorkan cekikan. Aku tak lagi bisa berkata-kata. Aku mulia bersimpati denganya. Selama ini kita manusia memang tak pernah merasa para brambang itu ada. Kita terlalu memandang penting barang-barang mewah (mobil, komputer, hp, gadget dll) daripada mereka.
 
“Maafkan aku bang, Bambang.”
 
“Dibilangin kok ngeyel. Aku ini bukan Bambang,” ia balik membentakku. “Aku ini brambang. Kalau mau minta maaf jangan kepadaku, mohonlah kepada yang menciptakan dan merawatku.”
 
“Siapa itu?”
 
“Kok malah balik tanya. Yang pasti bukan Bambang presidenmu itu.”[]
 
*) Tulisan ini terilhami dari buku Belajar Tidak Bicara Solilokui Farid Gaban



Penulis: Nurhadi
Mahasiswa Departemen Matematika IPB Semester 10



Redaktur : Nidia Zuraya
Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Berarak Riuh Menuju Istana
JAKARTA -- Setelah resmi dilantik, Joko Widodo dan Jusuf Kalla melanjutkan agendanya ke Istana Negara. Perjalanan ke Istana Negara dilalui dengan menaiki kereta...